My Parent'S

My Parent'S
Chapter 32_Cicip bubur



Setelah adegan perdebatan di supermarket. Nean memutuskan untuk pulang ke rumah Rena.


Dan juga memutuskan untuk memasak bubur di rumah Rena.


"Ayo mampir," ujar Rena turun dari mobil. Melangkah kan kakinya hingga ke pintu utama rumahnya. Memutar kunci rumahnya hingga terbuka.


"Ayo dad," ujar Vano turun dari mobil lalu membuka garasi. Mengambil belanjaan Rena yang di terbagi menjadi dua.


Vano pun menyusul langkahan kaki Rena. Sedangkan Nean, ia hanya berdiri di samping pintu kemudi. Lalu menutupnya berjalan dengan ragu memasuki rumah Rena yang terbilang sederhana itu.


"Maaf rumah ku kecil, tak sebesar rumah mu." Ujar Rena membuka kemeja nya menatap ke arah Nean yang hanya berdiri di pintu.


"Hem, tidak apa-apa." ujarnya mendekat ke arah Vano yang sedang mengubrak-abrik barang belanjaan Rena.


"Kau mencari apa Vano? Itu barang belanjaan Tante Rena." ujar Nean duduk di sofa.


"Susu! Bukankah aku tadi memasukkan susu kotak di kresek putih ini." ujar Vano pasrah. Saat tak mendapati minumannya.


"Apa kau sudah mencarinya dengan benar? Cari lah lagi, jika kau memasukkannya pasti ada." ujar Rena mendekat ke arah Vano.


"Sudah mom!" ujar Vano menatap ke arah Rena.


Rena hanya tersenyum, membungkukkan badannya lalu memberikan susu yang Vano cari di hadapannya.


"Mommy! Bagaimana mommy bisa mendapatkannya," ujar Vano tersenyum.


"Mudah, dengan mata." ujar Rena mencium kening Vano.


Nean yang sedari tadi nyimak langsung mendongakkan kepalanya.


Menatap Rena yang sudah memakai celemek.


Di tangannya bahkan terdapat 2 buah bubur rasa bayam pilihan Nean dan


wortel pilihan Rena.


"Vano kau tunggu disini ya," ujar Nean mendekat ke arah Rena.


"Yeah daddy," ujar Vano.


"Bagaimana cara memasak ini?" Tanya Nean membulak-balikkan kemasan bubur itu.


"Itu masih menjadi sereal. Itu akan menjadi bubur jika air ini sudah matang. Di belakangnya ada tata cara memasaknya," ujar Rena.


Sesuai instruksi dari Rena, Nean membalik kemasan itu. Benar


saja apa yang di katakan oleh Rena.


Nean membaca itu dengan penuh ketelitian. Hingga


Ia mengangguk mengerti.


"Airnya sudah matang?" Tanya Nean melirik ke arah air yang masih setengah mendidih.


"Sebentar lagi," ujar Rena mengambil gunting.


Memasukkan bubuk sereal ke dalam mangkuk. Menurut Rena


setelah memasukkan bubuk sereal ke dalam mangkuk. Langkah selanjutnya


ialah memasukkan 2 liter air.


Lalu mengaduk nya, sebelum benar-benar kental. Ia memasukkan


Bubur pun siap di sajikan😊.


Skip, setelah bubur bayam dan bubur wortel terbagi menjadi 2 bagian


masing-masing.


"Ini untuk mu, ini untuk ku." ujar Rena membagikan porsi setengah-setengah dari 2 macam rasa bubur tersebut.


"Terima kasih," ujar Nean membawa mangkuk tersebut ke arah Vano yang sibuk main game.


Menurut ku wortel lebih sehat. Batin Rena setelah mencicipi bubur rasa wortel tersebut.


Bayam lebih sehat, batin Nean mencicipi bubur rasa bayam tersebut.


"Tuan, wortel jauh lebih sehat. Karena terasa wortel nya," ujar Rena mendekat ke arah Nean.


"Bayam juga sehat, kandungan gizi nya jauh lebih banyak dari pada wortel." ujar Nean tak mau kalah.


"Tuan, tapi ini jauh lebih lezat. Wortel nya terasa," ujar Rena.


"Tapi bayam juga lezat, orang tua yang sakit. Harus rajin makan sayur!" ujar Nean.


"Wortel juga sayur tuan," ujar Rena.


"Sayur itu berwarna hijau! Berarti bayam yang benar," ujar Nean.


"Tuan, sayur itu bisa berbagai macam warna. Termasuk ungu seperti terong, orange seperti wortel dan lain-lainnya. Ini yang paling pas tuan," ujar Rena tetap sabar.


"CK, tahu apa kau. Sayur hanya berwarna hijau," ujar Nean.


"Apa rumput juga berwarna hijau?" Tanya Rena menjebak.


"Ya! Eh tidak-tidak, tunggu dulu! Rumput itu makanan sapi, berarti makanan sapi. Bukan sayur," ujar Nean menggelengkan kepalanya.


"Jadi selain makanan manusia yang berwarna hijau, kau tidak menganggap bahwa warna hijau itu hanya berlaku kepada manusia?" tanya Rena.


"Ya!" ujar Nean.


"Baiklah, dulu aku suka memberikan kangkung berwarna hijau kepada kelinci. Apa itu bukan sayur? Jika kau salah, berarti wortel ini yang akan kita pilih dan sepakati. Jika benar, maka bayam adalah pilihan mu dan aku hanya pasrah!" ujar Rena.


"Kangkung itu.. "


"Ada apa ini? Rena mobil siapa yang terp—"


Ayah Rena langsung terpaku melihat Rena dan Nean yang sedang menatap ke arahnya. Dengan membawa mangkuk, serta Vano yang hanya meliriknya cuek dan kembali memainkan game nya.


"Heh hei, siapa yang mengizinkan kalian menginap disini?" Tanya nya.


"Dia,"


Rena dan Nean saling menunjuk ke lawan jenis. Membuat pak Samsul beberapa menit terpaku.


"Lebih tepatnya?" Tanya pak Samsul kembali memastikan.


"Aku."


Rena dan Nean kembali menunjuk ke diri mereka masing-masing.


"Ah sudah lah lupakan, kalian sedang apa memegang mangkuk?" Tanya pak Samsul sembari mendekat.


"Ayah, kami sedang berdebat mengenai bubur mana yang lezat. Aku memilih wortel, karena sesama sayur. Tapi tuan Nean memilih bayam karena ia mengira bahwa sayuran itu hanya berwarna hijau. Tapi kenyataannya tidak kan yah?" Ujar Rena mendekat kepada ayahnya. Menyodorkan makhluk yang ia pegang.