
Malam ini adalah malam yang panjang, Vano meminta Rena agar ikut tidur bersama nya. Ia akan menangis apa bila Nean tidak menyetujui nya, dengan berat hati dan mengharapkan Rena agar mau menurutinya pun ia hanya mengiyakan saja ucapan Vano.
Setelah bermain, Vano meminta Rena agar terus menemani nya hingga ia terlelap. Pukul 11 malam Vano bisa tidur, sepanjang malam Rena terus menguap. Setelah merapikan tempat tidur Vano dan menyelimuti tubuh Vano dengan selimut. Ia pun keluar meninggalkan nya.
Ia menatap Nean yang berdiri didepannya, dengan menundukan kepala ia hendak pergi. Namun tangannya di genggam oleh Nean. Membuat nya harus menatap Nean.
"Maaf karena merepotkan mu hari ini, Vano anak nya memang keras kepala. Aku tidak bisa membujuknya tanpa dirimu-" ucap Nean.
"Setelah perbuatan mu tadi sore akankah aku harus memaafkan mu-?" tanya Rena tak kalah kesalnya.
"Maaf, aku benar benar emosi karena tidak ada waktu untuk ku, supaya memikirkan ucapan orang tua ku-" jawab Nean.
"Aku tidak menyukai mu, aku hanya menikah dengan mu karena perjodohan. Bisakah kau melepaskan tangan ku-?" ucap Rena
Begitu mendengarnya Nean langsung menatap tajam Rena, seraya ia terkaget dengan ucapannya. Karena tak kunjung di lepaskan, Rena menghempaskan tangan Nean. Lalu beralih ke kamar baru nya.
"Perjodohan-?" gumam Nean.
***
Hari ini adalah hari yang sangat berharga bagi keluarga tersebut, mereka tidak mendatangkan penghulu. Karena keputusan Nean, sedari kemarin pukul 12 ia mengetuk pintu kamar orang tua nya.
Lalu meminta agar membatalkan undangan penghulu untuk menikahkan nya dengan Rena. Melainkan langsung datang ke KUA supaya lebih cepat.
Pagi pagi Rena sudah bersiap siap. Ia melihat diri nya di pantulan cermin, rambut yang di kepang. Dress berwarna merah muda se-lutut, wajah yang tak bersemangat. Terlihat jelas disana, ia memegang cermin itu sambil berkata...
"Ini benar benar bukan diri ku-!" ujarnya sendiri dengan sendu di kaca.
Brak
Seseorang membuka pintu dengan kasar di kamar Rena. Sontak Rena pun langsung membalikkan tubuhnya menatap orang yang telah datang disana. Sosok Nean, dengan pakaian Kumal nya menatap tajam nya.
"Kau ... Apa yang kau lakukan." ucap Rena takut ketika menatap Nean yang berjalan mendekat ke arahnya dengan tajam.
"Sini, ikut aku." ucap Nean menarik tangan Rena dengan kasar.
"Ap-Apa? Kau mau membawa ku kemana...Lepaskan aku, lepas-!!" teriak nya sambil meronta.
Nean masih tak bergeming, suara Rena yang menganggu itu pun mendatangkan nyonya dan tuan rumah itu. Mereka menatap Nean yang membawa paksa calon menantu nya ke bawah.
"Nean, Nean apa yang kau lakukan? Lepaskan tangannya, Nean.." ucap ibunya menarik tangan calon menantunya.
"Nean! Apa pantas seorang Presdir seperti mu bersikap kasar kepadanya, hah-!" teriak ayahnya.
Namun tetap saja, suara kedua orang tersebut yang terdengar berat sambil berteriak. Tak mampu membuat hati Nean luluh. Ia sibuk dengan pikirannya di otak nya.
Nean pun langsung berhenti tepat di ujung pintu, Rena melirik Vano yang berlari turun tangga dari atas. Menuju ke arahnya, dengan kasar Vano mengigit tangan ayahnya lalu menarik tangan Rena menjauh dari ayahnya
"Ayah, apa yang kau lakukan. Kau akan membawa dia kemana-?" tanya seorang bocah polos melindungi Rena di belakangnya.
"Pergi lah Vano, ayah tidak akan melukai mu. Dia harus di singkirkan-" ucap Nean melirik tajam Rena.
"Kenapa-?! Apakah kau mau membawa pergi Ibu ku lagi ayah-!! Kau tega melakukan itu-? Bahkan..Belum sehari aku puas bermain dengan ibu ayah-" ucap Vano tak kalah tajamnya. Ia juga bukan anak kecil lagi, ia juga mengerti akan keadaan di rumah nya. Umur nya yang sudah lebih dari 10 tahun cukup membuatnya dewasa.
"Vano, dia bukan ibu mu, ayah berbohong kepada mu." ucap Nean mengerutkan keningnya tajam.
"Ayah berbohong atau tidak, aku sudah sayang kepada nya. Aku tidak mau teman teman ku mengolok - olok ku bahwa aku anak haram..aku ingin seorang ibu. Aku akan menjaga ibu jika ayah tidak menyukai nya-" ucap Vano dengan berkaca - kaca.
"Vano-! Dia bukan ibu mu yang asli, ayah akan tunjukkan ibu mu yang asli, tapi lepaskan dia-" ucap Nean.
"Tidak, tidak akan-" ucap Vano menggelengkan kepalang sambil berjalan mundur. Tangannya masih saja menyeret Rena agar menghindar dari Nean.
"Vano, serahkan wanita itu kepada ayah. Ayah akan menunjukkan ibu mu, lepaskan dia Vano-" ucap Nean berjalan selangkah.
"Ayah boong-!! Berulang kali ayah bilang ayah akan membawa ku ke pada ibu. Tapi sampai sekarang tidak pernah membawa ku, dia..Ibu ku atau tidak. Aku akan menjaga nya, karena ayah sendiri lah yang menyerahkan dia kepada ku kemarin malam-" mengingat ketika ayahnya bilang bahwa Rena adalah ibunya. Cukup membuat Vano yakin, Rena adalah ibunya.
"Vano," Suara berat dari Rena membuat Vano memalingkan muka nya ke arah ibunya.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. aku mohon jangan tinggalkan aku-" ucap Vano berkaca kaca hampir menangis. bahkan, sudah ada sebutir air di ujung matanya.
"Vano, kamu anak pintar. Kembali lah ke kamar mu, ibu akan kembali setelah menuntaskan masalah ini. Ya?" tanya Rena membungkuk. Mengacak rambutnya lalu tersenyum.
"Tapi.."
"Yakin lah, ibu akan kembali. Oke?" tanya Rena.
"Baiklah, cup." Vano mencium pipi Rena sebagai rasa sayangnya. Sekeluarga itu terkejut ketika Vano mencium pipi Rena, Rena yang sadar akan di plototi tajam oleh Nean. Ia pun tersenyum kepada vano berusaha menghilangkan rasa canggungnya.
"Kembali lah," ucap Rena menegakkan tubuhnya.
"Cepat menyusul ya~" ucap Vano yang hanya di angguki oleh Rena.
Ia pun berlari ke atas hingga memasuki kamar nya. Rena menghela nafas, ia melirik Nean dan sekeluarga itu
"Aku tau apa yang ingin kau katakan, ikut lah dengan ku. Jika kau ingin tau akan jawaban ku-" ucap Rena membalikkan tubuhnya. Ia melirik Nean sekilas dari ekor matanya, lalu berjalan ke balkon sana.
"Nean..Bersikap baik lah kepada nya." ucap nya khawatir
"Lihat saja nanti," ucap Nean dingin lalu mengikuti Rena.