My Parent'S

My Parent'S
Langgar janji



Setelah selesai berganti baju bersama di ruang ganti. Mereka keluar bersamaan, membuat Vano dan Andina menoleh bersamaan. Mereka langsung melayangkan tatapan tajam masing-masing. Namun suara mommy mereka, mereka langsung tersenyum dan berjalan mendekat untuk memperlihatkan ke akraban nya.


Membuat mommy mereka sama-sama memandang tak percaya.


"Kalian sudah berbaikan?" kata Rena menggelengkan kepalanya.


"Ah iya, kami sudah berbaikan kan?" kata Vano menatap Andina. Andina tersenyum masam berusaha memperlihatkan senyuman ketulusannya.


"Iya aunty, kami sudah berbaikan kok." ujar Andina.


Rena dan mommy Andin menghela nafas lega.


"Kalo begitu kita makan malam saja bagaimana? bersama-sama gitu?" kata ibu Andin dengan senyuman lembut.


Vano menatap Rena seakan-akan kode bahwa ia tidak mau ikut dengan ibu Andin. Namun apalah daya Rena tak paham akan kode-kode seperti itu.


"Iya boleh, kami setelah berbelanja juga mau pergi makan. Iya kan Vano?" kata Rena dengan senyuman kecil.


"Iya mommy.." kata Vano dengan senyuman tipis.


"Ayo Andina, kita pergi?" mengulurkan tangan ke putrinya. Andina mengangguk, ia menerima uluran tangan mommy nya dan menggenggam tangan Vano. Membuat Vano terkejut sekaligus malu menatap senyuman tulus dari Andina.


Jujur saja Andina masih memiliki hati lembut, dan hati lembut itu sudah ia berikan saat ini untuk Vano selain orang tuanya. Mereka berempat pun memutuskan untuk pergi ke lantai 3 dimana restoran seafood akan mereka kunjungi.


Sepanjang perjalanan, Vano hanya diam dan membiarkan tangan Andina terus menggenggam nya. Ekspresi nya datar dan tak ingin bermanja dengan mommy nya untuk saat ini. Melihat hal itu Andina merasa iba dan ingin tau apa permasalahan Vano. Tapi kenapa ia sangat gengsi mengatakan itu.


Ting


Pintu lift terbuka setelah suara itu berbunyi. Mereka pun keluar dari lift dan berjalan menelusuri lantai 3 sebelum mereka duduk di kursi salah satu restoran.


"Vano kau ingin makan apa?" tanya Rena.


Vano melirik ke arah mommy nya, ia hanya menelan Saliva nya pelan. Dan menggeleng kecil.


"Tidak ada mommy," kata Vano.


Rena menatap Vano dengan perasaan salah. Ia baru mengingat bahwa Vano pernah mengatakan ingin ia dan dirinya pergi ke suatu tempat dan makan makanan yang Nean suka. Namun karena ia lupa dan lebih memfokuskan urusan tadi. Membuat rasa bersalahnya menumpuk.


"Sebentar, boleh aku ke toilet?" kata Rena.


"Oh iya tentu saja, di depan ada toilet kau bisa kesana." kata ibu Andin.


Rena mengangguk, "Aku titip Vano sebentar ya. Aku akan segera kembali," ujar Rena.


Ibu Andin mengangguk dan tersenyum. "Tenang saja ia aman," kata ibu Andin.


Rena mengangguk dan langsung berlari kecil ke arah kamar mandi. Memulai drama nya seolah-olah sedang kebelet. Setelah masuk ke dalam salah satu toilet, ia pun langsung mengeluarkan tas nya dan membuka ponselnya.


Membuka nomor Nean dan mulai mengetikkan sesuatu.


Rena


Halo? apa boleh aku bertanya sesuatu.


Rena


Beri tau aku jika kau sudah tidak sibuk, aku ingin tanya? Makanan favorit mu apa?


Ia menghela nafas ketika lagi-lagi tak ada jawaban.


Tok Tok Tok


"Apa ada orang? Apakah sudah selesai??" Orang A sedang membutuhkan toilet untuk mengeluarkan hajatnya.


"Ah iya sebentar!" Buru-buru Rena memasukkan ponselnya di dalam tas dan pergi berlalu membuka toilet. Mendapati perempuan sedang tersenyum masam.


"Maaf apakah aku menganggu?" kata nya.


Rena menggeleng, "Masuk lah tadi aku hanya merasakan perut ku sakit jadi aku tak bisa berlama-lama karena ada orang yang membutuhkan." ujar Rena lalu berlalu meninggalkan orang itu langsung.


Membayar di kasir dan meninggalkan lorong toilet, ke arah ibu Andin dan 2 sejoli itu. Terlihat Vano membelakanginya. Andina juga sesekali mencuri pandang ke arah Vano. Rena tersenyum kecil dan mendekat.


"Maaf apakah aku lama?" kata Rena.


"Tidak, ayo." kata ibu Andin.


Rena mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya. Namun kepalanya mengangguk menjawab ucapan ibu Andin. Ia menatap tak ada pesan yang terkirim ke dirinya dari Nean. Membuatnya menghela nafas.


"Maaf, bisakah kita berjalan pelan-pelan. Kaki ku terkilir tadi.." ujar Rena dengan masam.


"Apa kau baik-baik saja?" kata ibu Andin.


Rena mengangguk, "Aku baik-baik saja.* ujar Rena


"Ia baiklah tidak apa-apa, lagian restorannya juga tak jauh dari posisi kita."


"Iya," terkekeh pelan.


Ia terus menggerutu saat Nean tak mengirimkannya pesan. Hingga 5 menit berjalan dan menunggu pesan dari Nean. Ia mendapati telepon dari Nean membuatnya menghela nafas lega.


Ia buru-buru mengangkatnya, "Kalian duluan saja." kata Rena.


"Iya baiklah kita ada di kursi depan ya," kata ibu Andin.


Rena mengangguk, "Vano kau juga duluan ya." ujar Rena menatap kasihan ke arah Vano.


"Iya mommy," katanya dan terus berjalan mengikuti langkahan ibu Andin.


"Halo?" kata Rena


"Halo apakah ada sesuatu?"


Rena melebarkan matanya dan seketika ia terdiam di tempat mendengar suara itu disebrang telepon.