
Rena dan Nean turun dari lantai atas, mereka berdua dengan senyuman merekah mendekat ke arah tuan dan nyonya Alvin. Membuat kedua orang tua itu saling menoleh satu sama lain dengan tatapan herannya.
"Ada apa ini? Kayak ada berita baik aja," ucap Nyonya Alvin dengan tebakan.
Nean duduk terlebih dahulu, disusul Rena. "Kami berdua sudah memutuskan untuk menikah, Bu." ucap Nean.
"Wahhh benarkah? Really love?" ucap Nyonya Alvin dengan bertanya ke arah Rena.
"Iyah, kabar ini saya sengaja beritakan karena ingin membuat kalian bahagia." ucap Rena dengan tersenyum.
Sontak saja nyonya Alvin mendekat dan memeluk Rena dengan penuh syukur. Ia benar benar sangat bahagia apabila Rena mau menikah dengan anaknya yang sudah tua itu.
"Cepet banget keputusannya, dari kapan?" ucap Tuan Alvin yang sedikit aneh
"Kenapa sih tanya gitu, kayak gak percaya aja." Jawab Nean dengan ketus.
"Ya gak percayalah, barang kali cuman candaan. Ayah gak mau kalau nikahan ini cuman candaan loh," ucap nya dengan tajam.
"Ia, aku juga setuju dengan ayah." ucap istrinya.
"Tidak, Bu, pak, kami benar benar memberikan keputusan ini dengan bijak. Dan berperang dingin satu sama lain, jadi tidak ada unsur apapun." ucap Rena.
"Benarkah? kalau begitu.. kita rayain pesta yuk!" ucap nya dengan gembira.
Rena terkejut, pesta apa lagi?
"Gak usah kek gitu, mama. Gak ada gunanya," ucap Nean dengan kesal.
"Tapi kan ini hari bahagia, hari ini mama akan mengadakan acara BBQ an." ucap nya.
"Terserah deh," ucap Nean.
"Kalau Rena bagaimana? biasakan menghadiri acara ini?" ucap nya.
Rena menoleh ke arah Nean, pria itu sama sekali tak menjawab dan hanya mengangkat bahunya.
"Eh.. i-iya." ucap Rena.
"Yes! Ayo yah, kita persiapkan semuanya." ucap nyonya Alvin dengan menarik tangan suaminya menjauh dari mereka.
"Lihatlah,bagaimana saya menjauh apabila setiap kesempatan bergabung pasti ada saja waktu untuk kita." ucap Rena dengan kesal. Nean terkekeh.
"Sabar sayang," ucap Nean.
...
"Tidak perlu mengkhawatirkannya, uang akan selalu ada untuk mu setiap saat." ucap Nean kepada Rena.
"Saya tau, tapi saya minta waktu untuk menyendiri terlebih dahulu sebelum melaksanakan upacara pernikahan ini." ucap Rena.
"Boleh, sampai kapan?" tanya Nean.
"3 Minggu ke depan," ucap Rena.
"Hah? omongan mu yang Minggu depan mengenai rencana pernikahan kita?" ucap Nean.
"Ehm... maaf, saya hanya bercanda." ucap Rena dengan tidak enak hati.
Nean tersenyum samar membalas ucapan Rena. Membuat wanita itu tidak enak.
"Maaf," ucap Rena berharap belas kasihan dari Nean.
"Seharusnya kau tidak mengatakan itu, tega sekali kamu!" ucap Nean.
"Tuan Nean, saya minta maaf." ucap Rena dengan cemberut.
Nean pun pergi dari sana membuat Rena mengejarnya. Namun Rena merasa bahwa pintu didepannya itu menghalangi. Terpaksa ia mengetuk pintu kamar Nean dengan memanggil namanya berulang kali.
Ketika dirinya termenung ia mendengarkan suara pintu terbuka. Ia pun menghadap ke samping dan terkejut ketika wajahnya bertabrakan dengan dada bidang Nean. Seketika saja Rena melotot dan bahkan ia mundur dengan wajah memerah.
"Kau masih disini?"
"Ehm.. m-maaf, saya akan segera pergi." ucap Rena lari terbirit-birit meninggalkan kamar Nean.
Nean menggelengkan kepalanya, ia pun kemudian masuk kembali kedalam kamarnya.
"Rena, saya boleh minta tolong?" tanya Nyonya Alvin. datang dari arah dapur.
"Boleh, Bu. Jika bisa akan saya bantu," ucap Rena. berbalik badan.
"kamu jemput Vano ya di sekolah, sudah waktunya sebentar lagi soalnya." ucap nyonya Alvin menatap jam tangannya.
"Iya,"
"Hati-hati dijalan Ren," ucap Nyonya Alvin melambaikan tangannya ketika mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Vano.
Nyonya Alvin berbalik badan dan tersenyum, kemudian ia berjalan memasuki rumah dan menutup pintu besar milik nya.