
Setelah sampai di rumah Nean, ia pun langsung menggendong Vano dan memasuki rumah nya yang megah. Kedua orang tua nya yang masih mesra-mesraan di ruang tamu pun seketika menoleh ke arah Nean yang membawa Vano.
"Nean kau.. sudah Pulang? apa yang terjadi dengan Vano??" katanya dengan panik dan berhenti di depan nya.
"Vano baik-baik saja, Bu. Hanya saja ia sedang tidur karena kelelahan." kata Nean.
"Ohh, iya aku tahu. Vano juga sempat bilang ia akan bersenang-senang dengan Rena. ya sudah bawa masuk!" katanya.
Nean hanya mengangguk, jangan lupa ia mengucapkan selamat malam kepada orang tuanya. Setelahnya ia pun masuk dan membaringkan tubuh Vano di atas ranjang. Menarik nafas dalam-dalam hingga ia menghirup aroma parfum Rena yang melekat di baju Vano.
Mengingat perjuangan Rena yang menggendong Vano dari halte dan hendak pulang dengan jalan kaki. Ia mulai bimbang dengan urusannya. Rena adalah tipikal orang yang halus dan lembut. Namun pandangannya kepada gadis itu justru berbalik ke arah berlawanan.
Entah ia harus apa sekarang, untuk saat ini biarkan saja ia tidak menikah. Mengingat wajah kedua orang tua nya yang sudah keriput pun ia menghela nafas gusar.
Menelpon anak buahnya untuk bertanya apakah temannya itu sudah di temukan atau belum.
"Selamat malam tuan, apa yang bisa saya bantu?" kata asistennya dari sebrang.
"Malam, apakah ia sudah di temukan? Kau memiliki petunjuk?" kata Nean dengan gusar. Ia mengharapkan ada setempat petunjuk untuk memberikan jawaban bahwa temannya itu masih ada di sekitarnya.
"Untuk saat ini kita sedang menuju tempat dimana seharusnya teman anda ada. Di sebuah pulang kecil, Laos." katanya.
"Laos? tapi kenapa sangat jauh? aku ingin kau segera menemukannya, beritahu aku info selanjutnya jika kau sudah sampai dan memberikan kabar kepada ku." kata Nean dengan menghela nafas.
"Baik tuan, kami akan memberikan informasi kelanjutannya jika kami sudah sampai. Selamat istirahat," kata nya.
Nean hanya berdahem lalu mematikan teleponnya. Ia melirik ke kanan dimana Vano sangat mirip dengan temannya itu. Mengelus wajah Vano dan terduduk di sampingnya.
"Dimana ibu mu, Vano." kata Nean dengan Lirih.
Tak mau berlama-lama ia pun segera beranjak dan membersihkan diri di kamar. Hari nya cukup padat untuk hari ini.
"Rena.." tanpa sadar ia memanggil Rena ketika ia sedang membersihkan diri.
***
Pagi harinya Rena telah bersiap-siap dengan dandanannya. Hari ini ia akan kembali bekerja setelah peristiwa itu. Mengingat nomor kedua temannya di senyap kan. Ia pun langsung mengecek ratusan notifikasi kedua orang itu. Ia menggelengkan kepalanya ketika Zeina dan Bryant menghubunginya.
Namun suatu fakta mengejutkannya, ia terkekeh ketika membaca pesan yang sama dari kedua orang itu. Mereka juga katanya berlibur di Laos dan mengirimkan suatu foto kepadanya.
Ia tersenyum dan lega ketika mendapatkan mereka berlibur dan tenang. Setelah membaca dan membalas hanya sebuah emoji senyum. Ia mengambil tas dan meninggalkan kamar. Menguncinya setelah itu ia hendak mengambil air putih di dapur.
"Ayah, ayah baik-baik saja?" sedikit mengguncang tubuh nya dan bertanya.
Ayahnya menggeliat. "Iya aku baik!" kata nya.
"Ayah dari mana? Kenapa tubuh ayah bau tak sedap?" kata Rena.
"Kemarin ayah mengunjungi tempat pijat ibu mu," katanya dengan pelan.
Rena mengangguk dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Tapi justru aku yang harus memijat ibu mu untuk terapi kakinya. 3 jam aku terus melakukan hal yang sama hingga pada akhirnya ibu mu menyuruh ku untuk pulang." katanya.
"Pfft- pulang ayah? apakah keadaan ibu sudah sehat?" kata Rena.
"Iya Ren, tinggal 3 Minggu lagi ibu mu boleh pulang. Ia sudah lancar berbicara dan kakinya sudah hampir pulih." kata ayahnya.
Rena menghela nafas lega. "Astaga ayah, aku tak bisa mengungkapkan rasa bahagia ku!" kata Rena.
Pak Samsul perlahan membuka matanya, ia melirik ke arah Rena. Tak lama kemudian ia mengerutkan kening, "Kenapa kau berdandan seperti itu? mau kemana." tanyanya.
"Hari ini aku akan bekerja, aku sedikit kasihan mendengar CEO utama grup pulang larut malam." kata Rena dengan sedikit kekehan kecil.
Sejenak pak Samsul memikirkan sesuatu, ia pun menguap dan terduduk.
"Rena, ayah akan memberikan satu kesempatan untuk mu dan Nean bersatu." kata nya membuat Rena kembali berdiri dengan perasaan terkejut.
"Apa maksud ayah berbicara seperti itu?" kata Rena.
Ayahnya menghela nafas, menyunggingkan senyuman tipis dan menyuruh Rena untuk duduk di sebelahnya.
"Ia sendiri yang membiayai biaya terapi ibu mu nak, dan harga itu sendiri sangatlah mahal. Ayah merasa akan berhutang Budi dengan Presdir mu itu," katanya.
Rena mengerutkan keningnya, "Apa ayah akan menjual ku dengan alasan-"
"Tidak nak tidak, bukan itu. Ada satu alasan mengapa ayah memberi mu kesempatan. Setidaknya kau terima lamaran orang tua nya demi anak kecil itu. Aku merasa iba melihatnya yang terus berusaha menyatukan kalian." kata nya.
"Akhh sudah lah ayah!! aku tak mau membahasnya, aku berangkat dulu. Assalamualaikum!" kata Rena menyalimi tangan ayahnya dan bergegas pergi.
"Waalaikumsalam.." lirih pak Samsul dan menghela nafas.