My Parent'S

My Parent'S
Chapter 13_Ayah..



"Bicaralah jika kau ada masalah nak, ayah akan membantu mu-" ucap ayahnya dari luar kamar Rena.


"Aku tidak apa apa ayah-! Yakinlah kepada ku, anak ayah kan wonder woman. Percayalah aku baik baik saja-" ucap Rena menahan tangis nya.


"Nak, ayah tau sifat anak ayah. Buka lah pintu nya, ayah bisa membantu mu-" ucap ayahnya


"Tidak ada apa apa ayah-! Aku akan bersiap siap ke perusahaan untuk melamar kerja-" ucap Rena.


"Baiklah, kalo itu keputusan kamu ayah tidak akan memaksa-" ucap ayahnya.


Rena menatap bayangan ayahnya yang sudah pergi dari lubang pintu kamarnya. Ia pun menangis sesegukan, ia bingung harus bagaimana.


Setelah bersiap siap ia pun menggunakan bedak dengan tipis. Lalu lipbalm supaya menutupi bibirnya yang pucat itu.


"Aku akan berangkat ayah-!" teriak Rena sambil memakaikan sepatunya.


"Nak, ayah sudah siapkan bekal mu. Jaga baik baik kesehatan mu, ayah sudah menelpon mbak Ima untuk datang kembali untuk menjaga ibu-" ucap ayahnya


"Ia mau kembali-?" tanya Rena mengerutkan keningnya.


"Iya, berangkatlah. Apa mau ayah antar-?" tanya ayahnya


"Tentu, hari pertama kerja ku. Apa ayah ingat-? Pada saat aku pertama kali kerja di restoran ayah mengantar ku. Kali ini harus antar aku ok-! Ayahhh aku memaksa-" ucap Rena geram menatap ayahnya yang hanya bengong.


"Baiklah baiklah, kenapa kau jadi pemaksa hem-? Ayo segera berangkat 20 menit lagi ayah harus sudah sampai di sekolah-" ucap ayahnya menatap jam ditangannya.


Rena hanya berdiam diri, lalu berjalan meninggalkan ayahnya duluan. Duduk di dalam mobil dan memalingkan muka dari ayahnya. Ketika ayahnya hendak keluar, mbak Ima datang. Terlihat ayahnya sedikit mengobrol dengan mbak Ima.


"Nak, kau baik baik saja-?" tanya ayahnya.


"Ya-" ucap Rena singkat.


"Ayah akan menghubungi keluarga Alvin jika perlu-"ucap ayahnya sambil melirik rena.


"Apa yang akan ayah lakukan-! Mereka tidak bersalah, jangan gegabah. Satu Minggu lagi ia akan kesini ayah-!" spontan Rena emosi.


"Nak, ayah hanya memancing mu. Jika kau emosi dengan keluarga Alvin, berarti kau memiliki masalah dengannya. Katakan nak, apa masalah mu-?" tanya ayah.


"Ayah.." Ucap Rena menunduk sedih.


"Iya sayang, katakan saja. Katakan kepada ayah apa yang ingin kau katakan-? Jika kau mau menangis, menangis lah kemari-" ucap ayahnya melentangkan tangannya


"Kau..Kau sudah tau Rena-" ucap ayahnya melepaskan pelukan Rena dan gugup.


"Apa maksud ayah. Ayah juga sudah tau-? Kenapa ayah tidak memberitahu ku, hah-! Kenapa nyonya Alvin yang harus memberi tahu-!" Tanya nya dengan sedikit emosi.


"Ayah menunggu waktu yang tepat Rena, ayah tau jika kondisi mu akan begini jika engkau terpaksa menikah. Masih ada waktu beberapa hari lagi, kau berhak menolak. Karena kau adalah calon pengantinnya-" ucap ayahnya menatap serius putrinya.


"Tidak, aku tidak akan begitu mudah menolaknya. Aku masih bingung dengan alasan yang harus aku ucapkan ketika di depan Ny.Alvin dan tuan Alvin. Berangkat saja ayah, aku akan berusaha melupakan ini untuk sementara waktu-" ucap Rena


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan mu-". Ayahnya pun menancap gas menuju perusahaan. Ia hapal dimana Rena akan bekerja, jadi tidak perlu menggunakan Maps untuk mengetahui jalan nya.


Rena memalingkan muka nya dari ayahnya, Rena menatap jalanan kota Jakarta itu. Pernikahan...kondisi ibu nya yang sakit - sakit an apakah Nean bisa menerima nya?


Jika Nean bisa menerima nya itu pasti akan menguntungkannya, memberikan biaya yang terbaik untuk ibunya. Tapi jika tidak ... ia pasti akan di permalukan. Sama seperti ketika ia melihat film film dan novel, mertua yang kejam atau tuan muda yang kejam.


Membuatnya bingung, Untuk apa aku memikirkan novel itu sih!!! Tapi..ah sudah lah. Masa depan hanya tuhan yang tau walaupun aku telah di menolak lamaran itu, jika dia jodoh ku aku bisa apa?


***


Rena langsung keluar tanpa pamit kepada ayahnya, membuat ayahnya hanya menghela nafas lalu kembali lagi melewati rumah untuk sampai ke tempat kerja nya.


"Permisi, saya Rena. Dimana ruangan HRD-?" tanya Rena di meja resepsionis.


"Mbak Rena-? Anda sudah di tunggu di lantai 4, dengan mbak Eka dilantai tersebut-" ucap resepsionis itu menyambut dengan lembut.


"Oh baiklah, terima kasih-" ucap Rena.


Ia pun berjalan ke lift, ketika ia masuk. seseorang juga masuk di lift sebelahnya dengan asisten dibelakangnya.


"Tuan bukan kah itu nona Rena-?" bisik Andra. Asisten Nean.


"Dimana-?" tanya Nean


"Tadi, sebelum saya memasuki lift ini saya sempat melirik nona Rena. Sepertinya ia karyawan baru-" ucap Andra


"Jika benar dia karyawan baru, sembunyikan identitas ku sebagai CEO di perusahaan ini-" ucap Nean.


"Kenapa tuan, anda mau bermain rahasia rahasia-an-?" Tanya Andra.


Nean menatap Tajam Andra, kemudian Andra hanya bisa menunduk dan mengiyakan saja ucapan Nean. Setelah itu lift dibuka, mereka kembali ke ruangan masing masing