
Ketika sore hari tiba, Nean pulang dengan diantar oleh asistennya. Andra.
"Tuan saya pulang dulu-" ucap Andra diangguki oleh Nean.
Nean pun masuk ke dalam rumah. Ia menatap ibunya dan ayahnya yang saling berdiam diri.
"Tumben hanya diam, kenapa-? Apakah Vano membuat masalah baru-?" tanya Nean.
"Bukan Vano, tapi kami-" ucap nyonya Alvin menjawab.
"Apa maksud kalian-?" tanya Nean.
"Kemari lah, kami ingin berbicara kepada mu-" ucap nyonya Alvin memanggil Nean.
Nean pun menatap kedua orang tua nya sekilas, lalu mendekat. Duduk di samping ayahnya, melirik mereka berdua yang masih belum bisa Bicara. Ia menatap Rena dengan pakaian yang ada di lemari turun dari tangga.
"Kau-!" ucap Nean menatap tajam Rena.
Rena menghentikan langkahan nya, menatap Nean. Sekilas ia pun menunduk, lalu kembali berjalan. Ia tetap saja menatap Rena yang berjalan mendekat ke arah nya lalu duduk didepan nyonya Alvin.
"Kenapa dia bisa ada disini-?" ucap Nean tidak suka.
"Ibu yang menyuruhnya, Nean-"
"Kenapa Bu-?" tanya Nean
"Kami membuat masalah, dengan menjodohkan kalian berdua-" ucap istri tuan Alvin dengan agak menunduk.
"Apa-!" teriak Nean kaget.
"Buu, kau tau. aku tidak ingin menikah, kenapa kau harus menjodohkan ku-!" ucap Nean emosi.
"Nean, ini kebaikan mu. Umur mu sudah 35 tahun, jika kau tidak cepat cepat menikah entah apa yang terjadi kepada kami berdua-" ucap ayahnya sudah mulai Berbicara.
"Ayah-"
"Kau tau, kami berusaha menyembunyikan perasaan kami soal cucu. Apa kau pikir Vano itu dengan mudahnya bisa kita terima-?! kami juga mau mengendong seorang cucu dari menantu kami sendiri-! apa kau tudak mengerti perasaan kami sebagai orang tua mu Nean-!" ucap ayahnya yang sudah mulai berkaca-kaca
"Aku akan menikah tapi tidak sekarang ayah-!" ucap Nean mengerutkan keningnya
"Besok-! Rena ingin kau besok harus menikah dengannya-!" ucap istri tuan Alvin.
Nean menatap tajam Rena, ia pun langsung berdiri dan menarik tangan Rena.
"Kau mau bawa kemana Rena, Nean-!" teriak tuan Alvin.
"Aku mau berbicara dengannya-" ucap Nean tetap menarik kasar tangan Rena.
"Tuan, sakit. saya mohon lepaskan-" ucap Rena berbisik sambil meronta.
Nean masih berjalan hingga di kamar nya.
Bruk
Rena di hempasan begitu saja sehingga terduduk di lantai.
"Aku tau kau menyukai ku, tapi bukan begini cara nya-! Rena-" ucap Nean menatap kesal wajah Rena.
"Tuan-" kaget Rena ketika Nean dengan PD nya mengatakan bahwa dirinya menyukai Nean.
"Apa-! kau mau menikah dengan ku kan-? Baik, aku akan mengabulkan permintaan mu-! jangan menyesal setelah aku menikahi mu, dan jangan menyesal apa yang akan aku lakukan setelahnya-!" ucap Nean langsung keluar meninggalkan Rena.
Rena dengan mengerutkan keningnya hanya bisa bengong dan khawatir. Ia tidak bisa mengatur pernafasannya, seolah olah rasanya sangat berat ketika ia bernafas.
"Apa yang harus aku lakukan, aku tau ini hanya kesalahpahaman.. Tapi .. Kenapa harus seserius ini--!" ucap Rena kesal.
***
"Vano, kenapa kau disini-?" tanya Nean.
"Kau siapa-?" tanya Vano.
"Apa maksud mu-?" tanya Nean heran.
"Aku siapa, ayah-! Katakan, jujur kepada ku. Kau mengadopsi ku.. Bukan-?" ucap Vano dengan perlahan lahan
Nean hanya berdiam diri, ia tidak bisa berkata kata menatap anak nya ini. Apakah benar ini sudah waktunya-?
"Katakan AYAH-!!" teriak Vano menggema.
"Kau..Anak ku-" ucap Nean agak menunduk.
"Lalu dimana ibu ku-?" tanya Vano yang masih menatap Nean
Rena pun keluar dengan agak berlari sedikit, ia menghentikan langkahnya begitu ia menatap Nean dan Vano didepannya
"Ada apa ini--?" tanya Rena
Nean melirik Rena, lalu melirik Vano. Pandangan mereka kembali bertemu.
"Sudah terjawab bukan-? Dia ibu mu-" ucap Nean berbohong.
"Hah-?" ucap Rena terkaget
"Jangan berbohong kepada ku ayah, aku akan marah apa bila kau berbohong-" ucap Vano
"Dia ibu mu, bukan kah begitu. Sayang-?" ucap Nean menarik tangan Rena hingga ke pelukannya.
Rena mengerutkan keningnya menatap Nean. Ia berusaha meronta, namun Nean mengancam nya.
"Jangan berani berani nya kau meronta, aku akan membunuh mu apa bila kau tidak bisa di ajak kerja sama-" bisik Nean mendekat ke telinga Rena.
Rena bergidik ngeri ketika merasakan nafas Nean yang sampai di leher nya
"Ibu-" panggil Vano menatap Rena.
Rena pun mengedarkan pandangannya ke Vano. Sekarang ia mengerti, apa maksud Nean mengancam nya.
"Katakan, "Iya"-" ucap Nean berbisik.
"Apa-?" tanya Rena menatap Vano dengan datar membuat Nean salah tingkah.
Sekeluarga ini mengancam ku, apa mereka ini sedang komplotan. Atau situasi yang membuat mereka harus mengancam ku-? Batin Rena
"Ibu-" ucap Vano memeluk Rena.
Nean pun melepaskan pelukannya, menatap Vano yang memeluk Rena. Ia menatap wajah Rena yang menunduk menatap Vano dibawahnya
"Iya, kenapa sayang-? Apa kau baik baik saja-?" ucap Rena berjongkok, kali ini sifat keibuan nya muncul sambil merapikan rambut Vano.
"Ibu, akhirnya kau datang-" ucap Vano berkaca kaca.
"Katakan selamat datang kepada ibu mu, vano-" ucap Rena tersenyum menatap Vano.
"Ibu, selamat datang di rumah-" ucap Vano menangis langsung memeluk Rena.
Ucapan ini yang akan kau ucapkan ketika ibu mu datang Vano. Batin Rena menutup mata nya memeluk Vano didepannya.
Wanita ini........Batin Nean tidak bisa berkata kata.
Namun Rena berhasil membuat hati nya goyah dan tidak tenang saat didekat nya, ia selalu menjadi salah tingkah ketika sikap Rena tak sesuai ekspetasinya.