
Setelah makan malam bersama dengan teman baru mereka. Vano dan Rena pun berjalan ke halte bus. Menatap sekeliling sembari menatap jam tangan yang semakin malam. Membuat Rena dan Vano menghela nafas ketika tak ada bus yang lewat.
"Bagaimana ini mommy, tak ada bus ?" kata Vano dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kita tunggu sebentar lagi ya, pasti ada yang lewat." kata Rena mengacak rambut Vano.
Vano mengangguk, mereka terus menunggu bus sampai datang. Berjam-jam menunggu membuat Vano tertidur pulas di pelikan Rena. Ia terkejut ketika Vano menyandarkan kepalanya, mendengar dengkuran halus membuat Rena sedikit iba. Ia pun Menggendong Vano dan berjalan meninggalkan halte. Walaupun berjalan pun tak apa, ia menggendong Vano dan terus berjalan menuju rumahnya.
Mobil sport hitam yang kebetulan lewat pun berhenti tak jauh dari posisi Rena berjalan. Ia membuka pintu dan memanggil Rena.
"Rena."
Rena menoleh dan mendapati tuan Nean sedang mendekat dan berjalan ke arahnya. Matanya menatap ke wajah Vano yang tertidur.
"Kau habis dari mana hingga larut malam seperti ini?" katanya mengerutkan kening.
Rena gugup, ia takut Nean memarahinya karena mengajak Vano hingga larut malam.
"M-Maaf tuan Nean, S-Saya mengajak Vano hingga larut malam seperti ini.." kata Rena.
Nean mengerutkan keningnya, "Biar aku saja yang menggendong nya." kata Nean.
Rena mengangguk ia memberikan Vano hingga di pelukan Nean.
"Masuk lah biar aku antar," kata Nean.
Rena hanya diam, kemudian mengangguk. Mengikuti Nean dan memasuki mobil lewat pintu kiri. Menancapkan gas dan meninggalkan area setempat.
Rena dan Nean hanya berdiam diri di mobil. Sesekali Rena melirik ke belakang mengecek keadaan Vano. Lalu kembali menghadap ke belakang. Jarak rumah Rena agak jauh dari mall. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai.
"Kau tadi kemana saja di mall?" kata Nean.
Rena melirik, "Oh itu tadi hanya mengunjungi dua toko. Satu nya toko baju dan satunya restoran," kata Rena.
Nean mengangguk, "Apa hanya itu?" tanya Nean.
Rena mengulum senyum lalu menceritakan kejadian dimana Andina bertengkar dengan Vano di toko baju. Rena sendiri tidak tahu siapa mereka, namun berujung nya waktu yang semakin berjalan. Membuat Rena dan ibu Andin akrab satu sama lain. Anggap saja mereka se-frekuensi.
Nean sedikit terkejut karena Vano bertengkar dengan seorang gadis. Entah bagaimana sifat Vano membuat nya hanya menggelengkan kepalanya.
"Tuan Nean, boleh aku bertanya?" kata Rena menatap ke arahnya.
"Boleh, katakan saja." katanya.
"Apakah kalian sering membicarakan aku setiap hari?" kata Rena
"Maksud mu bagaimana?" tanyanya kurang mengerti.
"Ya seperti.. membicarakan tentang fisik dan sifat ku begitu? apakah kau yakin tak pernah membicarakan aku?" kata Rena berusaha mengkode.
"Kau tau sesuatu? tidak biasanya kau bertanya tentang seperti ini selain urusan Vano dan pekerjaan." katanya.
Rena hanya menggeleng, "lupakan saja." kata Rena lalu menatap luar jendela.
Nean tersenyum ke arah Rena karena menurutnya Rena itu aneh. Kembali ke situasi hening membuat Nean terpikir satu pertanyaan diotaknya.
"Besok kau bekerja?" kata Nean.
"Oh iya! besok saya bekerja, anda tenang saja." kata Rena.
Nean mengangguk, "Bekerja lah yang giat untuk diri mu sendiri." katanya.
Rena menoleh ke arah Nean dengan sedikit haru. Ia hanya mengangguk kemudian menjawab.
"Baik." kata Rena singkat.
Nean tersenyum, sesampainya di depan rumah Rena. Nean pun berhenti di halaman rumah sederhana itu.
"Oh ya Vano biar aku bawa pulang saja, kau bekerja lah dan istirahat saja." kata Nean seketika menghentikan aktifitas Rena yang membuka pintu.
"Oh iya baik tuan Nean, kalau begitu saya pulang ya. Terima kasih karena telah mengantarkan saya," kata Rena.
"Terima kasih karena telah membahagiakan Vano Rena," kata Nean dalam hati.
Brak
Pintu pun di tutup, Rena membungkuk hormat lalu memasuki rumahnya. Meninggalkan mobil Nean yang ada di depan rumahnya. Setelah memastikan Rena aman, waktunya Nean untuk pergi meninggalkan lingkungan rumah rena