
Setelah kejadian kemarin, keluarga Alvin memutuskan untuk pulang karena orang suruhan dari tuan Alvin bergerak mengintai di hutan. Sudah ada beberapa kamera cctv yang tersembunyi disana. Entah di pohon, di daun atau di ranting bahkan di batang. Cctv itu akan membuktikan bahwa ada orang atau tidaknya disana. Ada tiga orang yang mengawasi ruangan cctv. Di sebuah menara tinggi yang pastinya adalah milik keluarga Alvin yang sangat kaya raya tersebut.
Karena sibuknya mereka untuk menangkap gadis kecil yang dimaksud oleh Nean. Mereka lebih memilih pulang dan akan kembali sewaktu-waktu bila sempat. Khawatirnya akan ada kejadian tak diduga selama tim mencari pelaku usaha pembunuhan terhadap anak kecil.
"Kau tidak apa-apakan Rena? kita pulang dari awal dari kesepakatan kita menginap?" tanya Nyonya Alvin sebelum masuk ke mobil..
"Tidak papa Bu, saya memaklumi." ucap Rena dengan tersenyum samar.
"Baiklah kalau begitu. Lain kali kita akan kesini lagi, yang lebih lama dari hari ini. tapi tidak untuk sekarang, Demi keamanan kita."ucap Nyonya Alvin
"Iya, saya setuju dengan pendapat istri saya. Ini demi kesehatan kalian, lagi pula Nean juga tidak dapat meninggalkan pekerjaannya secara berlangsung lama. Iya kan, Nean?" ucap tuan Alvin yang langsung menghubungkan obrolan kepada lelaki itu.
"Iya," ucap Nean.
"Baiklah, kalian masuk kedalam. Biar Vano bersama saya," ucap nyonya Alvin.
"Oh, baiklah." ucap Rena.
Ia tersenyum sembari memasuki mobil. Bersamaan dengan lelaki itu hingga setelah mobil tersebut berjalan. Kedua orang itu pun kembali masuk ke dalam untuk membawa Vano keluar.
****
Caci maki yang didengar oleh seorang anak kecil itu membuat telinga nya panas. Berkali-kali dirinya hendak berdiri namun pengawal dibelakangnya seolah memaksanya tetap berjongkok supaya tak ada tentangan dari nya.
Demi tidak membuat si pria itu marah, mereka lebih memilih menyiksa anak kecil yang merupakan sosok anak sepasang suami istri yang telah diculik oleh mereka
3 jam berlalu, anak kecil itu jenguh dan pingsan. Mati. tamat. Tapi boong wkwkwk
"Bawa dia ke kamarnya," ucap nya dengan datar dan dingin.
"Baik bos!" ucap nya kemudian menggendongnya dengan lembut menuju kamar.
"Kalian semuanya keluarlah, jangan menganggu ku." ucap nya.
Mereka semua menunduk menghormati dan keluar satu persatu. Pelayan wanita menutup pintu karena dirinya paling terakhir keluar.
Langsung saja lelaki itu memecahkan semua vas dan barang-barang disana untuk melepaskan amarahnya.
"Bodoh!!" Teriaknya frustasi.
*****
"Tuan-"
"Jangan panggil aku, tuan." ucap Nean. Rena mengerut.
"Panggil aku, hubby." ucap Nean. Rena pun tertawa di dalam mobil. Menertawai tingkah bodoh Nean.
"Hubby?" ucap Rena dengan menahan tawanya.
"Ini diluar nalar, aku tidak bisa memanggil mu itu, tuan." ucap Rena. Ia langsung terkejut ketika mobil tiba-tiba berhenti secara mendadak. Nean menoleh dengan dinginnya, membuat Rena bungkam.
"Panggil aku hubby atau aku cium." ucap Nean. Rena mengedipkan mata beberapa kali, apa ini benar Nean yang ia kenal? sombong nan dingin?
"Hu-hubby?" ucap Rena.
"Sekali lagi," ucap Nean menyandarkan punggungnya.
"Hubby." ucap Rena. Nean tersenyum tipis.
"Tapi tuan-" Nean pun langsung menatap tajam ke arah Rena.
"M-maaf, tidak jadi." ucap Rena.
"Baiklah, kita pergi." ucap Nean kembali melajukan mobilnya.
"Mengenai pekerjaan saya? bagaimana?" tanya Rena.
Nean mengerutkan keningnya, kemudian mengedikkan bahunya. "Itu terserah kamu," ucap Nean.
"Maksudnya?" ucap Rena.
"Iyaaaaa, kalau kamu mau bekerja ya silahkan. Tapi batasnya hanya sampai 2 minggu, setelah itu saya akan mengeluarkan mu dari sana." ucap Nean membuat Rena kesal
"Kenapa seperti itu?!" ucap Rena tak terima.
"Karena 2 minggu ke depan kita akan sibuk, mempersiapkan pernikahan kita." ucap Nean.
"Iya tapi kenapa aku harus resign? Kan aku bisa libur lagi," ucap Rena.
"Kalau begitu siapa yang akan menjaga Vano? jika dia kenapa-napa bagaimana? umur orang tua ku juga sudah tidak muda lagi, Rena. Kau sebagai istri ku harus mengurus anak-anak kita kelak." ucap Nean.
"Tapi aku mau bekerja." ucap Rena.
"Rena," ucap Nean meliriknya. Rena memalingkan mukanya ke arah jendela, mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Kenapa pula Nean menyuruhnya hanya menjaga Vano, sebagai wanita. Ia tidak bisa hanya diam, ia juga perlu kesibukan.
"Baiklah, nanti saya akan pikirkan lagi mengenai pekerjaan mu." ucap Nean.
Rena menoleh dengan tersenyum, "Terima kasih tuan Nean." ucap Rena.
Nean melirik. "Ah maaf, maksud ku hubby.." ucap Rena dengan tersenyum canggung.