My Parent'S

My Parent'S
Chapter 8_Sosok Nean



Tut Tut


"Seseorang akan menjemput mu nona-" ucap salah seorang pria berkata.


"Maksud nya-?" tanya Rena tak mengerti.


"Bawahan ku akan menjemput mu untuk datang ke rumah kami. Segera lah berpakaian yang rapi, sebentar lagi ia akan sampai-" ucap nya dari sebrang telepon.


"Owh, ini vano-?" ucap Rena


Pria itu hanya tersenyum, lalu mematikan teleponnya. Rena mendengar suara klakson begitu telpon di matikan, ya sudah lah. Ia pun menatap kedua orang tuanya yang sudah berdandan rapi.


"Aw, sudah lama Rena tidak melihat ibu berdandan rapi seperti ini-" ucap Rena terharu menatap ibunya.


"Ini berkat cinta dan kasih sayang ayah terhadap ibu kamu-" ucap ayahnya.


"Iya ayah, ya sudah. Bryant dan Zeina tidak bisa datang, kemungkinan mereka akan datang terlambat nanti. Aku sudah mengirim alamat rumah vano terhadap mereka. Mereka bisa menyusul begitu mereka akan berangkat-" ucap Rena menjelaskan sambil menatap handphonenya.


"Baiklah, yuk berangkat-" ucap ayahnya setengah bersemangat.


Rena hanya tersenyum lalu menyamakan langkahan kaki nya dengan langkahan ayahnya. Mengunci rumah sebelum ia tinggalkan.


Rian nampak membungkuk hormat kepada mereka, nampak wajah bahagia yang terukir di wajah orang tua Rena. Rian pun membuka pintu mobil, seraya mempersilakan ibu Rena dulu untuk masuk, dengan kekuatan ayahnya. Ia menggendong istrinya ke dalam mobil.


Setelah menggendong, Rena membantu meletakan kursi roda ke bagasi mobil. Lalu duduk di kursi depan, menoleh ke belakang sekilas menatap orang tuanya.


"Ibu, maaf. Mungkin agak menyibukkan-" ucap Rena berbicara.


Ibunya melirik ke Rena, tidak ada ekspresi apa apa. Namun wajah ibunya hanya berkeringat seraya ingin mengatakan sesuatu, suami nya mengusap keringat istrinya dengan penuh cinta.


"Jangan khawatir, Putri kita pasti akan menjaga diri nya baik baik. Bertahun tahun aku mengajarkan ilmu karate terhadapnya, benar begitu Rena-?" ucap ayahnya.


"Iya, tentu saja. Ibu tidak perlu khawatir-" ucap Rena mengangguk.


"Boleh saya memulai perjalanan-?" kali ini Rian mengesempatkan suasana itu untuk berangkat.


"Oh iya, maaf. Silahkan-" ucap Rena


"Teman teman anda berangkat lebih dulu disana. Oleh karena itu, saya segera menyusul kalian. Saya berkenan minta maaf apa bila saya datang lebih awal-" ucap Rian sambil menyetir.


"Apa-? T-Tapi.. Tapi dia mengatakan kalo dia akan berangkat terlambat-" ucap rena terkejut.


"Saya tidak tau jika teman teman anda mengatakan hal itu kepada anda nona-" ucap Rena


"Agh, lupakan. Kedua kancil itu memang selalu mendahului aku-" ucap Rena menatap luar jendela.


πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡πŸ¦‡


"Apa yang kamu lakukan Vano-! rumah kita bukan sembarangan tempat untuk pengundangan-!" ucap Nean memarahi Vano yang merupakan anak nya.


"Papii, aku hanya ingin bermain. Kenapa papi selalu melarang aku untuk mengundang teman teman-?" ucap Vano menatap Nean.


"Karena papi tidak mau hal dulu terulang lagi-! Papi akan menelpon Rian agar membatalkan semua nya-" ucap Nean mengambil ponselnya diatas nakas.


"Papi aku mohon, mereka hampir tiba. Jangan gegabah seperti ini, aku juga sangat kesepian Disini. Setiap hari dan setiap saat aku selalu dikekang, apa aku tidak boleh mengundang teman Sekali sekali hah-?" tanya Vano menghentikan Nean.


"Papi tidak mengekang kamu Vano, hanya saja papi tidak mau bertemu dengan teman baru kamu-!" ucap Nean mengerutkan dahinya marah.


"Teman ku berbeda papi, setidaknya papi melihat mereka dulu. Mereka bukan teman sekolah ku-" ucap Vano


"Berikan alasan yang meyakinkan agar papi mengizinkan mu-" ucap Nean melipat tangannya didada nya.


"Hanya sebentar, 2 jam-?" ucap Vano


"Ti-"


"Tuan, mereka sudah datang-" Pelayan Zen menghentikan perdebatan tersebut.


"Aku akan segera kesana-" ucap Vano. Kemudian Pelayan Zen pun melangkah pergi.


Vano menatap Nean sekilas, lalu pergi meninggalkan Nean di kamar tersebut.


"Vano-! hanya dua jam-" ucap papinya.


Vano menoleh ke belakang, berdiam diri sekilas..Lalu mengangguk..Nean menghela nafas dan beralih ke ranjang untuk istirahat begitu Vano sudah pergi ia melamun.


"Semoga saja ia tidak memanfaatkan mu dalam bertemu dengan ku semenjak ibu mu telah pergi dari mu Vano-" ucap Nean.


Ia trauma akan putri yang meninggalkan nya begitu ia menitipkan Vano kepadanya, Nean begitu bingung. Putri adalah teman nya, ia tidak pernah kehilangan diri dan memerkosa putri. Tanpa penjelasan, putri menyerahkan Vano kepada nya dan berlari meninggalkan mereka.


Kejadian itu sudah berakhir 13 tahun lama nya. sampai saat ini putri telah menghilang entah kemana. ia tidak bisa melacak dimana putri, keluarga nya tak begitu dekat dengan Nean. Sehingga Nean tidak memberanikan diri menanyakan perihal putri kepada orang tua putri.


Sejak kecil Vano menganggap Nean adalah ayahnya, walau Nean tidak suka dengan ucapan Vano yang memanggilnya dengan ayah. Semakin lama semakin sadar bahwa Vano juga membutuhkan kasih sayang. Ia memberikan segala aspek kepada vano agar ia merasakan kebahagiaan di dunia ini.


Ia tetap merawat Vano seolah darah daging nya sendiri, sejak Nean tidak mendapatkan kabar dari putri. Ia tidak dekat dengan wanita lain, teman Vano hanya memanfaatkan undangan yang diberi vano untuk menanyakan nya atau melihatnya.


Awal mula ketika Vano mengundang teman ceweknya ia masih bersikap baik. Namun ketika semakin sering vano mengundang, perasaan tidak suka muncul di hati nya. Ia pun memarahi Vano agar tidak mengundang teman temannya lagi.


Bisa di katakan, teman teman Vano sangat mengaggumi sosok Nean. Sejak itu lah, Vano hanya sesekali di datangkan di sekolah atau sekolah private. Nean tidak mau kalo Vano terus mendekati teman temannya yang selalu memanfaatkan kebaikan vano seperti yang dialami putri dulu.