
Hellooo... terima kasih yang sudah dukung karya saya sampai sejauh ini guys. Terima kasih banyak karena berkat kalian saya masih bisa menulis dengan dukungan kalian saya akan terus berkarya^^. So.. selamat membaca lagi.
...****************...
Pagi harinya Rena telah bersiap-siap, hari ini setelah perbincangan dengan pihak besan kemarin malam. Jadwalnya ialah lamaran disana. Dengan memakai gaun bagus dari lemari itu, Rena terlihat sangat cantik dengan dress berwarna ungu terong. Kulitnya yang putih susu, serta kaki yang bersih menambah aura kecantikannya.
"Ren, maa syaa allah." ucap ibunya terkejut ketika melihat bidadari di kamar tersebut setelah Rena membalikkan badannya. Ibunya melangkah mendekati Rena yang berdiri di depan cermin.
"Bidadari apa anaknya ibu ini, HM?" ucapnya dengan memegang kedua bahu Rena.
"Ini anak ibu, Bu. Kalau bidadari ya iya juga," ucap Rena dengan tertawa
Ibunya menggeleng, "Kamu sudah siap?" tanyanya.
Rena mengangguk, mendapati mata ibunya yang berkaca-kaca dengan paksaan sebelum ia tersenyum. Seolah menahan tangis putri perawan nya akan menikah.
"Ya sudah ayo turun, dibawah sudah ada semuanya. Cuman tinggal kamu yang belum," ucap nya.
"Ia.."
Rena dan ibunya berjalan seiring meninggalkan kamar menuju bawah. Dengan menampakkan kakinya di tangga Rena berdebar-debar menatap mata keluarga Nean menatapnya. Tanpa terkecuali ayahnya juga. Ia duduk di samping ayahnya kemudian di susul ibunya.
"Cantiknya," ucap nyonya Alvin dengan tersenyum.
Rena menunduk tersenyum, malu sekali..
"Ya sudah, kita langsungkan acara lamaran ini. Bagaimana? setuju?" ucap tuan Alvin.
Rena mengangguk dengan menghela nafas. Acara lamaran pun resmi dimulai. Semua orang disana menunduk mendengarkan ucapan tuan Alvin yang mengucapkan doa rasa syukur dan terima kasihnya karena semua pihak keluarga ada di samping anaknya masing-masing. Dengan ini bisa secara langsung dilaksanakannya acara lamaran dengan sentosa.
"Untuk meresmikan nya kembali, marilah kita dengarkan ucapan anak kami untuk melamar Rena serta mendengarkan jawabannya. Nean.." Tuan Alvin menoleh ke arah Nean dan mengangguk.
Nean menarik nafas dalam dalam kemudian menghembuskan nya.
"Rena Farina Maharani, maukah kau menjadi pendamping hidup ku? menjaga anak-anak ku serta keluarga ku, memasuki kehidupan keluarga ku, hingga kita menua dan mati bersama-sama?" ucap Nean dengan satu kali nafas.
Huuuurrppp... "Iya." melepaskan jawabannya.
Nean tersenyum dengan haru, ia menoleh ke arah ayahnya. Kemudian dengan pembicaraan panjang pun tetap dilaksanakan dengan hanya keluarga masing-masing.
Setelah itu, ungkapan rasa syukur atas lamaran ini. T uan Nean langsung menyuruh anaknya tuk memberikan cincin kepada Rena. Sebaliknya, setelah memberikan cincin kepada Rena, Rena memberikan cincin kepada Nean. Memasangkannya ke jari manis tangannya. Mencium keningnya dengan lembut.
"Wooowww selamat," ucap Ayah Nean memeluk Nean setelah lamaran tersebut. Kedua besan itu saling berpelukan dan mengucapkan syukur dan terima kasih sekali lagi.
"Maafkan kesalahan kami waktu dulu, ya nak, pak, Bu. Sekarang kedua anak kita akan menjalani proses hukum dan akan halal. Ikhlaskan anak kalian, kami berjanji akan menjaganya dengan segenap rasa untuk anak perempuan kalian." ucap nyonya Alvin dengan tulus.
"Kami melupakan kejadian itu, Bu. Anda tidak perlu memikirkannya kembali, lagipula kami akui bahwa kami yang memaksa Rena tuk menerima perjodohan ini. Bukan maksud lain, karena saya rasa bahwa tuan Nean memang benar-benar sudah berubah dari yang sebelumnya kepada ank saya." ucap nya.
Sontak saja wajah tegang dari kedua orang tua Nean berubah jadi tersenyum mendengar ucapan ibunya Rena yang blak-blakan itu. Tapi apa yang dikatakannya benar apa adanya Nean memang sudah berubah dan sedikit perhatian yang akan diberikan kepada Rena seutuhnya nanti.
"Terima kasih, kami sangat bersyukur hidup diantara kalian. Semoga, ini jadi perjalanan yang mudah bagi calon rumah tangga baru." ucap Nyonya Alvin.
"Ia." ucap nya kompak.
Rena terlihat sedikit melirik Nean yang ada di depannya. Ketika orang tuanya saling berbicara, Nean seakan muak dan mengajak Rena kebelakang dengan kode kaki. Tapi seolah tak peka Rena tak menghiraukan sama sekali kaki itu yang terus menendangnya. Ia sibuk mendengar percakapan kedua orang tuanya.
"Kami istirahat dulu," ucap Rena kepada mereka.
"Oh iya, silahkan." ucap nyonya Alvin.
"Ah aku ke kamar mandi sebentar," ucap Nean setelah beberapa saat Rena pergi.
"Ia. Hati-hati," ucap nyonya Alvin.
"Ren," Nean berdiri di samping pintu balkon. Memandangi Rena yang terlihat membelakanginya dengan memandang gedung gedung yang terlihat hanya bagian atasnya saja dari kejauhan.
"HM?" ucap Rena yang seakan malas berbicara.
"Apa yang dikatakan orang tua mu tadi, apa benar?" ucap Nean.
"Iya." ucap Rena.
"Ouh.." ucap Nean.
Rena menarik nafasnya, hatinya sedikit sakit tuk mendengar ucapan ibunya tadi. walaupun ucapan ibunya benar apa adanya, namun ia saat ini juga sudah memberikan Nean kesempatan memasuki kehidupannya. Bukan hanya sebuah paksaan belaka. Ia jadi pusing, apa nean saat ini juga merasakan apa yang dirasanya?
"Apa aku perlu meminta maaf, apa berterima kasih?" tanya Rena.
"Untuk?" ucap Nean.
"Perjodohan yang dipaksa?" ucap Rena.
"Kamu serius? kamu.."
"Tidak, aku tidak merasa dipaksa untuk menikahi anda. Cuman aku takut anda membawa perasaan anda, aku takut hal sewaktu dulu terulang lagi." ucap Rena.
"Mulai saat ini mari lupakan hal tentang masa lalu, lupakan permasalahan yang dulu, ya?" ucap Nean.
Rena mengangguk, dirinya merasa bahwa dekapan halus mendarat di badannya. Sontak saja hal itu membuat Rena tegang ketika dirasa Nean memeluknya bahkan sesekali mencium kepalanya.
"T-tuan?" ucap Rena gugup.
"St! jangan memanggil ku tuan, panggil aku sayang." ucap Nean.
"Tidak bisa!" Rena mendorong tubuh Nean dengan tenaganya.
"Kenapa? kita kan akan jadi calon. Apa masalahnya, Hm?" ucap Nean mendekat.
"Y-ya tidak bisa! kita kan masih calon, bukan seutuhnya, kecuali kalau kamu mengatakannya stelah menikah! baru aku setuju, saat ini tidak." ucap Rena menggeleng.
"Oh ya?" ucap Nean menggulung rambut Rena.
Apa ini kegiatan favorit pria, ya?
"HM.."
Cup
Rena mendongak dengan melotot, bibir tipis sedang ditarik ke samping dengan lebarnya. Gigi itu...
Rena menunduk dengan merona, manis sekali. dia tak juga tampan, tapi juga manis.
"Kau menyadarinya, ya?" ucap Nean dengan tertawa.
Tawanya pecah ketika melihat Rena menjauh dari sana berlari keluar dari balkon.
"Imut.." ucap Nean