My Parent'S

My Parent'S
Chapter45_Pergi ke Amerika



Untuk Rena. Sahabat ku yang sekarang berada di Indonesia, apa kabar? Setelah berminggu-minggu kau tidak bisa di hubungi sekarang aku mendapat kabar buruk untuk mu Rena.


Zeina yang berangkat 3 hari yang lalu untuk fresh kepala sekarang ia menghilang. Namun tidak usah di cemaskan, aku akan menemukannya kau tidak boleh khawatir disana. Hanya saja jaga kesehatan mu dan jangan lupa menghubungi kami jika kau sudah mendapatkan surat ini.


^^^Salam hangat: Bryant.^^^


Begitu lah isi surat yang di tulis tangan oleh Bryant. Tiba tiba saja kepala Rena sangat pusing ketika membaca itu. Seketika saja ibunya menarik nafas dalam menatap Rena yang sudah lemas.


"Kamu baik-baik saja nak?"tanya ibunya.


Rena mengangguk dan menatap ibunya sembari berkaca-kaca. Menyadari itu ibunya pun memeluk putrinya yang sudah menangis di pinggang nya.


"Kenapa ibu tidak memberitahu ku sejak pagi, Zeina hilang Bu. Aku sakit," keluh Rena kepada ibunya.


"Maafkan ibu nak, ibu tidak tega di hari pertama mu kau masuk bekerja sudah mendapatkan masalah lagi." Ujar ibunya dengan lirih.


Rena menggelengkan kepalanya dan histeris. Dia marah dan kesal, namun dirinya juga tidak bisa apa-apa sekarang karena sudah malam. Menelfon pun.. dirinya tidak bisa. Ponselnya sedang berada di servis sekarang. Lalu ia harus apa?


"Telefon lah Bryant nak, dia menantikan itu dari pagi." Ucap ibunya.


"Ponsel Rena rusak Bu! Ponsel Rena jatuh di air ketika sedang mandi di rumah sakit." Ucap Rena sesegukan.


"Kau bisa menggunakan ponsel ibu jika kau ingat nomornya." Ucap ibunya lembut.


Rena pun mendongak, dia mengangguk. "Pinjem ponselnya sebentar Bu," ucap Rena.


Ibunya mengangguk, dengan segera ia mengambil ponselnya dari saku bajunya. Rena pun mengetikkan nomor Bryant.


Ddrrrttt


Ddrrttttt


Ddrrrttt


"Halo?" Rena langsung sumringah ketika mendapatkan jawaban dari sana.


"Halo! Bryant? Ini Rena bry," ucap Rena.


"Rena? Apa kau sudah mendapat surat itu?" Tanya Bryant.


"Iya! Aku sudah mendapatkannya Bryant. Sekarang bagaimana kondisi Zeina apa kau sudah menemukannya?" Tanya Rena.


"Zeina masih belum di temukan ren, terakhir di lihat dari lokasinya dia berada di dekat pantai." Ucap Bryant.


"Kenapa kamu berhenti mencarinya! Cari dia sampai ketemu bry, harus kau harus bertanggung jawab.." ucap Rena menitikkan air mata.


"Iya ren, aku sudah mengutus seseorang sebanyak mungkin hanya untuk mencari sahabat kita. Kamu tenang ya, disini aku juga khawatir." Ucap Bryant.


Rena menggeleng, "aku akan kesana bry, aku akan membantu mu mencarinya!" Ucap Rena.


Rena menggelengkan kepalanya, "Sekarang, aku akan mendapatkan tiket pesawat sekarang."


Tut!


Rena menutup sambungan teleponnya dan memberikannya kepada ibunya yang terlihat menatapnya dengan dalam.


"Aku yakin Bu, aku akan kesana sekarang." Ucap Rena.


"Tapi apa kau sendirian kesana ren?" Tanya ibunya.


Rena mengangguk, "sudah tidak ada waktu lagi." Ucap Rena kemudian memakai jaketnya.


"Biarkan ibu mengantar mu sampai ke bandara ya? Ibu tidak bisa tenang kalau kau terbang sendirian." Ucap ibunya.


Sontak saja Rena menghentikan aktifitasnya. Ia mengangguk kepada ibunya karena ia tahu bagaimana perasaannya.


"Ibu akan bersiap-siap," ucap ibunya.


Rena pun menelan Saliva nya kasar dan mengusap wajahnya.


"Untuk saat ini seharusnya aku akan cuti beberapa hari sampai Zeina ketemu di Amerika sana kepada tuan Nean. Aku tidak bisa membuatnya cemas karena aku tidak masuk kerja." Gumam Rena.


Pikirnya ia akan menelepon Nean ketika sudah sampai. Sekarang ia tidak bisa menelponnya karna kesibukannya yang akan membawanya ke Amerika.


Setelah mengunci pintu, ibunya menyusul Rena memasuki taksi di depannya itu. Kemudian supir taksi mulai menjalankan taksinya dengan kecepatan sedang membelah kota tersebut.


"Disana kamu hati-hati ya ren, kabari ibu kalau kamu sudah sampai," ucap ibunya ketika di sela perjalanan sembari mengenggam erat tangan Rena.


"Ibu tenang saja, Rena akan menjaga diri dengan baik disana." Ucap Rena dengan tersenyum.


Ibunya mengangguk, ia tau Rena akan baik-baik saja. Dia sudah mendapatkan ilmu bela diri dari ayahnya. Ia yakin walau tidak sepenuhnya, anak satu-satu nya itu akan baik-baik saja. Sekarang, ia hanya perlu percaya seratus persen kepada Rena anaknya.


"Terima kasih." Ucap ibu Rena setelah menerima kembalian dari si supir.


"Rena akan beli tiket Bu!" Ucap rena kepada ibunya.


Ibunya mengangguk kemudian ia melihat sekitar dimana beberapa orang masih berlalu lalang melewatinya. Tak jarang pula beberapa orang terlihat menatapnya dengan tatapan berbeda pula. Tak lama setelah itu Rena pun menghampiri ibunya.


"Pesawatnya akan berangkat 5 menit lagi, Rena akan masuk ke dalam Bu." Ucap Rena menatap ibunya dengan nanar.


"Masuklah sayang! Jangan sampai kehilangan pesawat.." ucap ibunya.


Rena menarik sudut bibirnya kemudian memeluk ibunya.


"Ibu.. ibu yang tenang ya. Rena akan menelpon kalau Rena sudah sampai." Ucap Rena.


"Iya masuklah!"