My Parent'S

My Parent'S
Chapter 22_Permainan yang gagal



Perdebatan itu pun di hentikan, Nean tak menggubris keberadaan Rena lagi. Ada meeting dari pembisnis besar, membuatnya harus mengalah. Toh, gak ada salah nya juga dia pergi dan mengabaikannya.


"Huh, untung dia pergi.. " ucap Rena menghela nafas.


"Dasar ya, kalo wanita jalang ya wanita jalang. Jangan sok tangguh, kek sampah." sindir seseorang wanita disana.


Rena hanya melirik, tak menggubris lagi pula itu hanya cibiran mengenai dirinya. Tidak dengan orang tuanya.


"Lihat tuh, benar benar ya. Enggak ada harga diri, bahkan enggak menoleh sama sekali." ucap temannya bernama Cindy.


"Eh mbak, mbak bekerja di revisi berapa? Lantai berapa?" tanya melati. Seseorang yang menempati kinerja resepsionis. Tak menghiraukan cibiran mereka mengenai Rena, ia malah kepo tentang pegawai baru itu.


"Sekertaris, soal.. lantai nya sih aku enggak tau. waktu aku naik lift, gak ada tombol nya.. " ucap Rena pelan namun masih di dengar oleh melati


"Itu kan lift khusus Presdir mbak! Kalo mau ke ruangannya khusus menggunakan lift itu! Aku pernah menaiki nya, enak mbak. Enggak kayak pertama kali waktu aku naik lift, nyaman dan wangi gitu." ucap melati


"Ya biasa biasa saja gak ada efek apapun, kau yang terlalu melebih lebihkannya." ucap Rena menggelengkan kepalanya.


"Tapi beneran Lo mbak, eh iya.. btw.. ini ni mbak, mau minta nomor, semenjak 2 bulan sekertaris Presdir meninggalkan kantor. Ia tak pernah kembali, mau dongg nomor mbak Rena." ucap melati.


"Tau dari mana nama saya?" tanya Rena sembari mengeluarkan handphonenya


"Eh, tuh ada tag nama nya di dada Mbak." ucap melati tersenyum. Menunjuk tag nama di dada Rena lewat matanya.


"Ya juga ya haha, ini.. catat ajah nomor kamu." ucap Rena tersenyum.


"Heh, melati. Kamu ini apa apaan sih! Gak usah minta nomor dia kali, nanti kamu ketularan harga murah nya. Lebih baik simpan nomor aku," ucap nya. Bernama Violet. Wanita yang mengaggumi Presdir dan mencintai nya hingga ke ubun ubun. Demi mendapatkan harta kesukaanya ia rela mengorbankan harga dirinya hanya demi harta.


"Maksud mbak gimana? Murahan apanya?" tanya Rena mulai terpancing.


"Cara mu membuat keributan disini itu emangnya kau anggap apa? Hanya suatu kesalahan heh?" tanya violet sambil mendorong tubuh Rena menggunakan jari telunjuknya.


"Saya enggak membuat keributan, itu nama nya perbincangan yang besar mbak. Kalo ribut, begini cara nya.. Haha," tawa Rena sambil menjambak rambut berwarna pink milik violet.


Huh akhirnya, tangan ku udah gak gatel lagi.. Puas rasanya menjambak rambut yang di warnai itu... Kayak bule ajah cuih, ucap Rena merendahkan harga violet.


"Ahh, sialan kau! Hajar dia!" ucap violet kepada temannya.


"Oke, gampang. Hanya wanita ******* saja kok," ucap temannya bernama Anggi.


"Ya, lagi pula kita juga pernah menghajar preman,"


Walaupun dengan harga diri kita.. Imbuh Cindy dari dalam hati


Mereka melangkah kan kakinya ke kedepan, Rena memundurkan kakinya. Seakan akan ia takut akan mereka


"Kalian mau apa? Jangan macam macam," ucap Rena takut..


"Kau sudah menghajar teman kami, kau mau di apakan hah? Tunjukkan nyali mu tadi," ucap Anggi menoyor dahi Rena membuatnya mundur ke belakang.


"Aku mohon, aku.. aku meminta maaf.. aku tadi tidak bermaksud melukai nya.. " ucap Rena.


"Bohong! dia menarik rambut ku dengan kuat, Cin! Nggi!" teriak violet memanasi.


"Beneran sumpah, aku tadi cuman menjambak rambutnya dengan telunjuk dan jempol ku... Belum.."


"Belum sakit menurut mu hah!"


"Aghh," Rintih Rena sedang kesakitan. saat Anggi sudah mulai tak tahan dengan hasrat nya yang ingin menjambak rambut Rena dengan kencang.


Sialan kau, wanita ini menjambak rambut ku kuat sekali.. rasanya sudah mau rontok deh..


"Katakan, apa kau begini? Apa lebih kencang lagi Let?" tanya Anggi memperlihatkan Rena yang merintih.


"Kurang... kurang kencang!! Itu tidak sebanding dengan rasa sakit ku tadi.. Hiks." tangisnya.


"Aaawww," teriak Rena tambah keras dan menggema disana saat Anggi menambah kerannya dan Cindy mencubit lengannya


"Kau menggunakan tangan kau untuk melukai teman kami, seharusnya tangan kau di manipulasi saja. Uhhh," rintihnya saat ia mengeluarkan tenaga ekstra untuk memukul tangan Rena


"Tolong.. Siapapun itu.. aku mohon.." Rintih Rena mulai kesakitan asli valid no debat.


"Lebih kencang nggi!!" teriak violet mendukung temannya.


"Aaaa," teriak Rena merintih..


"Sialan, apa yang kau lakukan terhadap ibu ku.. Lepaskan ibu ku," ucap Vano tiba tiba datang dan berusaha melepaskan tangan Anggi dari rambut Rena yang sudah hampir copot semua.


"T-tuan Muda.. apa yang kau bicarakan? menyingkirlah, kau akan terluka nanti.. " tetap saja Anggi tak melepaskan tangannya dari rambut panjang Rena.


"Lepaskan!!" Tak punya cara lagi, Vano pun mengigit tangan Anggi.


"Aaaa, sialan kau bocah!" ucap Anggi terhuyung ke belakang menahan rasa sakit di tangannya.


"Pergi kau," Vano mengambil sepatunya dan melemparkannya ke Cindy.


"Aaa, aaa, tuan muda hentikan.. " teriak Cindy menjauh dari Rena.


"Ahh.. kepala ku.. " rintihnya dengan lemas. Kepala nya sudah hampir pecah saat ini, tangannya juga sudah hampir patah. Sebab, perilaku mereka berdua tidak bisa di telalisir.


"Tuan muda, apa yang kau lakukan? Dia mau merebut ayah mu, pergi lah... biar aku yang mengurus semuanya." ucap violet berusaha memancing Vano agar menjauh dari Rena.


"Lepaskan! Sialan kau, biadab!! Tak tau di untung, lepaskan aku kata!! Ibu!!" teriak Vano saat ia mulai tak mendapatkan keseimbangan lagi dan mulai terseret tangan violet.


"Lepaskan tangan Vano.. " Rena masih setengah sadar..


Menggunakan taktik yang sama, Vano mengigit tangan violet. Membuat bekas air liur dan lingkaran tertangkap jelas disana.


"Aghh, dasar bocah.. kemari kau!!" ucap violet.


"Ibu.. " ucap Vano terjatuh di lantai.


Ketika violet hendak menampar Vano, tangannya di cekal oleh seseorang.


"Siapa yang be— p-presdir.. " ucap violet takut ketika Nean menatap nya dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan dengan anak ku," ucap Nean menahan emosi yang bergejolak.


"T-Tuan..saya.." ucap violet tak bisa berkata kata.


"Ayah!! Dia melukai tangan ku dan tangan ibu.. sakit ayah.. hiks hiks." tangis Vano


"Tidak tuan, itu tidak benar.. Saya tak melukai nya.. "


"Ayah sakit.. " Rintih Vano berusaha mendapatkan balasan dendam nya ke wanita itu.


PLAK


"Pergi kau dari sini, kau tak pantas untuk bekerja di perusahaan ku.. " ucap Nean


"Tapi tuan, saya.. saya salah apa.. saya tak sengaja melakukan nya!!" Ucap violet.


"Ayah!!! Ibu!!!" Teriak Vano menoleh ke belakang, meminta bantuan ayahnya.


"Ya aku akan segera kesana!" balasnya.


Ibu? Siapa ibu? Apa itu jangan jangan..


"Andra.. Kau urus wanita ini.. aku akan mengantar Rena ke rumah sakit.. "


"Baik tuan," ucap Andra.


Nean berlari kecil sambil melepaskan jas nya, menutupi tubuh bagian atasnya itu. Kemeja nya sobek akibat tarik kan Cindy tadi. Kemudian, Nean mengangkat tubuh Rena.


"Ayah aku ikut!!" ucap Vano berlari mengikuti ayahnya.