My Parent'S

My Parent'S
Chapter 27_Kegaduhan Vano



Rena meredupkan matanya setelah seseorang mencoel - coel pipinya. Ia pun membuka mata, belum saja kesadarannya terkumpul tawa anak kecil sudah terdengar bahagia.


"Hahahaha, akhirnya kau bangun mom! Kau sangat sulit di bangunkan!" Ujarnya dengan tawa bahagia.


"Vano, berhenti menganggu orang tidur. Lihat lah dia bahkan terbangun gegara ulah mu," Nean mendekat. Sementara Rena, ia mengucek matanya menguap lalu mengumpulkan nyawanya.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Rena


"Hem? Jam 10 pagi. Good morning mommy!" Ujar Vano dengan bahagia.


"Morning.. Apa!!!" Teriak Rena.


Seketika Vano dan Nean menutup telinganya.


"Jam 10? What!!" Bentaknya.


"Mommy! Kenapa kau berteriak sepagi ini, kau menyebabkan telinga ku hampir tak berfungsi mom!" Ujar Vano dengan cemberut membenarkan telinga nya supaya tak cenat-cenut.


"Maafkan kakak sayang, ini sudah memasuki hari ke 5 di rumah sakit. Bagaimana aku bisa tenang, aku harus pergi bekerja.. " Ucap Rena.


"Mommy, ada da—"


"Vano, aku tak ingin karyawan ku bermalas-malasan. Bersihkan diri mu terlebih dahulu, aku akan memanggil seseorang untuk membantu mu."


"Daddy! Tak perlu, kenapa harus repot - repot memanggil orang? Ada Daddy disini! Bantu mommy mandi saja," Ujar Vano polos.


"A-Apa!! V-vano, ucapan mu tak boleh begitu nak. Itu tak baik, kakak dan ayah mu tak ada hubungan apa-apa. Ayah mu tak ada kewajiban khusus membantu kakak mandi," ujar Rena.


"Kenapa? Mommy and Daddy kan sepasang orang tua Vano! Kata Bu guru, sepasang suami istri sudah memiliki ikatan dan tak pernah terlepaskan. Melihat tubuh mom—"


"Vano! Perkataan mu tak pantas di tujukan untuk wanita yang belum menikah seperti itu! Jaga ucapan mu," ucap Nean dengan nada membentak.


"Why Daddy! Why you angry! Perkataan ku benar bukan? Jika mommy belum menikah, kenapa aku harus memanggil mommy dan Daddy kepada kalian!" Emosi Vano.


"Itu.. " Rena menelan Saliva dengan kuat.


"Itu tak masalah bagi Daddy jika kau memanggil nya mommy Vano. Tapi perkataan mu itu sungguh keterlaluan," ucap Nean.


"Keterlaluan apa? Berarti apa yang di lakukan Vano itu salah! Benar begitu mommy?" Tanya Vano.


"Vano, perkataan mu tak salah. Hanya saja kau tak boleh mengatakan hal seperti itu coba lah mengerti. Kakak yakin, kau adalah anak dewasa." Ujar Rena berusaha membujuk.


"I hate you mom! And Dad!" Tegas membentak. Vano pun membuka pintu ruangan Rena dan berlari meninggalkan mereka.


"Vano! Anak ini.. "


"Tuan, jangan menghardik anak kecil terlalu keras. Masa depannya tak akan cerah secerah matahari nanti.. "


"Kau bukan siapa - siapa untuk menghakimi ku Rena." Ujar Nean lalu melangkah pergi meninggalkannya.


"Kenapa aku merasakan hati ku sakit setelah ia mengatakannya?" Ujar Rena memegangi dadanya. Ia menghela nafas berusaha tegar.


******


"Vano hentikan langkahan mu, dengarkan penjelasan Daddy dulu!!" Tegas Nean berlari mengejar Vano yang berlari dengan sangat gesit.


"Dad jahat! Vano selalu salah di mata Daddy! Aku membenci Daddy!" Ucapnya dengan gemetar seolah - olah ia berlari dengan tangisan di matanya.


"Vano hentikan langkahan mu, di depan jalan raya nak!!" Teriak Nean.


"Aku benci Daddy!!" Teriak Vano.


"Vano, awas!!!" Teriak Nean.


"Aaaaaaah!" Teriak Vano.


Brug


Ckiitttttt


Bruk


Bersamaan dengan itu, tangan Vano meremas kuat kemeja Nean. Ia membuka mata secara perlahan menatap Nean yang memeluknya seraya melindunginya.


"Daddy.." ujar Vano.


Nean yang merasakan seseorang memanggilnya pun membuka matanya. Ia menatap Vano yang ada di dekapannya.


"Kau anak nakal Vano, jangan membangkang! Karena itu semua demi kebaikan mu," protesnya dengan kesal. Tapi ia juga sedikit gemetar akan peristiwa tadi. Bagaimana jika truk itu menabrak Vano? Apa yang harus ia lakukan tanpa anak itu? Bagaimana dengan amanat temannya untuk menjaga Vano? Dan kenangan bahagia setiap detik terhadap Vano? Apakah itu semua akan berakhir dalam beberapa waktu saja?


"Sayang, emosi tak akan menyelesaikan apapun. Lihatlah, apa yang terjadi? Kejadian buruk bukan?. Jangan seperti ini lagi ya? Daddy khawatir terhadap mu.. " jelas Nean kembali memeluk Vano.


"Iya dad, i'm sorry!"


Nean menarik sudut bibirnya sedikit, ia kembali memeluk Vano dan mengelus rambutnya.


******


Ceklek


"Apa yang terjadi? Aku melihat peristiwa yang menegangkan di bawah," ujar Rena khawatir.


"Tak ada yang salah, kami baik - baik saja." Ucap Nean.


"Benarkah? Kau tidak papa Vano?" Tanya Rena.


"Iya mom, aku baik - baik saja." Ucap Vano dengan tersenyum.


"Hufft syukurlah, aku kembali memakai pakaian ku ketika mendengar suara gaduh di bawah. Aku sangat khawatir terhadap kalian," ucap Rena memegangi dadanya.


"Mommy, mommy mencintai Daddy?" Tanya Vano di pangkuan Rena.


"Vano," ujar Nean mengerutkan keningnya.


"Mommy jawab!" Ucap Vano merengek.


"Jika itu adalah hal yang membuat mu bahagia, aku akan melakukan itu Vano."


Cup


Rena mendaratkan ciuman di kening Vano membuat nya tersenyum. Yang di sindir langsung salting setelah mendapatkan pengakuan itu.


"Daddy! Ada kesempatan, aku sudah melakukannya dengan baik. Hanya satu yang belum kalian lakukan," ucap Vano.


"Vano kau berbicara apa?" Tanya Nean mengerutkan keningnya.


"Mommy, bisakah kau mengantarkan aku ke kamar mandi?" Tanya Vano.


"Biar Daddy antarkan, ayo.. "


"Enggak, no! Aku mau mommy! Mommy~" ucap Vano memohon.


"Baiklah baiklah, tidak papa. Hanya mengantarkan saja," ucap Rena memakai sandal nya lalu mengantarkan Vano ke kamar mandi.


3 menit..


"Aaaaa!!" Teriak Vano.


Nean yang mendengar itu pun menjatuhkan hapenya, ia bangkit dari sofa lalu menuju kamar mandi dengan pintu yang di buka. Sebelum memasukinya ia merasakan sesuatu yang janggal. Namun mengingat Vano ada di dalam membuatnya khawatir.


"Vano? Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Nean menatap sekitar.


"Daddy disini." Ujar Vano.


"Ap—"


Brug


"Aww.. " Rintih Rena ketika Vano mendorongnya dari belakang hingga jatuh ke pelukan Nean.


"Vano ini.. "


"Daddy! Buatkan adik perempuannya! Aku ingin teman sekarang, secepatnya. Muach, i love you!"


Brak!


Vano pun menutup pintu dan menguncinya.


"Apa yang kau lakukan? Menyingkirlah, Vano! Buka pintunya.. " Teriak Nean dari dalam kamar mandi.


"Aaaah.." Teriak Rena ketika merasakan tangannya yang tersenggol kembali.


...


"Haha, Oma pasti senang mengetahui ini! Ide ku brilian!" Tawa Vano mengutak-Atik hapenya.