
Tok Tok Tok
Kedua orang yang bernama Bryant dan Zeina itu mengetuk pintu dengan tenang. Ia membuka pintu sambil mengintip, Rena sedang tidur di temani ayah nya yang beristirahat di sofa
"Aduh gimana nih, Na?" ucap Bryant dengan pelan.
"Gimana apa nya bry?" tanya Zeina.
"Mereka sedang tidur, aku takut menganggu." ucap Bryant berbisik.
"Menganggu? Mana sih coba lihat... " ucapnya sembari menarik baju Bryant dan membawanya ke belakangnya. Ia mengintip ruangan itu, melihat kedamaian antara anak dan bapak itu.
"Iya juga ya, kalo di bangunin kan kasihan.. tapi gimana nih.. Udah jauh jauh kesini masa kita kembali lagi.. " ucap Zeina sembari menatap Bryant.
"Gimana kalo kita meletakan ini lalu pergi? asalkan tidak menimbulkan suara, Na!" ucap Bryant memberi ide.
"Iya juga, yaudah yuk! Pelan - pelan ajah," ucap Zeina membuka pintu.
Kriek..
Suara itu terdengar, Zeina membeku seketika. Sambil memperhatikan kedua orang itu yang hanya memindahkan posisi tanpa terbangun.
"Gimana? Hati hati dong, Na! Kan gak enak kalo membangunkan mereka.. " ucap Bryant
"Iya iya bry! Gua udah hati hati kok.. yaudah yuk masuk.. apa perlu copot sandal?" tanya Zeina melirik ke arah Bryant.
"Gila kali Lo! Ya kalo lantai nya dingin, orang dingin!"
"Aduhh bry, lu ngomong apaan sih. Kagak paham gua," ucap Zeina
"Ya itu menurut Lo! Gimana gua.. " ucap Bryant
"Lo paham?" tanya Zeina
"Enggak,"
"Bukan temen gua Lo!" ucap Zeina lalu melangkah mengendap - endap.
"Tega Lo Ama gua!" ucap Bryant mendorong Zeina dengan jemari tangan sebelah kanannya.
"Bryant!!!" teriak Zeina.
Brug
"UPS.. " ucap Bryant memegang mulutnya dengan kedua tangannya
"Hah!! Siapa... " ucap Rena langsung bangun..
"Loh? Zeina dan Bryant ... " ucap ayah Rena terduduk di atas sofa setelah mendengar suara kegaduhan.
"Aduh.. maaf pak, Ren, kami enggak sengaja.. Ayo Na, bangun! kamu ini.. jadi terbangun kan!" ucap Bryant sambil membantu Zeina bangun dari lantai.
"Gimana sih!! Lo yang dorong gua kok malah gua yang di marahin.. " ucap Zeina menggerutu.
"Lo sih.. "
"Udah udah gak papa, sini sini duduk dulu. Gak papa kalo di bangunin, kan gini cara penyambutannya agak enggak enak." ucap ayah Rena sembari berdiri.
"Iya pak, maaf. Tadi kami agak sungkan, beberapa kali ketok pintu enggak ada yang jawab jadi gini deh hehe.. " ucap Bryant Celengir.
"Ya, saya tidur siang sambil istirahat, dari Yogyakarta soalnya, langsung kesini setelah mendapatkan kabar dari tuan Andra bahwa Rena masuk ke rumah sakit.. " ucap nya dengan sopan.
"Loh, kami juga di telpon loh pak! Kami kira, cuman kami saja yang di beritahukan! Tapi nyata nya bapak juga," ucap Bryant duduk di sofa sebelah Zeina.
"Iya, kalian kan teman temannya Rena. Bapak juga ayahnya Rena, sudah menjadi kewajiban bapak jenguk anak sendiri. Toh gak ada salahnya, kita kan satu darah."
"Iya pak hehe, oh iya.. Ini kami bawa beberapa macam buah untuk Rena." ucap Bryant menyerahkan kantong putih besar.
"Aduh, gak usah repot repot nak! Bapak jadi sungkan gini gini.. "
"Gak papa pak, kita juga jenguk teman. Masa gak ada oleh oleh nya pak, itu dari kebunnya Zeina pak. Di kasih ibunya, titip salam juga katanya. Iya kan, Na?" tanya Bryant.
"Kalo gitu bilangin makasih ya sama ibu kamu! Disini bapak juga titip salam! Udah di bawain buah buahan.. " ucap nya meletakan kantong itu di atas nakas sebelah brangkar Rena.
"Iya pak, sama sama." ucap Zeina tersenyum simpul.
"Kamu yang terluka dimana, Ren? Kok bisa di rumah sakit?" tanya Bryant menatap Rena yang hanya bersandar menyimak perbincangan mereka.
"Gak papa, jatoh tadi di kantor." ucap Rena singkat sambil tersenyum simpul.
"Yang benar saja?" tanya Bryant.
"Iya bry.. Aku gak papa," ucap Rena berusaha meyakinkan.
"Ya udah kalo gitu, kamu nya bohong sama aku Ren!" ucap Bryant bersandar. Meletakan kedua tangannya di dada, menatap Rena hingga berbicara jujur.
"Iya tadi, Rena juga bilang ke bapak kalo dia baik baik ajah.. Tapi kan gak mungkin kalo dia baik baik saja sampai ke ruangan inap!" ucap pak Samsul sembari mengejek anaknya. Ia memang sudah tau kalo Rena menyembunyikan sesuatu dari dirinya, hanya saja menunggu waktu yang tepat untuk mengetahuinya. Berhubung ia capek sehabis traveling ke Yogyakarta, ia tak bisa memaksakan kehendak anaknya itu.
"Bapak ini apa apaan sih pak! Kalian jangan khawatir! Aku baik baik saja, walaupun tulang ku retak." ucap Rena pelan namun bisa terdengar dari telinga mereka bertiga, ya kebetulan ajah telinga mereka jauh lebih aktif di banding biasanya.
"Apa!! Dimana?!" tanya mereka bertiga kompak.
"Di-Di tangan... " ucap Rena gugup melihat ke-kompakan mereka.
"Tuh kan, bilangnya enggak papa tapi nyata nya terluka kan! Jujur ajah kenapa sih, orang terdekat juga.. " ucap Bryant kembali bersandar. Rasanya ia malas bergerak saat saat ini.
"Iya kan gak papa! Hanya retak doang kok, lagi pula nanti juga sembuh! Gak usah di besar - besarin sih!" ucap Rena menenangkan jantungnya yang joged di dalam sana. Sayangnya, tertutupi oleh tulang tengkorak dengan kulit berserta daging nya.
"Walaupun menurut kamu itu masalah kecil, tapi kami berhak tau Ren! Kami ini kan sahabat kamu, apa lagi bapak kamu! Kamu gak merasa berdosa berbohong sama bapak kamu sendiri?" ucap Bryant Menasehati. Ya, di saat saat begini biasanya Bryant lah yang paling dewasa akan perilakunya.
"Ya.. aku gak bermaksud bohong sama bapak. Lagi pula tanpa aku beritahu entar bapak juga akan tau.. " ucap Rena menjadi merasa bersalah
"Walaupun begitu, kamu britahu kita cepat atau lambat. Rena!" ucap Zeina membuka suara.
"Iya iya, maaf!" ucap Rena mengalah.
"Hemm," ucap mereka bertiga kompak.
"Yaudah ya, bapak mau pulang dulu. Sama biaya administrasi sekalian, mendaftarkan kamu disini kan butuh biaya juga.. " ucap pak Samsul beres beres. Ia mengambil jaket nya berwarna hitam dan memakainya.
"Bapak enggak capek? Duduk dulu setidaknya.. " ucap Rena
"Enggak papa! Kasihan ibu kamu di rumah, kangen! Yaudah yak, lagian kamu juga di temani teman teman kamu. Bapak titip Rena ya!" ucap pak Samsul membungkuk. Mengambil dompet nya dan memasukkannya ke saku
"Iya pak, pasti!" ucap Zeina dan Bryant bersamaan.
mereka mengulurkan tangan, kemudian pak Samsul meraih tangan mereka dan berpamitan.
"Hati hati pak di jalan!" ucap Rena menyalimi tangan bapak nya.
"Iya! Jaga kesehatan! bapak pulang dulu.. " ucap pak Samsul kemudian di angguki oleh mereka.
"Nanti bapak kembali lagi, enggak tau! Mungkin besok sama ibu kamu! Yaudah ya! Nak Zeina dan nak Bryant jaga Rena ya! Bapak minta tolong!!" ucapnya untuk terakhir Kalinya.
"Iya pak!" seru mereka bertiga.
Pak Samsul ( ayah rena) pun menutup pintu, bergegas ia pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya.
"Ayah kamu perhatian banget sama kamu Ren!" ucap Bryant.
"Iya, nama nya juga aku anak satu satu nya bry. Kalo aku tiada... "
"Huss, gak boleh bicara gitu Ren!" ucap Zeina mengerutkan keningnya.
"Iya maaf.. " ucap Rena.
Bryant dan Zeina hanya menggelengkan kepalanya. Selebihnya, mereka berbincang bincang mengenai kenapa itu bisa terjadi? Tak sadar akan waktu, hingga malam hari tiba.. Bryant dan Zeina memutuskan untuk menginap disana. Untung disana ada tikar, yang di sumbangkan pasien sebelumnya untuk penjenguk supaya bisa istirahat lebih nyaman.
Zeina di sofa sedangkan Bryant di tikar, ia tak tega apa bila Zeina kedinginan disana. Mumpung badan Bryant kekar ni ya, dingin di malam hari mampu ia lewati dari pada dingin di kutub Utara.