
Setelah memasak makan malam, Rena kembali ke kamar. Menatap Vano yang bersandar di headboard kasur dengan bermain handphone. Rena mendekat dan duduk di depannya.
"Vano sayang, kau tidak membersihkan diri?" tanya Rena.
"No, nanti saja setelah mommy." ujar Vano dengan senyuman kecil.
Rena mengangguk,"Baiklah," ujar Rena dan beranjak untuk pergi ke kamar mandi.
Vano lebih memilih untuk berbaring dan tengkurap. Membenarkan posisi yang nyaman, namun ketika ia hendak mematikan handphone nya ia merasakan getaran hape yang membuatnya mengurungkan niat untuk tidur.
"Ya halo Oma, apa papa sudah sampai?" tanya Vano kembali bersandar.
"Ya sayang, kau berada dimana? Kata papa mu kau berada di rumah Rena sayang. Pulang gih, jangan merepotkan nya sayang." ujar Oma nya.
"Oma, biarkan aku tinggal dengan ibu sehariii saja. Please, besok janji aku akan pulang dengan Daddy." ujar Vano.
"Sayang, tapi.."
"Lagian juga mommy tidak keberatan, Vano kan bisa membantu mommy Oma. Mommy lagi sakit, tangannya kan masih sakit. Jadi tolong, biarkan aku tinggal untuk menjaga mommy." ujar Vano.
"Sayang, kau bukan asistennya yang harus menjaganya. Iya baiklah Oma setuju dengan mu, tapi berjanjilah jangan merepotkan nya. Oma akan mengirimkan uang ke ATM mu," ujar nya.
"Thanks Oma, muach. Love you!" ujar Vano lalu mematikan teleponnya.
Vano membuang handphone nya begitu saja, untung tidak retak karena kasur Rena sedikit besar. Membuat handphone nya tak jauh-jauh dari posisinya. Ia memutuskan untuk keluar menuju dapur. Namun ia melihat pak Samsul yang sedang mengambil sesuatu.
Karena ia bingung harus memanggil apa dan malas berbicara dengan nya pun hendak pergi lagi ke kamar Rena. Namun suara pak Samsul membuat kakinya terhenti.
"Kemari lah, kau sudah makan?"
Vano membalikkan badannya, "Aku akan makan bersama kalian nanti," ujar Vano.
Vano mengigit bibir bawahnya, ia merasa sakit hati dengan ucapannya. Namun dengan mudahnya ia mempercayai ucapannya. Kakinya melangkah untuk mendekat dan duduk tak jauh dari nya.
"Makan lah," ujar pak Samsul mengambilkan makanan yang mudah di jangkau.
"Terima kasih.." ujar Vano pelan.
Samsul hanya melirik dan masih terus menyendok-kan makanan ke dalam mulutnya. Mereka makan dengan suasana hening, namun suara derap kaki membuat Vano dan Samsul melirik.
"Vano, oh astaga aku kira kau kemana.." Ujar Rena dengan khawatir. Di kepalanya bahkan masih ada handuk yang menempel.
Vano cengengesan, "Sorry, i hungry." ujar Vano
Rena mengangguk, "Teruskan lah makan mu, aku akan siap-siap dulu." ujar Rena.
Vano hanya mengangguk, ia menatap punggung Rena yang kembali memasuki kamar.
"Terima kasih atas makanannya, aku sudah selesai." ujar Vano meletakkan sendok dan garpu nya menyentuh ujung piring.
"Vano, aku harap kau tidak akan terlalu memaksakan anak ku dan Daddy mu bersatu." ujar pak Samsul. Ia masih mengingat jelas sebagaimana Rena menangis karena perkataan Nean menusuk ke dalam hatinya. Oleh karena itu ia tidak menyukai keluarga itu.
Vano menghentikan langkahannya, ia melirik dan hanya menghela nafas pelan.
"Maaf, mungkin aku terlalu berharap." ujar Vano dan langsung pergi dari sana.
Pak Samsul menghela nafas panjang, sebagai ayah dari satu putri. Ia harus tegas dan tidak menyakiti masa depannya. Ia harus benar-benar rela untuk mengikhlaskan kehidupan putrinya dengan orang yang jelas dan bermartabat. Jika di bandingkan dengan Nean mungkin standarnya jauh.
Mana mungkin, ayah nya mengikhlaskan kehidupan kehidupan putrinya dengan orang seperti Nean.