Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.56 Bajraloka berburu Rusa



" Cucit, apakah kau tidak menemukan dimana Rusa itu bersembunyi," Tanya seorang bocah umuran 5 Tahun yang badannya kurus tapi wajahnya tampan dengan kulit putih bersih, kepada seekor burung emprit yang kecil yang diberinama cutcit, karena suaranya cutcit-cutcit.


Burung itu sepertinya mengerti kepalanya digelengkan beberapa kali sambil bersuara.


" Cutcit-cutcit,"


" Gading, kita harus mendapatkan Rusa itu, biar malam ini kita bisa makan enak," Bocah kecil itu berbicara kepada seekor anjingnya yang selalu setia menemani.


" Auuuuunggg," Gading nama dari Anjing meraung tanda setuju.


" Sekarang kau cutcit pergilah kearah sana dan kau Gading kearah sana sedangkan aku kearah depan," Setelah membagi tugas bocah itu langsung berjalan sambil berlari kecil begitu juga kedua Binatang piaraannya.


Bocah itu sambil memegang Busur mulai berjalan biasa dilihatnya kiri kanan sambil menguak-nguak semak-semak, namun belum juga menemukan jejak Rusa itu.


Tanpa disadari bocah itu sudah jauh memasuki Hutan, Bocah itu terus berjalan hingga sampai pada sebuah sungai, karena rasa lelah bocah itu istirahat ditepi sungai sambil memainkan air sungai yang jernih.


Rasa kantuk mulai dirasakan bocah itu dan akhirnya dia terlelap berbantalkan sebongkah Batu sungai.


Tidak lama kemudian muncul Tiga Peri Hutan dengan tubuh yang kecil seukuran Ibu jari yang cantik menghampiri bocah tersebut.


" Meranti, kasihan sekali anak ini dia nampak lelah," Kata salah satu peri yang bersayap merah menyala, pakaian yang dikenakan terbuat dari serat-serat daun juga berwarna merah.


" Baru kali ini ada anak kecil yang masuk kehutan sejauh ini, apa yang terjadi dengan anak ini?," kata peri yang dipanggil Meranti, dia bersayap Biru Tua menyala dan pakaian yang dikenakan terbuat dari bulu domba juga berwarna biru.


" Kenari aku melihat anak ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki para manusia," Meranti kembali berkata dia memanggil nama kenari, peri yang bersayap Putih susu dan pakaiannya terbuat dari kulit binatang.


" Iya benar, coba kita lihat lebih dekat lagi," Kata Kenari sambil mendekati bocah tersebut.


" Bocah ini sangat tampan, tapi sayang tidak terurus dengan baik," kata Peri bersayap merah yang bernama Kemiri.


" Jangan ganggu anak itu, dia milikku,"


Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, ketiga Peri itu menoleh.


" Rupanya ini ulahmu Jelati," kata Peri Meranti


" hihihihihihihi, memang benar, aku menginginkannya, walaupun dia kurus tapi wajahnya sangat tampan, akan kurawat dia dengan sihirku agar dia cepat besar dan kujadikan suami," Peri Jelati berkata dengan membusungkan dadanya menantang ketiga Peri tersebut, sayapnya berwarna hitam pakaiannya juga berwarna hitam terbuat dari ijuk namun kulitnya putih kontras dengan pakaian yang dikenakan hingga terlihat sangat cantik.


" ******! dipikiranmu hanya nafsu bejatmu itu, ingat bangsa kita berbeda dengannya kau akan terkena kutuk," Kenari memperingati Jelati namun Jelati sepertinya tidak perduli.


" Jangan sok mengajariku, minggir kalian," Peri Jelati mengayunkan tongkat sihir ditangannya maka selarik sinar hitam keluar dari tongkatnya, namun ditahan oleh ketiga Peri dengan sama-sama mengeluarkan sinar Biru, Merah dan Putih menghalau sinar Hitam.


Akibat benturan sihir, Peri Jelati jatuh disebuah Batu besar yang ada disungai kekuatan sihirnya kalah.


Belum sempat mengeluarkan suara mengaduhnya, selarik sinar biru menghantam batu tempat jatuhnya Peri Jelati, namun Peri Jelati masih mampu menghindar, dengan tubuh seringan kapas, dia pindah kebatu yang lain, tapi sinar Merah menghantam tubuhnya sebelum dia menginjak batu tersebut.


" Aaaaakkkkhhh," Tubuh kecil Peri Jelati jatuh kesungai, sayapnya yang basah tidak bisa membuatnya terbang, dia terhanyut terbawa arus sungai.


" Kita harus mengembalikan anak ini kerumahnya, kasihan sekali orangtuanya pasti bingung anaknya belum kembali," kata Peri Meranti.


Ketiga Peri itu kemudian saling tersenyum dan dalam sekejap menghilang.


******


Didesa Kenari, Ki Wongso dan Nyi Kerti keliling Desa menanyakan kepada penduduk Desa tentang keberadaan anaknya, Matahari sudah hampir terbenam namun si anak belum juga pulang.


Ki Wongso dan Nyi Kerti menjadi panik, setiap yang ditanyai mengatakan tidak tahu, apalagi jawaban yang diterima bermacam-macam, ada yang menjawab dengan seadanya namun ada yang menjawab sambil menakut-nakuti.


" Hei Wongso, sepertinya kau tidak becus mengurus anak bagaimana bisa mengurus seorang anak kecil saja kau sampai lengah, jangan-jangan dia pergi kehutan dan dimangsa binatang buas," Jawaban dari Seorang Warga Desa yang tidak mengenakkan hati itu hanya diterima dengan senyuman tanpa balasan.


Ki Wongso yang akhir-akhir ini sakit-sakitan terpaksa terus berjalan menemani Istrinya mencari Putranya.


Hingga sampai dikediaman Kepala Desa, Ki Wongso dan Nyi Kerti langsung mengetuk pintu.


" Sampurasun," sapaan Ki Wongso dan Nyi Kerti.


" Rampess," terdengar jawaban dari dalam rumah.


" Eeeeehhh, Ki Wongso dan Nyi Kerti, tumben datang kemari, ayo silahkan masuk," Kata seorang wanita yang lebih muda dari Nyi Kerti Istri pak lurah


Ki Wongso dan Nyi Kerti langsung masuk kedalam mengikuti Bu lurah, sampai didalam


dia melihat Pak lurah sedang membuka-buka catatan kependudukan yang terbuat dari daun lontar.


" Sampurasun Pak lurah," Sapa Ki Wongso dan Nyi Kerti.


" Rampess, ooooo Ki Wongso dan Nyi Kerti, ayo silahkan duduk jangan sungkan," Kata Pak lurah ramah, Istri Pak langsung beranjak menuju kebelakang.


" Kalau boleh saya tahu, apa gerangan yang membuat Ki Wongso dan Nyi Kerti, tumben-tumbenan datang kemari," Tanya Pak lurah.


" Begini pak lurah, anak saya sudah jam segini belum pulang, saya dan Istri saya sudah keliling menanyai orang-orang Desa tapi tidak ada yang tahu, kami jadi khawatir Pak lurah, tolong bantu kami," Ki Wongso dengan sedih memberitahukan kejadian yang menimpanya.


" Jadi begitu, baiklah Ki Wongso tenang saja aku dan seluruh warga akan membantu Ki Wongso," Kata Pak lurah.


" Kalau begitu Pak lurah saya mau pamit pulang dulu siapa tahu, anak itu sudah pulang,"Kata Ki Wongso agak tenang namun diiringi suara batuknya Ki Wongso.


" Silahkan, Ki Wongso tunggu dirumah saja, biar kami yang mencari," Ucap Pak lurah.


Istri Pak lurah muncul dari belakang sambil membawa wedang jahe, namun dia terkejut karena Ki Wongso dan Istrinya sudah tidak ada lagi disana namun Pak lurah menjelaskan , Istri Pak lurah jadi tersenyum malu.


Ki Wongso dan Nyi Kerti berjalan pulang setelah berpamitan kepada Pak lurah.


Sampai dirumah Ki Wongso dan Nyi Kerti langsung kekamar anaknya Bajraloka, betapa girangnya mereka karena ditempat tidur ada seorang anak kecil yang tidur terlentang sambil mendengkur.


Sedangkan Gading berada dibawah samping tempat tidur dan cutcit bertengger di perut Bajraloka.


****** Bersambung......