
"Selamat datang di rumah-" ucap Vano memberi salam atas kedatangan orang tua Rena, Rena, Zeina dan Bryant.
"Terima kasih karena sudah menyambut-" ucap Zeina tersenyum.
"Hanya ada kakek nenek ku di rumah, sebentar lagi ia akan kemari-" ucap Vano
Rian menatap Vano begitu ia tidak menyebutkan nama ayah nya sendiri.
"Dimana orang tua mu-?" tanya Bryant menatap sekeliling yang sepi. Hanya di tempati barang perabotan kebutuhan rumah.
"Ayah ku di kamar, mengurus pekerjaannya. Maaf, ia tidak bisa datang-" ucap Vano
"Lalu ibu mu-?" tanya Bryant.
"Nona dan nyonya, dan tuan tuan. Silahkan ikuti saya ke ruangan makan, makanannya sudah tersedia semenjak tadi. Tidak enak apa bila dimakan waktu dingin-" henti Rian berbicara. Takutnya Vano akan tersinggung apa bila dirinya menjawab.
"Ah iya, apakah kami datang terlambat-?" tanya Rena berbasa-basi
"Tidak, kalian datang tepat waktu-" Seorang wanita paruh baya turun menggunakan tangga dengan seorang pria tua di belakang nya.
"Mereka nyonya dan tuan besar rumah ini, beri salam kepada mereka-" ucap Rian memperkenalkan tuan Alvin dan nyonya Alvin
"Selamat malam nyonya dan tuan besar-" ucap mereka serempak.
"Selamat malam, apakah ini ibu mu gadis muda-?" tanya nyonya Alvin menatap seorang wanita yang duduk di kursi roda.
"Benar, dia ibu ku. Apakah anda terganggu-?" tanya Rena.
"Tentu saja tidak, saya pernah kecelakaan hingga menduduki tempat kursi roda. dan mengalami ketidak enakan duduk di sana setiap saat, lebih enak nya bisa belajar terapi agar ia bisa jalan-" ucap nyonya Alvin.
"Anda terlalu terburu buru nyonya, kami tidak mempunyai uang untuk membiayai istri saya. Oleh karena itu kami masih bekerja untuk mengumpulkan uang secara bersama sama-" ucap ayahnya mengatakan.
"Kami juga sempat berpikir seperti itu, Namun ekonomi kita tidak terlalu mendukung-" ucap Rena menambahi ucapan ayahnya.
"Ah, saya kira makanan akan dingin 30 detik lagi-" ucap Rian sambil menatap arloji tangannya.
"Haha, kamu terlalu terburu buru Rian. Baiklah silahkan makan dulu, mungkin kalian akan lapar-" ucap nyonya besar.
"Tentu, tentu. Dengan senang hati-" ucap Bryant beralih.
"Ayo kakak-" ucap Vano ikut membantu mendorong kursi roda milik ibu Rena.
"Anak pintar-" puji Rena sambil mengacak rambut Vano.
Ketika Rena membenarkan posisi duduk ibunya, Nean datang. Menatap tamu tamu yang berdatangan. Begitu ayahnya datang, Vano menatap Nean dengan datar. Ia kira ayahnya tidak akan datang.
"Aku hanya datang untuk makan malam-" sambung Nean seolah-olah mengerti tentang tatapan anak nya.
Nyonya dan tuan besar pun menoleh kepada Nean yang mulai mengambil lauk pauk nya.
"Jenguh, disini saja lebih nyaman dan lebih luas-" ucap Nean.
Ia pun melirik Rena yang tersenyum kepada nya, ia hanya berdecih dalam hati lalu memakan lauk pauk nya. Ia pikir Rena mulai menyukai nya oleh karena itu dengan sigap membuang pandangannya ke arah lain.
Sombong banget sih tuh orang, pasti kakak nya. Enggak mungkin kak bapak nya, muda kek gitu. Batin Rena
"Nyonya dan tuan besar apa boleh saya bertanya-?" tanya Rena menatap kedua orang tersebut.
"***-"
"Di meja makan tidak ada yang boleh bicara-" ucap Nean tanpa menatap Rena.
"Tidak apa biarkan saja, lagi pula jangan canggung. Ini kan pertemuan pertama, kalo udah sering tidak apa apa. Iya kan pa-?" ucap istrinya menyenggol lengan suami nya.
Suami nya hanya mengangguk masam dan tersenyum kecut. Ia tidak bisa apa apa selain menuruti ucapan istri nya. Bisa bisa ia disuruh tidur pisah, ia tidak mau tidur di luar tanpa istri nya yang biasa ia pake guling untuk tidur.
"Ah terserah, Bii buatkan jus.. Teh hijau saja-" ucap Nean
"Baik den-" ucap bibi tersebut lalu pindah ke dapur.
"Anda mau tanya apa tadi-?" tanya nyonya Alvin.
"Perkenalan dulu, tidak sopan jika yang lebih tua bicara formal-" ucap Nean menatap tajam mereka.
Ayah dan ibu Rena mulai melirik ke arah Nean, begitu Nean merasa dipandangi ia pun langsung memalingkan muka. Ia juga tau, jika bertatapan kejam terhadap orang yang lebih tua tidak sopan dan berdosa.
"Nama saya Rena, ini teman teman saya Bryant dan Zeina. Mereka satu jurusan pekerjaan dengan saya, oleh karena itu-"
"Saya tidak menanyakan asal usul pertemanan kalian-" ucap Nean.
"Neann, jangan begitu. Kamu ini--!" ucap papa nya marah menepuk bahu Nean dengan kencang.
"Tidak apa apa pak, Bu. sudah lah biarkan saja, lebih baik kami tidak berbicara. Ini juga lagi di meja makan-" ucap ayahnya berusaha melerai pertengkaran anak dan orang tua itu.
"Maaf atas ketidak nyamanan nya pak, Bu-" ucap tuan Alvin merasa bersalah.
"Tidak apa apa pak, kami memaklumi-" ucap ayah nya Rena.
Orang tua Nean hanya mengangguk dan tersenyum masam.
"Tunggu di ruang kerja papa selesai makan-" ucap pak Alvin membisik.
"Hem-" ucap Nean.
Ia pun menaruh sendok dan garpu nya, lalu berdiri. Menatap tamu tamu nya dan agak membungkuk, setelahnya ia langsung pergi ke atas.
"Setidaknya ia masih punya kesopanan dan kesadaran-" ucap tuan Alvin menggumam.