My Parent'S

My Parent'S
Chapter49_DisusulNean



Sesampainya di bandara, mereka bertiga langsung turun dari pesawat setelah berjam-jam tiduran disana.


"Kau tenang saja, Zeina. ada kami yang selalu siap melindungi mu, jangan bersedih gitu."


Berkali-kali Rena menenangkan Zeina yang sama sekali tak menggubris ucapan temannya itu. ia sibuk dengan pemikirannya, hanya tubuhnya yang bergerak dengan mata yang fokus ke depan. Di bantu Rena di samping. Bryant meminta izin untuk mengambil koper sedangkan Rena menunggu dengan Zeina di depan pintu bandara. Mereka mengobrol sedikit, Zeina sesekali merespon karena ia sadar sudah berpindah negara. Beberapa menit berlalu, Rena mendengar suara nyaring memanggil nama nya.


"Mama!!"


Vano melambaikan tangan dengan Daddy nya dari jauh. anak kecil itu berlari, satpam itu waspada dari jauh ketika anak kecil itu berlarian di dalam bandara. Mengawasi pergerakan nya dan agak lega ketika Rena mengulur kan tangannya.


"Mama, kau dari mana? apa kau habis jalan-jalan?" tanya Vano.


Zeina melirik ke arah Rena, mama?


"Ehm, iya. Kau datang dengan Daddy?" tanya Rena.


"Iya, dia di belakang." ucap Vano menunjuk Daddy nya yang membawa tas kecil di tangannya. Memakai pakaian kaos biasa dan berkesan elegan.


Zeina mundur ke belakang Rena, ia mencari sosok Bryant yang selalu melindunginya. Kenapa dia lama?


"Ren," sapa Nean.


Rena mengangguk pelan, "Hai tuan Nean," ucap Rena tersenyum kecut.


"Ia, aku -"


"Nean, kau sudah datang?" Bryant datang dengan membawa kopernya. Ia mendekat, mereka berdua berpelukan singkat.


"Yes, sudah lama nunggunya?" tanya Nean.


"Enggak, baru aja. Ya sudah, Zen.." ucap Bryant ke arah Zeina.


"Ehm, sebenarnya ada apa di antara kalian? kok bisa kenal?" tanya Rena.


"Kami rekan satu bisnis," ucap Bryant dengan senyum bangga.


"Oh." ucap Rena


"Ya sudah ayo saya antar kalian ke rumah masing-masing." ucap Nean.


"Oh iya ayo-"


Zeina mencengkram tangan Bryant dan menggelengkan kepala nya dengan erat. Ia menggerakkan giginya serta mengigit bibir bawahnya.


"Ehm, kalian duluan saja." ucap Bryant kepada mereka bertiga.


"Tapi-"


"Ya sudah, saya duluan saya tunggu di mobil." ucap Nean.


"Iya." ucap Bryant.


Rena menatap Bryant dan Zeina sekilas dengan sendu ia melambaikan tangannya singkat. Kemudian Vano menarik tangan Rena menuju mobil.


"Bry..."


"Kita gak ada waktu buat berdebat, Zen. Aku sudah memutuskan kita ke rumah sakit dulu. akhh--"


"Gak mau, bry! aku gak papa," ucap Zeina dengan mengotot.


"Kalau begitu kau bisa di periksa di rumah ku!" ucap Bryant.


"Tapi-"


"Sepenting apa gua di mata Lo, bry?"


Kalimat yang tidak bisa di dengar Bryant yang sudah menjauh. Zeina menatap sendu punggung itu..


...


"Vano kenapa bisa tau mama disini, nak?" tanya Rena yang sudah di dalam mobil. Ia memangku Vano yang tengah memainkan game di tangannya.


"Oh itu aku di ajak Daddy,"


"Tuan Nean?"


"Jangan bicara pada ku. Kau sudah membuat ku kerepotan dengan alasan izin kantormu itu," ucap Nean.


"Apa kau marah?" tanya Rena.


"Tidak, cuman kesal."


"siapa yang tanya." Gumam Rena.


Nean menoleh dengan mengerutkan keningnya serta kesal.


"But, mommy. Apa mommy bisa berjanji pada Vano, untuk tidak meninggalkan Vano lagi?" tanya Vano.


"Hah? a-aku.."


"Please, aku.memginginkan mommy." ucap Vano.


"Vano, mengertilah wanita yang kau anggap mommy itu sudah ada pria." ucap Nean.


"Daddy!"


Tok Tok Tok.


"Oh iya masuk!" ucap Nean menatap Bryant.


Zeina dan Bryant pun masuk ke dalam mobil. Rena melirik ke belakang.


"Apa keputusan kalian?" tanya Rena.


"Aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dulu, Zeina terluka Ren." ucap Bryant.


"Aku baik-baik saja, Ren." ucap Zeina.


"Betul apa yang di katakan Bryant, Zeina. Kita harus memeriksa kondisi mu dulu," ucap Rena.


"Aku tidak sakit dan tidak berpenyakitan." telak Zeina kesal.


"Zen.."


"Itu urusan ku Ren, jangan pusing-pusing mengurusi ucapan Zeina. Jika aku tidak mengancamnya dia tidak akan mau menurut." ucap Bryant.


"Baiklah, aku tau kau terbaik." ucap Rena.


"Baiklah kita mulai, ya?" ucap Nean yang sudah menancap gas.