My Parent'S

My Parent'S
Chapter 31_CEO tak berpendidikan



"Apa diri mu sudah baik-kan?"


Hingga pada akhirnya Nean membuka suara.


Menutupi rasa canggung di antara keduanya setelah kejadian tadi pagi.


"Iya pak saya hampir pulih, jika bisa. Besok saya bisa bekerja kembali," ujar Rena.


"Jika kau mau kau bisa bekerja kapan pun kau mau. Aku sudah memberikan keadilan kepada mu, dengan menanggung semua kejadian di kantor ku. Termasuk memberikan uang atas biaya inap mu, itu sudah cukup bukan?" tanya Nean.


Apa termasuk mengambil keuntungan huh? Batin Rena kesal.


"Baik pak, semuanya sudah cukup. Saya sudah mengambil keputusan, besok saya akan bekerja." ujar Rena.


"Iya baiklah, saya tunggu di kantor." Ujar Nean.


"Terima kasih pak,"


Rena mengakhiri percakapan.


Hingga, Rena memutuskan untuk supermarket bersama Nean dan Vano.


Jangan lupa memakai masker, karena ia akan menjaga jarak.


Bisa jadi para reporter akan mengambil fotonya.


Lalu menjadi berita hangat di televisi, koran, maupun ponsel.


Karena ia tahu sendiri.


Nean merupakan seorang CEO yang penting di dalam kotanya.


Bisnisnya juga sudah bercabang dimana-mana.


Seharusnya Rena senang karena bisa bekerja berdampingan dengan CEO kotanya.


Tapi nama nya kebencian.


Mau kaya, miskin, jujur, baik, itu tak akan pernah menghapus kebencian.


Yang setara dengan ke-egoisan.


"Kau mau membeli apa?" Tanya Nean yang sedari tadi memperhatikan Rena saja.


"Saya? Saya sedang mencari kandungan bubur yang bagus bagi ibu saya." Jawab Rena.


"Rasa bayam ini cukup bagus, selain kandungan gizi di dalamnya. Akan menjadi lengkap karena ada sayuran di dalamnya. Kau mau mencoba beli?" Tanya Nean.


"Ku rasa rasa wortel juga tak ada salahnya," ujar Rena memegang bubur dengan rasa wortel.


"Terserah kau mau membeli yang mana." ujar Nean tak mau memaksakan.


"Bagaimana jika kita mencoba 1-1 terlebih dahulu, baru kita akan menentukan mana yang bagus buat ibu saya. Saya juga bingung harus membeli yang mana," ujar Rena.


"Ide bagus, selebihnya kita akan pikirkan nanti." Ujar Nean yang hanya di angguki oleh Rena.


Selebihnya, mereka berbelanja kebutuhan rumah Nean. Karena Vano yang meminta banyak cemilan yang di sukai oleh Rena. Membuatnya mau tak mau harus menampung harga diri sebagai seorang CEO.


"Vano sudah cukup, ayah mu tak akan mampu membayar nya jika sebanyak itu." ujar Rena memperhentikan Vano yang terus memasukan barang ke dalam keranjang.


"Hey, siapa bilang aku tidak mampu belanja sebanyak ini?" Ujar Nean merasa harga diri nya sebagai CEO terinjak-injak.


"Vano sudah ya nak, nanti kalo mainan kamu gak di mainkan kan kasihan.. sayang kalo di buang." ujar Rena tak menggubris ucapan Nean.


"Oke, tapi tunggu dulu..Ada satu lagi yang Vano cari!" ujar Vano.


"Baiklah, apa?" Tanya Rena.


Vano langsung berlari meninggalkan dua sejoli itu.


"Kau lihat kan? Jika kau tidak memperhentikannya, ia akan semakin boros!" Ujar Rena kesal.


"Biarkan saja dia anak ku kenapa kau yang repot," ujar Nean.


"Dia penerus bangsa kita, jika kita tak bisa mendidiknya dengan benar. Hancur sudah negara kita, dasar CEO tak berpendidikan." ujar Rena melangkah pergi meninggalkan Nean.


"Apa! Kenapa kau mengejek ku seperti itu?" Nean menghalangi langkahan kaki Rena.


"Karena kau bo*oh!" ujar rena lalu mendorong Nean hingga ke samping.


"Rena, aku tidak bo*oh." ujar Nean.


"Sudah lah bapak Presdir, mengalah saja apa yang sudah aku ucapkan! Aku letih jika harus berdebat terus dengan mu," ujar Rena.


"Baiklah, aku mengalah untuk saat ini." Nean mengangkat tangannya.


"Bagus," ujar Rena tersenyum getir lalu melangkah meninggalkan Nean.