
"Apa yang kalian lakukan sedari tadi di kamar berdua?" Ayahnya datang. Mengintimidasi Rena, ia takut anaknya di apa-apakan oleh Nean.
"Ayah tidak ada, tuan Nean hanya membantu ku." ujar Rena.
"Membantu apa? Membantu membersihkan diri," lirihnya.
"Ayah sudah lah, jangan membuat Tuan Nean merasa tidak enak.
"Nean, kau masih punya kerja kan? Pulang lah, terima kasih karena sudah menjaga anak ku selama aku tidak ada." Ujar pak Samsul.
Bisakah aku disini lebih lama lagi? Batin Nean.
"Baiklah om, aku permisi dulu. Jika keadaan mu masih belum pulih. Cuti lah hingga tangan mu kembali semula. Permisi," Nean langsung pergi meninggalkan mereka.
"Ayah enggak tahu watak nya bagaimana," pak Samsul terus berceloteh hingga Rena tertidur.
****
Keesokan harinya, Rena terbangun karena suara ayahnya yang membangunkannya.
"Ada apa ayah?" Rena mengucek matanya.
"Dokter sudah memeriksa mu saat kau tidur. Ia mengatakan, hari ini atau besok kau sudah boleh pulang." ujar pak Samsul.
"Lalu ayah memutuskan hari apa aku pulang?" Tanya Rena bersandar malas menanggapi ayahnya.
"Sekarang, jadi bersiap-siap lah. Suster akan kemari melepas infus di tangan mu."
"Huh, ayah aku akan tidur sebentar. Ini masih terlalu pagi!" Ujar Rena sangat malas.
"Jangan jadi anak pemalas! ayo bangun!" ujar pak Samsul dengan kasar membangunkan anaknya.
"Ayah!!" Rengek Rena.
15 menit kemudian, sama yang di katakan oleh ayah Rena. 2 perawat datang untuk melepas infus Rena. Satu nya laki-laki dan satu nya perempuan.
"Jangan kasar-kasar sakit," ujar Rena ketus.
Membuat dua perawat itu saling pandang hingga mengangguk menjawab. Rena yang masih malas untuk bangun itu hanya melirik malas ke arah perawat yang sedang melepas infusnya.
5 menit kemudian, kedua perawat itu pergi. Bersamaan dengan Rena yang sudah menghilangkan rasa kantuknya setelah infus itu terlepas dari tangannya.
Karena ia sudah memakai baju seperti biasanya. Ia pun keluar meninggalkan ruangan tempat ia menginap bersama ayahnya di sebelahnya.
Pak Samsul hanya melangkahkan kakinya mengikuti langkahan kaki anaknya.
Hingga dirinya memencet tombol lift menuju lantai dasar.
Setelah sampai ke lantai dasar, mereka langsung keluar untuk mencari taksi.
"Kita mampir ke restoran dulu ya, sarapan. Supaya kamu sehat," ujar pak Samsul.
"Iya," jawab Rena singkat.
"Resto lavender," ujar pak Samsul.
"Baik pak," jawab si sopir.
Pak Samsul terus memperhatikan handphonenya. Sesekali ia menjawab telpon dari tempat bisnisnya.
Rena tak merespon, ia lebih memilih mengedarkan pandangannya ke luar jendela.
Kedua tangannya ia taruh di atas kedua paha nya.
Ketika di perjalanan, ia menangkap sosok yang kenal berhenti di depan supermarket.
Ia membuka jendelanya setengah, mengedarkan pandangannya terus ke pria yang keluar dari mobil bersama anak kecil ia gandeng.
"Pak Nean dengan Vano?" Ujar Rena bergumam.
"Rena tutup jendela nya nak, bahaya!" ujar pak Samsul memeringati tanpa melirik ke arah Rena.
"Iya yah," jawab Rena menaikkan kembali jendela taksi.
Pikiran Rena terus melayang memikirkan pak Nean dan Vano yang mengunjungi supermarket.
Hingga tanpa sadar, mereka telah sampai ke tujuan.
"Nak ayo keluar. Kau melamun kan apa? Dari tadi kau melamun." Ujar pak Samsul.
"Gak ada apa-apa yah, ayah gak turun?" Tanya Rena.
"Hehe, ayah ada urusan Ren. Mau gak mau kamu ya yang beli, teman ayah sudah sampai di Indonesia. Jadi ayah mau menjemputnya di bandara, kamu beli ajah. Ini uang nya," ujar nya memberikan beberapa lembar uang merah.
"Tapi yah.." Rasanya berat ia harus keluar sendirian.
"Maaf nak, ibu mu belum makan. Kalo ada waktu kamu juga belanja ke supermarket, dahh." Ayahnya melambaikan tangan begitu taksi melaju meninggalkan Rena di restoran.
"Ayah gak Adil idieh!" Geram Rena.
Tap! Tap! Tap!
Rena menghentakkan kaki memasuki restoran.
"Friends chicken satu, potato cheese satu ya. Lemon tea sebagai pelengkap makanannya, di bungkus!" ujar Rena.
"Baik, ada lagi?" Sembari mem-totalkan jumlah pembelian Rena.
"Tidak ada," ujar Rena.
"Baik, terima kasih selamat mengunjungi kembali."
Rena mengangguk pelan, ia menentang barang belanjaannya keluar dari restoran.
Malas mencari taksi ataupun menunggu taksi, ia lebih memilih berjalan.
Ia juga tahu, di dekatnya ada halte bus.
Ia lebih memilih menaiki bus dari pada menaiki taksi yang menurutnya lebih mahal.
15 menit menunggu, ia mengedarkan pandangan nya ke-sekitar.
Sebuah mobil sport hitam berhenti di depannya.
Mungkin mau menjemput seseorang kali. Batin Rena
Ia lebih memilih cuek dari pada ke PD an.
"Mommy!!" Teriak bocah.
Rena kembali mengedarkan pandangannya ke arah bocah yang menutup pintu mobil dengan keras lalu berlari ke arahnya.
"Vano, kau dari mana?" Tanya Rena menatap Vano yang memeluknya.
"Mommy, aku rindu!" ujar Vano cemberut.
"Iya sayang, kakak juga rindu kepada mu." Ujar Rena mencium kening Vano.
Ia tidak mau membuat Vano terus memanggilnya dengan sebutan 'Mommy'
Karena itu ia jauh lebih memilih memanggil dirinya sebagai kakak.
"Masuk lah, jangan membuat mobil lain memarahi kita." Tegur Nean dari dalam.
"Ayo mommy," ujar Vano menarik tangan Rena.
"Aduh, pelan-pelan Vano.." ujar Rena merintih ketika tangannya yang sakit di tarik oleh Vano.
"Ayo masuk!" Ujar Vano dengan tegas mendorong Rena memasuki kursi sebelah Nean.
"Eh Vano, tapi.." Rena menjadi gugup saat Vano memaksanya untuk duduk di sebelah Nean.
"Sudah ayo jalan!" Ujar Vano bersemangat