My Parent'S

My Parent'S
Chapter 43_Pernyataan Cia



Ketika siang hari, Rena mendengar bunyi bell yang menunjukkan bahwa makan siang sudah tiba. Ia membereskan meja kerjanya sebelum ia beranjak dan hendak meninggalkan ruangan. Sebelum itu Nean sudah keluar dan berpapasan dengannya. Karena Nean adalah atasannya, Rena memberikan bow.


"Selamat siang, Presdir." sapa Rena.


Nean mengangguk kecil menjawab. "Apa kau akan makan siang?" tanya Nean.


Rena mengangguk dan kembali menegakkan tubuhnya. "Ya, apakah anda juga?" tanya Rena


Nean menatap jam tangannya lalu matanya beralih lekat menatap Rena.


"Ikut aku." ucap Nean melangkah dengan cepat sebelum gadis itu mencegahnya dan bertanya ada apa.


Mau tak mau Rena pun melangkahkan kakinya mengikuti Nean. Menunggu lift dan memasuki nya, memencet tombol 2 dimana kantin tersedia. Rena melirik lampu merah yang ada di layar angka. Ia Mengerutkan kening, tak biasanya Presdir satu ini mau makan di kantin.


"Presdir"


"Rena"


Dua dua nya tertegun, lalu memalingkan muka secara bersamaan. Rena agak memundurkan kakinya menghilangkan gugup.


"Anda dulu."


"Kamu duluan."


Rena mengigit bibir bawahnya, ia gugup. Bahkan matanya tak terkondisikan dan terus menatap ke arah lain. Tidak hanya satu gerakan, tapi juga dua gerakan ia terus lakukan. Hingga ia mendengar Presdir menghela nafas.


"Ren, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." ucap Nean membalikkan badan.


"Ehm.. silahkan tuan." ucap Rena menunduk gugup.


"Hufft.. jadi-"


Ting


Rena tertegun ketika mendengar suara lift terbuka. Ia menatap Presdir yang terdiam dengan gerakan tadi. Ia tersenyum kikuk.


"Mari.." ucap Rena menatap Nean yang meliriknya.


"Ehm.. ya kau duluan saja." ucap Nean di jawab anggukan oleh gadis itu.


Rena melangkahkan kakinya meninggalkan Nean. Baru saja ia melangkahkan kakinya dari lift beberapa meter. Ia sudah mendapatkan tatapan maut dari teman sekantornya. Ia menarik sudut bibirnya dengan datar. Lalu menuju kantin, namun tetap saja. Ia di halangi oleh seseorang sebagai pengganti wanita yang membuatnya masuk ke rumah sakit itu.


"Minggir." ucap Rena dengan ketus.


Namun ucapannya tak di gubris, ia mendekat dan berbisik kepada Rena.


"Bisa kita bicara sebentar,"


Rena menatap misterius ke arah gadis itu. Tanpa menunggu jawabannya, ia melangkahkan kakinya semakin menjauh dari dirinya.


"Ren." ia terkejut ketika salah seorang tangan menepuk pundaknya. Ia menatap ke arah Nean dengan tatapan sulit di artikan.


"Ada apa, ayo." ucap nya menarik tangan Rena.


Gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang, pandangan dirinya dan Rena bertemu. Rena tersenyum tipis dan menolak ajakan Presdir dengan lembut.


"Tuan saya ada urusan sebentar, tapi saya akan menyusul jika selesai." ucap Rena.


Nean mengerutkan kening, lalu mengangguk.


"Aku disana,"


Rena mengangguk ia cepat meninggalkan Nean dan mengikuti langkahan kaki gadis itu yang kembali melangkahkan kakinya ke arah atas gedung. Ia berhenti 2 meter dari posisi gadis itu.


"Ada apa?" tanya Rena.


Gadis itu membalikkan badan dengan mata nya yang lekat ke arah Rena. Rena tak mengerti ia menatap ke arah gadis itu tanpa rasa takut. Ia mendekat dan menunjukkan tag nama nya.


"Cia Dewi." gumam Rena membaca tag nama gadis itu.


Cia tersenyum smirk. "Aku Cia, teman melati." ucap nya menjulurkan tangan.


Rena mengangguk, ia menerima uluran tangan Cia. "Aku Rena sekertaris baru tuan Nean." ucap Rena.


Cia tersenyum tipis dan kelamaan menjadi seperti iblis. Ia menggenggam erat tangan Rena membuat gadis itu merintih. Ia memegangi lengan Cia dan berusaha melepaskannya.


"Ck, aww lepas." ucap Rena menatap Cia.


Rena terus merintih hingga ia menatap leher Cia. Ia mendapatkan luka lebam disana, ia baru menyadari jika semua leher Cia tertutup dengan plester. Ia mengerutkan kening, ketika ia hendak memegang nya. Dengan cepat cia menepis membuat Rena berdecak sakit.


"Ada apa dengan mu." tanya Rena langsung ke intinya.


Cia menatap ke arah Rena. "Kau jalang, merebut perhatian Presdir. Katakan, sudah berapa kali kau menaiki ranjang Presdir. Di bayar berapa kau sama dia?" tanya Cia.


Rena terpaku, ia menatap lekat ke arah Cia. Membiarkan semilir angin menerbangkan rambutnya.


"Bisakah kau mengondisikan perkataan mu, kenapa kau berbicara seperti itu kepada ku? Apa kau tidak punya sopan santun." ucap Rena.


"Kenapa, kau tersinggung huh? sadarkah diri mu, kau merebut Presdir dari kami. Kenapa kau melakukan hal ini, kenapa kau merenggutnya." bentak Cia dengan mata yang berkaca-kaca.


Rena mengerutkan kening. "Apa, apa kesalahan ku? aku tak merenggut apapun dari kalian. Kami siapa? tolong perkataan mu di perjelas." ucap Rena.


"Kau merenggutnya dari kami, kau telah mengalihkan perhatiannya dari kami ke kamu. Hanya kamu yang sekarang menjadi pusat perhatiannya Rena." ucap CIA.


"Cia." ucap Rena tak tahan akan dirinya yang terus mengatakan hal aneh.


"Apa! suatu saat kau akan mengetahuinya dan menyesalinya karena mendekati Presdir." ucap CIA.


"Cia, Cia tunggu! kau mau kemana hei!!" teriak Rena menatap kepergian Cia yang berlinang air mata meninggalkannya. Ia menghela nafas.


"Sebenarnya ada apa." gumam Rena bingung.