My Parent'S

My Parent'S
Chapter 36_Pertengkaran di mall.



Lebih memilih untuk pergi dan melupakan apa yang terjadi di rumah supaya tidak beban pikiran.


Sedangkan Vano, ia naik ke kasur dan melipat kedua kakinya. Memeluknya. Rena


yang melihat itu langsung menoleh ke arah Vano. Menguncir rambut dan berjalan


ke arahnya.


"Vano, you fine?"


"Yeah mom, i'm fine." Lesu.


Rena menghela nafas ,"Ini lah salah satu alasan mengapa aku tidak membiarkan mu untuk tinggal disini. Kau masih terlalu kecil untuk tau permasalahan keluarga," Seolah tau apa yang terjadi. Karena Rena juga sudah tau, seberapa


bencinya ayahnya kepada keluarga


Nean. Dan menghitung seberapa lama mereka makan.


Jika lebih dari 10 menit mungkin ada perbincangan di antara mereka. Setiap detail ia sangat memperhatikannya demi kenyamanan bersama. Fikirnya.


"Mommy, apakah kalian tidak bisa bersatu dengan Daddy?" Memelas ke arah Rena.


Membuat Rena tersenyum melihat ekspresi


Vano. Namun disisi lain, hatinya juga bimbang. Rena menggelengkan kepalanya.


"Jangan memikirkan hal itu, mari bersenang-senang." ujar Rena mengacak rambut Vano.


"Kemana? Bukan kah mommy akan merawat Oma 2?" bertanya dengan polosnya.


Rena terkekeh ,"Mana ada? ibu ku berada di asrama khusus untuk terapi kaki. Jadi kakak hanya tinggal berdua dengan ayah," ujarnya.


"Jadi opa 2 berbohong?" melotot kan matanya tak percaya.


Rena mengangguk. "Jangan masukin ke hati ya, nanti nangis." dengan senyuman untuk menghibur.


"Yeah, aku akan membersihkan diri dulu." ujar nya.


Rena mengangguk. "Cepatlah, di lemari bagian bawah ada setumpuk baju yang di titipkan ayah mu sewaktu-waktu kau disini. Aku akan pergi makan malam dulu," ujar Rena.


"Yes mom!" ujar nya bangkit dari kasur lalu ke kamar mandi.


Rena beranjak dan berjalan keluar dari kamarnya ke arah meja makan. Mengingat ucapan ayahnya yang sempat ia dengar membuatnya menghela nafas.


"Vano, kau tidak akan pernah mengerti dengan masalah kami." Gumam Rena dengan suara lirih.


Rena menghela nafas dan mulai menyajikan makanan untuk dirinya sendiri.


20 menit setelah rambut di keringkan, dengan memakai pakaian yang elegan. Vano keluar dari kamar dengan topi di kepalanya. ia menatap Rena yang menunggu di ruang tamu.


"Mommy," ujar Vano memanggil.


Rena melirik, karena terlalu fokus dengan handphone nya ia melihat penampilan Vano untuk kedua kalinya. Dan ia sangat kagum dengannya.


"Fashion yang bagus Vano!"


"Thanks mom," ujar Vano dengan senyuman.


"Kita pergi?" tanya Rena membuat Vano mengangguk.


"Go!" Menggandeng tangan Vano dan mengunci rumah.


Berjalan ke halte bus dengan senyuman merekah. "Mommy, tau. Ada satu makanan yang di gemari oleh Daddy,"


"Oh ya, apa itu? Kau juga menyukainya, terlihat kau sangat bersemangat membicarakan makanan hm??" mengacak gemas rambut Vano.


"Haihh, mommy! Aku juga sangat menyukainya. Itu adalah makanan yang terfavorit bagi kami. Kata ayah, makanan itu juga makanan favorit ibu ku." ujarnya.


"What?apa itu Vano? Aku rasa juga perlu mencoba nya," Memutar bola matanya ke atas seraya memikirkan sesuatu.


"Wajib mommy, setelah berbelanja kita akan kesana." ujar Vano dengan senyuman.


Rena mengangguk, ia menatap bus yang baru datang. Dengan cepat ia membantu Vano untuk naik dan duduk di kursi penumpang. Membiarkan supir untuk mengantar mereka ke tempat tujuan.


Beberapa halte telah mereka lewati, untuk kali ini mereka turun dari halte ke 4. Berjalan ke arah pusat pembelanjaan yang terkenal disana. Dengan menggandeng Vano yang selaku sebagai anak nya untuk sementara waktu. Jika di tanyai identitas.


Berjalan mengelewati orang - orang yang berlalu lalang menuju sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi mereka. Toko pakaian.


"Mommy mau beli buat siapa?" tanya Vano menatap mommy nya.


Rena mendengar hal itu langsung melirik. Ia hanya menggelengkan kepala tidak tau. Hanya saja ia perlu sesuatu di sana. Vano pun mengedikkan bahunya acuh. Berjalan ke arah sofa sembari bermain game. Menunggu mommy nya yang sedang berbicara dengan seseorang.


"Oh, orang kaya ya?" kata gadis itu.


Vano melirik gadis itu dan terkekeh. Tampilannya bahkan seperti preman ngelawak. Hanya saja kelaminnya perempuan, jika laki-laki sudah pasti akan Vano ejek.


"Kenapa kau menertawai ku?" katanya.


"Kau ingin apa disini? Membeli toko ini? Pfft-" kata Vano sembari menahan tawanya.


Gadis itu menatap tajam ke arah Vano. Menegakkan tubuh nya dan menghadap ke arahnya.


"Kau menertawai ku hanya karena sebuah tampilan?" katanya terdengar seperti menantang.


Vano menggelengkan kepalanya, "Tidak, lucu saja. Kau perempuan tapi tingkah laku mu seperti laki-laki. Manusia jadi-jadian ya?" ejek Vano.


Gadis itu geram, "Jangan menertawai ku, laki-laki lemah!"


"Aku tidak lemah?!!" kata Vano membela diri. Ia marah karena di ejek lemah.


"Tubuh mu saja tidak kekar seperti Daddy ku! Wajah mu saja seperti wanita. Apa yang pantas di banggakan akan tubuh mu? Sifat mu saja terdengar pengecut," kata nya.


Vano geram dan bertengkar dengan gadis kecil itu. Muncullah adegan dimana mereka bertengkar dan membuat keributan. Baju gamis bahkan compang-camping karena di sobek oleh gadis itu dalam beberapa waktu.


Sadar akan hal itu, Rena dan ibu gadis itu segera melerai dan membawa mereka saling jauh satu sama lain.


"Astaga, Andina apa yang kau lakukan nak! Kenapa kau bertengkar lagi!" kata ibunya terhadap anaknya.


"Dia yang mulai, dia menertawai ku Bu!" kata nya menunjuk tajam ke arah Vano.


"Kau gadis jelek yang berperilaku sok kuat!" Ejek Vano dengan suara lantang.


"Kau.."


"Sudah sudah Andina. Ayo minta maaf," kata ibunya membuat Andina menggeleng kuat.


"Tidak mau enak saja! seharusnya pria yang menurunkan harga dirinya terhadap wanita yang suci!" kata Andina.


"Suci? Hueek, aku akan lari keliling kota dengan baju terbuka jika kau wanita suci!" kata Vano mengejek dan melantangkan suaranya.


"Apakah ucapan mu patut di percaya, hah!!" Tegas Andina.


"Tentu saja, tidak ada alasan untuk tidak mempercayai ku!!" kata Vano melotot ke arahnya.


"Heleh, akan ku hajar kau jika besar nanti!" Kata Andina dengan suara mengancam.


"Astaga hentikan berdebatan ini! Apa kalian tidak capek berdebat seperti ini huh? Lihat pengunjung jadi takut karena perdebatan kalian. Ayo, salah satu di antara kalian harus minta maaf." kata ibu Andina.


"Tidak mau!" Kompak mereka berbicara membuat Rena dan ibu Andina sontak terkejut.


"Jika tidak, kalian tidak akan pernah bersatu." kata ibu Andina dengan suara mengancam.


"Bu! Siapa yang mau bersatu sama pria culun kayaknya." kata Andina dengan tidak suka. Mendengar ucapan ibunya seketika darahnya mendidih.


"Siapa juga yang mau seperti gadis galak kayak kamu!" kata Vano tajam.


"Pria gempel," ejek Andina.


"Astaga diam Andina! Ke kamar mandi dan ganti baju mu!" kata nya mendorong Andina untuk pergi ke ruang ganti.


"Pria gembel, pftt-" ejek Andina dan berlari menjauh.


"Wanita tepos!"


"Hei Vano, siapa yang mengajari mu bicara seperti itu?" ucap Rena malu sekaligus kesal.


"Daddy, mommy juga tepos katanya." ujar Vano polos.


Wajah Rena memerah karena malu. Sementara ibu Andina yang mendengar itu langsung menahan tawanya.


"Maafkan tingkah laku anak saya ya Bu, sebagai gantinya biar saya yang memberi baju gratis kepada anak anda." katanya.


"Eh tidak usah Bu, kami-"


"Tidak apa-apa Bu, anak saya memang sikapnya pemberontak dan arogan. Tolong maafkan kesalahan kami, biar saya menebusnya dengan baju di toko saya."


"Haduh maaf merepotkan ya Bu," kata Rena dengan sopan.


"Tidak apa-apa Bu," katanya dan pergi mengambil baju untuk Vano.