My Parent'S

My Parent'S
Chapter50_RumahSakit



"Kalian duluan saja, ada telepon dari ibu.." ucap Rima kepada mereka.


"Oh baiklah, kami duluan dan kamu menyusul ya." ucap Bryant.


Rena mengangguk, ia menatap mereka semua yang sudah masuk. Tapi kemudian Vano menggandeng tangan Rena, ia tersenyum tipis kemudian mengangkat telepon ibunya di luar rumah sakit.


"Iya Bu?" tanya Rena.


"Kamu sudah sampai di sini, nak?" tanya nya.


"Ia, tapi aku tidak bisa langsung pulang. Aku ada urusan di rumah sakit-"


"Apa!? siapa yang sakit?"


"Itu zeina.."


"Astaga sakit apa dia? kamu di rumah sakit mana? ibu menyusul ya?" tanya nya.


"Ehm.. rumah sakit dekat bandara Bu. Kalau ibu mau menyusul Rena Sherlock ya."


"Iya,"


Rena pun mematikan teleponnya dan memberikan alamat lokasi nya kepada ibunya. Kemudian ia menoleh ke sisi rumah sakit.


"Kau mau masuk, atau mau beli sesuatu?" tanya Rena jongkok di depan Vano.


"Ehm, mommy.. aku haus. Boleh kita membeli minuman?" tanya Vano.


Rena mengangguk, ia berdiri. "Ayo ke supermarket, kamu sudah makan?" tanya Rena.


"Sudah. Oma melarang ku menemui mommy dalam keadaan lapar," ucap Vano.


"Hehe, Oma benar sayang."


"Iya, karena itu aku menurutinya." ucap Vano dengan senyuman.


Rena mengangguk, ia menyebrang jalan dengan menggandeng anak kecil itu. Namun sepasang mata menatap mereka berdua dari jauh dengan nanar. Pandangannya tertuju pada anak kecil itu yang selalu tersenyum di samping Rena.


"Sudah cukup bahagia mu dengan nya, sayang. Kau harus kembali pada ku,"


Kemudian wanita misterius itu pergi dari sana.


***


Zeina menarik nafas ketika ia dipaksa tiduran di atas brankar. Ia menoleh ke arah Bryant dengan tatapannya, Nean tidak bisa ikut ke dalam karena ruangan pasien khusus. Zeina hanya bisa mengajak Bryant karena pria itu yang paling dekat dengannya.


"Jangan takut, ada aku. Berikan saja keluhan mu, Zeina." ucap Bryant memegang tangannya.


Zeina mengangguk menatap Bryant kemudian menatap ke arah bawah badannya. dengan tatapan khawatir dan cemas. Ia menutup mata dengan pelan.


"Permisi ya.." Dokter datang membuat Zeina melirik.


"Apa kabar, Bu? kondisinya baik?" basa-basi.


"Ia.."


"Baik, boleh saya periksa ya? tenang saja ini tidak sakit kok," ucap nya.


Zeina mengangguk. Kemudian dokter itu mengeluarkan stetoskop dan memeriksa dada Rena. Di lanjut kan ke sebelah sisi lainnya. Ia tersenyum sembari melepas alat tersebut, kemudian ia memeriksa mata Zeina dengan senter.


"Ya.. terima kasih bu Zeina telah siap siaga dengan pemeriksaan saya. Kalau begitu saya mau izin berbincang dengan keluarga ibu, ya."


Zeina melirik ke arah Bryant, Bryant tersenyum dan pergi dari sana mengikuti dokter.


"Tuhan.. berikan jawaban terbaik mu demi ku." Gumam Zeina dengan takut-takut.


"Eh, bry? udah?" tanya Rena yang baru saja datang disana.


"Iya, bentar ya kalau mau masuk masuk saja.. Zeina membutuhkan mu, Ren." ucap Bryant.


"Ehm, iya. Kau mau kemana?" tanya Rena.


"Konsultasi dengan dokter,"


"Oh oke.."


Bryant pun melanjutkan langkahan nya dan menyapa sekilas ibu Rena yang baru saja datang. Rena melepaskan genggaman nya dadi Vano dan berjongkok.


"Teman berada di dalam dan sedang sakit, berikan mommy waktu sebentar ya?"


"Janji?" tanya Vano menyerahkan jari kelingkingnya.


"Ia.."


"Tuan Nean, saya masuk dulu." izin Rena.


"Iya." jawabnya singkat.


Rena pun membuka pintu, Vano duduk di samping daddynya dengan memakan permen yupi berbentuk ulat kecil warna warni. Nean menoleh ketika menatap ibu Rena yang menatap kaca yang memperlihatkan Rena dan Zeina sedang berbincang.


"Bu.."


"Ah, nak Nean..Sudah lama disini?" tanyanya.


"Enggak Bu, baru sebentar. Ibu kesini mau menjenguk siapa?" tanya Nean.


"Katanya Zeina sakit, dia sakit apa, nak?" tanya Ibu Rena.


"Saya belum tahu Bu, Bryant masih konsultasi dengan dokter. Di dalam juga anak ibu masih sibuk."


Ibu Rena mengangguk, ia menatap ke arah Rena.


"Duduk Bu kalau capek, perjalanannya aman ya?"


"Ia.. oh.. ada nak Vano juga. Kamu ikut kesini, nak?" tanya nya.


Vano mengangguk, ia menyodorkan permen kecil itu ke hadapan ibu Rena.


"Nenek, terima permen ini dengan bentuk perkenalan ya?" ucap Vano pelan.


Ibu Rena tersenyum, ia menerima permen itu dan berterima kasih. Walaupun ia masih sedikit ingat dengan kejadian tidak sopan Nean yang menolak di jodohkan dengan Rena. Tapi ia masih bisa ber akrab baik dengan anaknya.


"Kabar ibu dan ayah mu bagaimana, nak Nean." tanya Ibu Rena.


"Oh itu, mereka baik-baik saja." ucap Nean.


Ia mengangguk. "Lalu kapan mau datang ke rumah bersama orang tua mu? katanya mau melamar..."


Nean sedikit terkejut sembari melirik ke arah Vano yang juga sama terkejutnya. Vano melotot bahagia, kemudian ketika ia berbicara dengan cepat Nean menutup mulutnya.


"Itu masih di kesampingkan dulu, Bu. Mohon maaf,"


Ibu Rena mengangguk. "Ia, tapi saran ibu secepatnya biar Rena enggak ada laki-laki lain."


"Ia Bu,"


"Papa.." Vano mengerucut menatap papanya yang hanya melototi nya.