My Parent'S

My Parent'S
Chapter 41_Khawatir



Sedari sampai di rumah sakit, Bryant mempercepat langkahannya. Ia tidak mau membuat Rena menunggu dirinya lebih lama lagi. Ia sangat khawatir dengan wanita yang ia cintai itu. Tanpa berpikir panjang, ia menutup pintu mobil dengan agak keras. Mengagetkan Zeina yang ada di belakang Bryant sedari tadi.


Ia menatap Bryant dengan menggelengkan kepala nya, ia baru pertama kali melihat jelas kepanikan Bryant dengan kondisi Rena. Ia berusaha tegar agar bisa tenang dan tidak cemburu.


"Bryant, bisakah kau memperlambat langkahan mu-? Rena pasti belum sadar, beberapa menit yang lalu ia baru di keluarkan dari UGD. tak secepat itu ia sadar Bryant, jangan terburu buru. Aku tidak bisa menggapai langkahan mu, aku takut kehilangab jejak mu-" omel Zeina dengan tegas agak berteriak.


Lagi lagi ia harus berlari kecil supaya lebih dekat dengan langkahan Bryant. Bryant tak menghiraukan ucapan Zeina. Ia berhenti didepan kasir rumah sakit itu.


"Permisi, apakah disini ada pasien yang bernama Rena-? Dia baru saja keluar dari UGD beberapa menit yang lalu-" ucap Bryant dengan agak tenang.


"Pasien itu sudah di pindahkan di rawat inap. Lantai 3 nomor 144-" ucap perawat itu sambil menunjuk bagian yang akan di lewati Bryant dan Zeina nanti.


Zeina baru saja tiba, namun Bryant langsung berjalan. Dengan cepat ia agak berlari menyusul Bryant.


"Bryant-! bisakah kau tidak sepanik itu-!" teriak Zeina dengan agak keras.


Bryant memperhentikan langkahan nya, ia menatap Zeina yang mulai berkaca kaca dan sebal sebab dirinya. Ia menghela nafas lalu berjalan perlahan ke Zeina, ia berdiri didepannya memandang wajahnya yang menatapnya dengan teliti.


"Maafkan aku, aku terburu buru dan panik. Ayo, supaya kau tidak menghilang dari balik badan ku-" ucap Bryant dengan lembut. Ia menggandeng tangan Zeina dengan Lembut, langkahannya pun sudah kembali seperti biasa. Tenang dan kalem.


Zeina merasakan sentuhan lembut tangan pria yang ada di depannya. Ia pun berjalan sambil menghela nafas dan mulai merasakan nafas yang teratur.


Walaupun Bryant memegang tangannya, ia tidak menoleh ke Zeina sekali pun. Ia melamun di dalam lift hingga lift terbuka.


"Bry-" panggil Zeina dengan memukul pelan bahu Bryant.


"Iya-?" Tanya Bryant dengan agak terkejut. Ia menoleh ke Zeina, Zeina hanya tersenyum lalu menarik tangan Bryant keluar dari dalam lift.


"Siang-" ucap Zeina pelan..


Bu Dewi yang sudah menyadari itu tersenyum di balik badannya. Ia berdiri, melepaskan tangan nya, lalu menatap Zeina. Bu Dewi menatap Bryant yang ada di belakang Zeina.


"Maaf tidak menyambut kalian dengan baik-" ucap bu Dewi.


Bryant menatap ibu Dewi dengan sendu, sudah terlihat Bu Dewi menangis anak nya. Namun ia tetap saja tersenyum dan berusaha sebaik mungkin supaya tidak menonjolkan dirinya yang sedih itu.


"Justru itu, kami menganggu momen Tante. Bagaimana keadaan Rena, Tante-?" tanya Bryant berjalan mendekat. Zeina menatap punggung Bryant yang semakin mendekat dengan Rena.


Ia berdiri di samping Rena, meneliti wajah pucat Rena tepat pada saat itu.


"Kabar nya sudah membaik, ia berhasil selamat dari masa kritis nya. Hanya saja dia belum sadar-" ucap Bu Dewi memelankan suara nya di kalimat terakhir


"Tante yang sabar ya, Rena pasti akan segera sembuh. Jangan khawatir, kita disini menemani anak Tante. Ia sudah kami anggap sebagai saudara sendiri-" ucap Zeina memegang bahu Dewi sebelum ia melirik Bryant seraya menyindirnya ketika di kalimat terakhir.


"Kenapa kalian memanggil saya Tante-? kalian bersahabat dengan Rena sudah lama. Kalian masih canggung-? panggil saya ibu tidak apa, kalian sudah ibu anggap sebagai anak sendiri-" ucap Bu Dewi tersenyum menatap Zeina. Zeina membalas senyuman itu, ia menurunkan tangannya. Hati nya membara di kala itu, diam diam ia mengepalkan tangannya berusaha kuat menghadapi situasi ini.


"Saya pulang dulu, mengambil baju ganti. Kalian temani Rena di sini ya, bantu ibu-" ucap Dewi sambil mengambil tasnya hendak berlalu.


"Baik bu, serahkan saja kepada saya-" ucap Bryant agak tersenyum tipis di bibirnya.


Dewi menganggu tersenyum, ia melirik Zeina yang menunduk. Ada rasa kasihan di dalam hati nya, walau begitu ia tidak bisa apa apa. Ia pun berlalu meninggalkan mereka untuk menjaga anak nya.