
Ratu Dewi Palmasari bersama Keduabelas Putrinya berdiri ditengah-tengah Aula yang dikelilingi para pembesar dari ketiga Kerajaan besar.
Dengan senyum mengembang dibibirnya, Ratu Palmasari berkata:
" Kalian jangan khawatir masalah ini akan kami selesaikan tanpa adanya korban lagi, tapi harus kalian ingat, bahwa Sanghyang Bhatara Siwa sendirilah yang menurunkan Sabdanya, bahkan Maharsi Walamakya yang Agung sudah berkali-kali mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa menghentikan kekacauan ini, karena kekacauan ini merupakan sebuah kehendak Yang Maha Kuasa untuk mencapai tatanan hidup yang lebih sempurna," Ratu Palmasari dengan nada suara yang lemah-lembut berbicara namun disambut ketegangan oleh semua yang hadir.
" Dan satu hal yang perlu kalian ketahui, Sangkala Sura saat ini tidak sendirian Dia dibantu oleh percikan kekuatan dari Dewa Iblis Bala Kroda, maka dari itu Maharsi Walamakya dapat dikalahkan bahkan Dewi Kutukan harus binasa melawan Sangkala Sura," Mendengar pengakuan dari Sang Ratu Dewi Palmasari semua terkejut termasuk Prabu Dewa Sri Purwa Dharma.
" Tidak mungkin, Dinda Dewi apakah benar ucapanmu," Ratu Dewi Kanawa tidak bisa menahan keterkejutannya dia berdiri dan berjalan Sambil mendekati Ratu Palmasari dan Putrinya.
" Yunda Ratu Dewi Kanawa, apakah Yunda juga tidak mempercayai kami?," Tanya Ratu Palmasari menyelidik.
" Maafkan aku Dinda, bukannya aku tidak percaya tapi berita ini benar-benar membuat kami terguncang," Ratu Dewi Kanawa menjadi salah tingkah.
" Gusti Ratu Wak Dewi Kanawa, sebelum kami kesini Maharsi Walamakya sempat menemui kami," Ucap Dewi Sulasih.
" Tapi aku mohon, apapun itu kita tidak punya waktu untuk membahas masalah ini berlarut-larut, karena aku yakin Sangkala Sura sudah menuju kesini," jelas Dewi Sulasih.
Kembali seluruh hadirin terguncang dengan pernyataan Dewi Sulasih.
" Kalian jangan khawatir kami akan bertanggungjawab, semoga tidak ada korban lagi," Kata Dewi Ambarwati dengan nada agak jengkel.
" Perintahku tidak ada yang bertindak sendiri-sendiri disini, jika tidak menyetujui perintahku silahkan tinggalkan Istana Tirta Yukti sekarang juga," Gusti Ratu Dewi Kanawa dengan tegas memberikan perintahnya sambil melirik Prabu Purwa Dharma.
Sang Prabu merasa dapat sindiran terpaksa berbicara.
" Hamba selaku pemimpin dari Kerajaan Lawang Praja siap berada didepan, karena ini sudah menjadi kewajiban sebagai penghuni Negeri Kahyangan Sloka," Prabu Purwa Dharma dengan tegas memberikan dukungan untuk menghilangkan citra jeleknya kepada seluruh para hadirin.
" Gusti Ratu, ketiwasan Gusti Ratu, Gusti Ratu ketiwasan, tolong Gusti Ratu," teriak satu sosok Prajurit Istana Tirta Yukti yang datang dari luar Pendopo Agung.
Namun belum selesai memberikan tanggapan kepada apa yang diucapkan oleh Prabu Purwa Dharma, tiba-tiba satu Prajurit datang dengan tergopoh-gopoh sambil berteriak-teriak.
Aksinya itu mengundang para hadirin untuk memperhatikan dirinya. Namun Prajurit itu sepertinya tidak perduli dengan sekelilingnya, sampai didepan singgasananya Ratu Dewi Kanawa Prajurit itu langsung berjongkok, namun belum memberikan sembah sujudnya karena nafasnya masih tersengal-sengal, sepertinya Prajurit itu berlari dari jauh, terbukti keringatnya bercucuran membasahi seluruh pakaiannya.
Belum selesai Prajurit itu memulihkan kondisinya, datang lagi satu Prajurit namun keadaannya berbeda dia tidak terburu-buru dan nafasnya teratur bahkan tidak ada keringat sama sekali, sampai disamping Prajurit yang berlari-lari tadi, Prajurit yang santai namun berwibawa keprajuritan langsung memberikan sembah sujud kepada Sang Ratu.
" Ampun Gusti Ratu, maafkan Hamba yang tidak bisa mencegah Prajurit ini masuk tanpa permisi," lapor Prajurit yang santai itu.
" Kau sangat lalai Prajurit seharusnya kau melaksanakan tugasmu dengan baik, kali ini kau harus dihukum," Bukan Gusti Ratu yang berbicara namun Sang Mahapatih Purwa Trenggana yang berbicara.
Mendapatkan kata-kata seperti itu Prajurit yang bertugas menjaga Pendopo Agung, ketakutan wajahnya tertunduk, tubuhnya gemetaran, keringatnya mulai mengalir meski tanpa berlari.
Prajurit penjaga Pendopo itu mendongakkan kepalanya dan berbicara ingin membela diri.
Baru saja Prajurit itu hendak membela diri Gusti Ratu Dewi Kanawa langsung memotong kata-kata Prajurit itu tanpa menunggu Prajurit itu menyelesaikan pembelaan dirinya.
" Prajurit katakan dengan jelas, apa yang terjadi sehingga kau datang tanpa peradaban yang sudah ditentukan Diistana Tirta Yukti, apakah kau tidak tahu akibatnya?," Ratu Dewi Kanawa terlihat sangat tidak senang melihat ada Prajurit yang tidak menggunakan aturan Keistanaan.
Prajurit yang datang terburu-buru itu rupanya sudah pulih dari rasa capeknya langsung menjawab pertanyaan Gusti Ratu.
Sambil mencakupkan kedua tangannya Prajurit itu berkata:
" Ampun Beribu Ampun Gusti Ratu Dewi Kanawa yang Agung, Hamba datang karena Hamba mendapatkan laporan dari penjaga Gerbang Kota bahwa diluar sana Diibukota Kasada telah terjadi pertempuran, Sangkala Sura membantai seluruh penduduk Kota," Prajurit berkata-kata dengan lancar melaporkan apa yang terjadi.
Semua yang mendengar laporan dari Prajurit itu terkejut, mereka tidak menyangka kedatangan Sangkala Sura secepat itu.
" Aaapa?," Semua hadirin secara serentak berucap hingga keadaan menjadi riuh.
" Gusti Wak Ratu, kami mohon diri," Dewi Ambarwati langsung meminta izin kepada Ratu Dewi Kanawa.
Ratu Dewi Kanawa yang masih terpaku tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung menganggukkan kepalanya.
Ratu Dewi Palmasari beserta Keduabelas Putrinya tanpa menunggu lama langsung melesat pergi.
Suasana Dipendopo Agung menjadi tidak terkendali riuhnya suara dari para hadirin tidak menyadari kepergian Ratu Dewi Palmasari dan Putrinya.
" Gusti Ratu kita harus segera bertindak sebelum korban semakin banyak," Ucap Sang Mahapatih Purwa Trenggana membuat Gusti Ratu sadar dari keterkejutannya.
" Paman Patih perintahkan semua pasukan untuk mengepung Raja Iblis Sangkala Sura," Titah Sang Ratu kepada patihnya.
" Hamba siap menjalankan perintah Gusti Ratu," Mahapatih setelah memberikan hormat langsung beranjak meninggalkan Pendopo Agung.
Setelah kepergian Sang Mahapatih Ratu Dewi Kanawa memberi perintah kepada seluruh hadirin.
" Paman Menteri bubarkan pertemuan," Gusti Ratu setelah berkata langsung beranjak meninggalkan singgasananya.
Tidak menunggu lama Menteri komando memberikan perintah.
" Gusti Ratu Dewi Kanawa memberikan perintah Kalian para hadirin pertemuan dibubarkan," Setelah mendengar komando dari Sang Menteri, semua para hadirin langsung membubarkan diri.
Kini ruang Pendopo yang tadinya ramai sekarang menjadi sepi.
********Bersambung......
Mohon dukungan dari pembaca untuk meninggalkan jejak di cerita ini**.