Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch. 69 Kematian Tiga para pendekar bayaran



Keadaan menjadi normal setelah Bajraloka menarik kembali aura yang menindas.


Keempat pendekar langsung memperbaiki posisi masing-masing.


" Wuzzzh,"


Sebuah energi berbentuk anak panah tiba-tiba melesat cepat kearah Rangke.


" Awas kakang Rangke," Teriak Sulastri


Rangke yang sebagai pendekar yang sudah bertahun-tahun malang-melintang didunia persilatan segera melakukan gerakan salto keatas sambil melemparkan senjata rantainya.


Alhasil rantai itu berhasil menghancurkan energi tersebut.


Suara ledakan terdengar meski tidak keras, tiga pendekar lainnya tidak menunggu waktu lama segera menyerang Bajraloka secara bersamaan.


Bajraloka yang dirasuki sebuah kekuatan yang tidak diketahui asalnya menerima serangan mereka dengan mudah.


Sulastri menusukkan pedangnya yang sudah dilumuri tenaga dalam kearah leher Bajraloka, sementara pendekar yang menggunakan senjata pedang pendek melemparkan pedangnya kearah bagian dada Bajraloka, sedangkan pendekar yang menggunakan senjata Golok menyerang dari atas dengan gaya menukik ingin membelah kepala Bajraloka.


Tiga senjata sakti yang sudah dilumuri tenaga dalam berbenturan tanpa mengenai sasaran.


" Trang,"


Bajraloka tiba-tiba sudah berada ditempat rangke, Rangke yang baru saja memperbaiki kuda-kuda gelagapan menerima tendangan yang mengarah kedadanya meski bisa ditangkis namun dia tetap terdorong mundur beberapa langkah.


Rangke yang memang bukan ahli dengan serangan jarak dekat merasa keteteran menerima serangan-serangan dari Bajraloka.


berkali-kali dia terkena tendangan dan pukulan hingga mulutnya mengeluarkan darah.


" Kurang ajar, bedebah kau setan laknat," maki rangke sambil mundur beberapa tombak untuk mengambil jarak, dengan sigap dia melemparkan rantainya kearah Bajraloka.


Bajraloka melompat keatas kemudian berlari diatas rantai.


Rangke menarik kembali rantainya namun sebelum ujung rantai itu dipegang oleh tuannya, Bajraloka menendang rantai yang yang ujungnya lancip seperti pisau itu kearah Rangke.


Rantai itu langsung berputar arah, Rangke yang tidak sempat menghindar harus rela lehernya tertusuk ujung rantai miliknya dan akhirnya dia ambruk ketanah tubuhnya megap-megap tanpa bisa berkata-kata, Rangke menemui ajal oleh senjatanya sendiri.


" Kakang Rangke, tidaaaakkkk," Sulastri menjerit histeris ketika Rangke yang merupakan teman seperjuangan sekaligus kekasihnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika kekasihnya tewas.


Rasa dendam yang begitu tinggi terhadap Bajraloka, Dia tidak menangis hanya menitikkan air mata karena seorang pendekar pantang terlihat lemah dihadapan musuh ataupun temannya.


" Hai kau, jangan berharap melihat matahari terbit besok karena hari ini kau akan menyusul kedua orangtuamu,"


Bajraloka yang dituding dengan menggunakan pedang tersulut emosinya.


" Aku tidak pernah punya urusan dengan kalian, seharusnya kalian punya malu sebagai pendekar namun hanya bisa menindas orang yang lemah sebaiknya kuburkan nama julukan kalian dan mulai hidup dengan bertani seperti rakyat biasa,"


mendengar perkataan Bajraloka ketiga pendekar itu bukannya malu tapi malah semakin marah.


" Bedebah anak kemarin sore berani mengajari kita, kaupun akan berakhir malam ini," pendekar bersenjata golok sehabis berkata langsung melakukan gerakan aneh seperti sedang merapalkan sebuah jurus sakti, begitu juga yang lainnya mereka akan mengeluarkan jurus sakti andalan mereka masing-masing.


" Pedang peruntuh langit," Sulastri menyebutkan nama jurusnya.


" Golok penebus dosa," pendekar golok juga tak kalah dari Sulastri.


Setelah meneriakkan masing-masing jurus andalan terlihat pada masing-masing senjata bersinar, dengan bersamaan menyerang Bajraloka, sinar dari senjata mereka langsung melesat menerjang kearah Bajraloka.


Bajraloka yang merasa terancam tidak tinggal diam dia membentangkan busurnya tiga panah energi langsung melesat menghantam tiga sinar dari para pendekar.


" Jduuaarrr,"


Suara benturan kekuatan menggetarkan tanah disekitar tempat itu, para penduduk yang menonton pertarungan itu segera berlari tunggang langgang menyelamatkan diri takut terkena efek serangan itu.


Tiga sinar dari ketiga pendekar langsung lenyap dihantam tiga anak panah, ketiga pendekar terhempas beberapa tombak kebelakang Sulastri jatuh diatas parit yang berlumpur sehingga seluruh tubuhnya dilumuri lumpur dan tidak bisa dikenali, pendekar pedang pendek jatuh menubruk pohon besar sedangkan pendekar golok terlempar menabrak sebuah batu besar seluruh tubuhnya remuk.


Bajraloka terseret mundur beberapa langkah dengan posisi masih berdiri.


Ketiga pendekar mencoba berdiri belum sempat memperbaiki posisi tiba-tiba tumbang lagi.


ternyata tiga anak panah energi dari Bajraloka tidak hancur dari benturan dan masih melesat mencari sasaran menancap dibagian dada para pendekar.


" Aaaakkkhhh,"


Suara jeritan dari tiga pendekar mengakhiri hidupnya tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Akhirnya semua pembunuh bayaran lurah Semanggi tewas ditangan pemuda yang berumur duabelas tahun.


Sementara ditempat jasad Ki Wongso dan juga Nyi Kerti, Roh Ki Wongso dan Nyi Kerti masih berada disekitar itu mereka masih kebingungan karena belum merasa bahwa mereka sudah meninggal namun tidak ada yang mendengar panggilannya meski harus berteriak kencang hingga mereka menemukan tubuhnya yang tergeletak bersimbah darah barulah mereka sadar bahwa mereka sudah meninggal.


Ki Wongso dan Nyi Kerti menangis mereka sangat prihatin dengan nasib yang akan menimpa anaknya Bajraloka.


" Ki aku tidak bisa membayangkan Bajra hidup sendiri," Nyi Kerti sangat sedih.


" Ia Nyi tapi kita tidak bisa menentang takdir," Hibur Ki Wongso


Tiba-tiba dari jauh terdengar suara ringkikan kuda yang makin mendekat, Ki Wongso dan Nyi Kerti menoleh.


" Siapa itu Ki," Nyi Kerti merasa ketakutan sambil memegang lengan suaminya.


" Aku juga tidak tahu Nyi," jawab Ki Wongso sambil melihat kearah penunggang kuda.


penunggang kuda kemudian berhenti setelah sampai ditempat Ki Wongso dan Nyi Kerti.


" Ki Wongso dan kau Nyi Kerti kini sudah saatnya kau ikut denganku cepatlah kau naik dibelakangku ,"


Kata sipenunggang kuda dengan kuda warna hitam.


" Maaf Kalau boleh tahu siapakah Kisanak?," Ucap Ki Wongso heran.


" Aku utusan yang mulia Dewa Yama," kata sipenunggang kuda.


Ki Wongso dan Nyi Kerti begitu terkejut mereka tidak menyangka akan dijemput oleh utusan dari Dewa Yama.


****** **Bersambung ******


mohon dukungannya jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar**.