
Sedangkan tadi pagi, Vano sedang kasmaran cinta dan mendapatkan kasih sayang seorang bunda. Apalagi pertama kalinya diantar oleh wanita yang sudah ia anggap mamanya. Tidak perduli dengan kejadian yang sudah lama membuat Vano tidak ingin bersekolah lagi. Ia masuk tanpa memikirkan apapun lagi dan hanya akan fokus mendapatkan nilai bagus UAS kedepannya.
Brugh
Vano terdorong ke belakang ketika ia tak sengaja menabrak pria yang lebih tinggi darinya. Vano mengerut dan bangkit. Mengibaskan tangannya dan mendongak.
"Kalian? kalian mau apa?" tanya Vano.
"Ck, sok sok an mau kami apa. Dari mana saja kamu? sudah 2 bulan tak masuk sekolah, apa kamu sadar bahwa kami membutuhkan mu? cepat, berikan uang saku mu pada kami." ucapnya menyodorkan tangan.
Vano menatap mereka dengan dingin, bahkan aura nya saja sampai orang yang di dekatnya menjauh. Vano meraba sakunya dan mengeluarkan lembaran uang ungu. Memberikannya kepada mereka.
"Hanya ini? kamu menyembunyikan nya ya? Mana coba lihat saku kamu." ucapnya dengan paksaan meraba saku Vano membuat anak kecil itu memberontak dan bahkan mendorong nya.
"Aku tak ada uang lagi, hanya itu. Bisakah kalian menyingkir dari jalan ku? aku mau lewat," ucap Vano dengan sedikit menabrak bahu pria pria itu.
"Hei Vano! ingat, kamu sudah mencelakai teman kami bahkan dia sampai tidak masuk Sekolah sejak saat itu. Apa kau tidak merasa bersalah? kau mengabaikannya?" ucap nya dengan menunjuk ke arah Vano.
Vano memperhatikan langkahnya, mengingat bahwa ada beberapa orang yang masuk ke dalam rumah sakit. Tapi itu bukan salahnya, ia tak melakukan apapun dan hanya membantu saja. apa kaitannya dengan dirinya?
"Aku tidak melakukan hal sekeji itu, bahkan sampai mereka masuk rumah sakit. memang apa yang kalian ketahui?" ucap Vano berbalik badan.
"Ya kami tau saja karena ia yang menceritakan nya pada kami!! Nama mu sudah jelek di sekolah ini tak akan ada harapan untukmu mendapatkan nilai bagus. Cih, ayo pergi."
Vano merenung di tempatnya, sekolah ini. Sekolah besar yang menjadi milik ayahnya apa mungkin dirinya tak bisa mendapatkan nilai bagus? ia menggeleng dan memegangi dadanya. Kemudian karena bel masuk sudah berbunyi ia segera menuju kelas dan melaksanakan kegiatannya.
Tringggg
Vano menoleh ke arah pintu dan melihat teman-temannya berlarian keluar kelas dan pulang. Ia membersihkan peralatan sekolahnya ke dalam tas kemudian berpamitan dengan guru. Diperjalanan nya ia dapat melihat bahwa beberapa orang tinggi yang menbully nya tadi datang dan menatap tajam serta takut dimatanya..
Vano berdecak dan pergi. Ia melotot berbinar ketika menatap Rena yang menunggunya di kursi. Ia tersenyum kepadanya dan melambaikan tangannya. Vano pun berlari dan memeluk mamanya.
"Ibu datang kemari? pantas saja ia tadi takut, haha." Tawa Vano terdengar mengejek.
"Hah?" ucap Rena.
"Tidak, ayo pulang." ucap Vano menarik tangan Rena.
Rena pun membukakan pintu untuk Vano dan ia ikut masuk ke dalam.
"Apa ibu tau? di sepanjang jam pelajaran tadi tidak ada pekerjaan harian sama sekali,hanya ada ulangan saja." ucap Vano melepaskan tas nya.
"Oh ya? Tapi jangan senang dulu, walaupun dulu ibu setiap ada ulangan harian mesti ada pelajaran seperti biasa juga sih, soal ulangannya kamu bisa apa tidak?" tanya Rena.
Vano mengangguk dengan ragu, "Oke, kalau nilai ulangan kamu tidak memuaskan nanti kamu di larang melihat kakak loh ya." ucap Rena.
Vano mengerucut, ia melingkarkan tangannya di lengan wanita dewasa itu. Menaruh kepalanya yang pusing disana.
"Jangan pergi," ucap Vano
"Kakak tidak akan pergi kemana pun, cuman memberikan hukuman pada kamu. Karena tindakan mu yang ke PD an itu salah," ucap Rena.
"Vano takut kalau ibu benar benar pergi," ucap Vano.
"Ibu kan tidak pergi, selepas ini kan-"
Rena tercekat ketika menatap jalur yang berbeda yang biasanya ia tempat. Ia mengerutkan keningnya dan bertanya,namun si supir menjawab bahwa ini adalah jalur singkat. Sontak saja Vano merasa aneh karena ia tak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Ia tahu betul, lintasan mana yang dekat dari rumah ke sekolah.