My Parent'S

My Parent'S
Chapter69_Diusir



(Karena ada pemberitahuan untuk up saya akan up🙂)


Nean telah mengambil suatu kamar di hotel selama sebulan. Kurang lebih dirinya akan menginap di hotel selama Flower masih tinggal dirumahnya. Ini keputusan yang salah memang. Tapi disana ada ibu dan penjagaan ketat untuk menjaga Vano.


***


Keesokan paginya di kediaman Vano...


Pagi ini Vano bersiap untuk sekolah. Merapikan dasi nya dan keluar kamar untuk sarapan. Wajahnya sumringah, ia lupa jika ada Flower disana. Pesta pernikahan kemarin membuatnya ingin menyapa Rena sebagai mommy barunya.


Namun langkahnya terhenti kala melihat wajah asing didepannya itu. Vano acuh, ia berjalan melewatinya begitu saja.


"Vano kau tidak mau menyapa mama?" tanya Flower mengikuti anak lelakinya.


Vano tetap diam dan berjalan membelakangi flower.


"Vano..."


"Vano kau sudah datang?" Oma yang baru saja menyelesaikan tugasnya untuk membuat sarapan langsung terhenti kala melihat Vano datang di meja makan.


"Iya Oma." Vano mendekat dan mencium tangan Oma nya.


"Vano langsung berangkat ke sekolah saja, tidak papa." imbuhnya.


Oma mengangguk dan menyiapkan bekal untuk Vano. Ia sudah paham mengenai kondisi Vano, karena itu Oma menyiapkan bekal untuk cucu nya.


"Hati-hati." Oma melambaikan tangan kepada Vano yang telah dijemput sopir dan bergegas ke sekolah.


Flower melangkahkan kakinya ke sofa, ia datang disini hanya untuk menjemput anaknya pulang bersama nya. Jika urusan masak, menyiapkan sekolah ataupun bekal Vano itu bukan urusannya. Biarlah nenek tua yang biasanya dipanggil Oma oleh Vano yang menyiapkannya.


Ketika flower memegang remot televisi, Oma menyindirnya ketika berjalan menuju dapur hingga membuat Flower menggenggam erat remot Tv ini


"Kau boleh melakukan aktifitas apapun selayaknya hantu. Tapi jangan harap kau bis merebut Vano dari keluarga kami." Oma berbicara ketus epadanya.


"Kenapa kau berbicara dengan nada seperti itu?" Flower tidak terima dan berdiri menghadap Oma.


Flower membanting remot itu. Menatap benci kepada Oma.


"Ya itu memang benar. Seharusnya kau tidak membawa ku kesini, karena itu kau harus menerima semua konsekuensi nya. Aku akan merebut Vano dari kalian!!" Bentak Flower dengan suara besar hingga membuat Nean melemparkan Vas yang ada di sebelah kanan nya ke arah kaki Flower.


"Jaga bicara mu itu!!!" Teriak Nean.


"Nean... nean aku tidak bermaksud.. "


"Diam! kami membiarkan mu tinggal disini karena kasihan. Jika kau membentak ibu ku kau tidak menghormati kami. Sebaiknya kau pergi dari sini, flower." ucap Nean memeluk ibunya.


"Kau tidak apa-apa, ibu?" tanya Nean menatap ibunya yang berkaca-kaca.


Ia mengangguk. "Nean, ia berbicara ketus kepada ku. Aku tidak suka karena itu aku membentaknya tadi," ucap Flower.


"Kau seharusnya berpikir martabat mu di keluarga kami itu apa, Flo. Walau kau seorang model atau artis sekalipun. Itu hanya berlaku ketika kau bekerja saja disana, ditempat mu. disini kau hanya seorang ibu yang tidak tau diri! Meninggalkan anaknya dan menitipkannya kepada ku. Kau pikirkan Vano apa!? sampah? iya!??" Bentak Nean.


"Tidak, saat itu aku--"


"Cukup, Flo. Aku sudah muak dengan semua alasan mu, Lebih baik kau pergi dari sini," ucap Nean.


"Nean..." Flower menggelengkan kepalanya dan bibirnya bergetar menahan tangis.


"Jika itu mau mu aku akan pergi, tapi ingat. Kita akan bertemu lagi di pengadilan," Flower menghentakkan kakinya keluar dari kediaman sahabatnya. Ia merasa terhina bahkan jati dirinya sudah tidak ada harga dirinya lagi. Semua musnah karena satu kesalahan besar yang ia perbuat.


Seharusnya ia merawat Vano, entah dalam kondisi sakit ataupun miskin sekalipun. Setidaknya ia masih berjuang menghidupi Vano walau hanya seribu saja. Setidaknya itu hasil kerja kerasnya..


"Sudah Bu. Jangan dipikirkan, Flo memang seperti itu dari dulu." Nean menenangkan ibunya.


"Iya. Tapi hak asuh Vano bagaimana Nean? aku khawatir." Isak nya.


"Aku akan merebut hak asuh itu dengan Rena. Kau jangan khawatir, aku ke kantor dulu." ucap Nean berpamitan.


Oma mengangguk dan menatap punggung Nean yang mulai menjauh dari pandangannya.