
Sangkala Sura melihat Kesebelas Bidadari mengejar Dewi Sulasih merasa kesal, Dia khawatir jika Kesebelas Bidadari itu mengejar Dewi Sulasih maka kesempatan untuk memperistri para Bidadari akan sirna.
" Aku harus melakukan sesuatu," Sangkala Sura mengangkat tangan kanannya kemudian mengarahkan kedepan, maka muncullah sebelas rantai memanjang mengejar Dewi Ambarwati dan adik-adiknya.
" Yunda Dewi, lihatlah kebelakang," Para Dewi menoleh kebelakang setelah mendengar seruan dari Dewi Dambasari.
Para Dewi terkejut bukan main sebab mereka merasa kekuatan rantai tersebut tidak bisa mereka kalahkan.
" Yunda Dewi apa yang harus kita lakukan," para Dewi menjadi panik.
" Kalian semua jangan khawatir, mungkin ini yang dinamakan takdir, cepat keluarkan mustika pemberian dari Sanghyang Bhatara Siwa, sebelum rantai-rantai itu membelit tubuh kita," Para Dewi langsung mengeluarkan sebuah Mustika masing-masing.
Setelah membaca mantra semua Mustika bersinar dan perlahan-lahan mulai melayang, Kemudian para Dewi mencakupkan tangannya dan memejamkan mata.
Kesebelas rantai seperti tak pernah habis terus melesat memanjang mengejar kearah para Dewi dengan cepat.
Ketika rantai sudah tinggal sejengkal, Ratu Dewi Palmasari yang melihat kejadian itu hampir pingsan.
" Wusshh," Rantai melilit di semua pinggang para Dewi namun sebelum rantai-rantai mengencangkan lilitannya.
Para Dewi tiba-tiba tubuhnya tertarik oleh Mustika miliknya masing-masing dan masuk kedalam Mustika tersebut, kini Para Dewi berada ditengah-tengah Mustika itu lalu melesat cepat meninggalkan tempat itu.
Rantai-rantai Sangkala Sura akhirnya tidak dapat menangkap sasarannya.
******
Sementara itu Permata Airmata meluncur turun dengan kencang karena takut akan kejaran dari Sangkala Sura, Permata Airmata kini dikendalikan oleh Pangeran Jayarudra yang ada didalamnya tidak menyadari bahwa Sanghyang Bhatara Siwa mengawasinya.
Sanghyang Bhatara Siwa mengarahkan Permata Airmata ke Alam reinkarnasi maka terciptalah sebuah pusaran dibawah Permata Airmata.
Permata Airmata masuk kedalam pusaran tersebut.
Tidak lama kemudian tubuh Dewi Sulasih yang tidak sadarkan diri juga masuk kedalam pusaran tersebut.
Sanghyang Bhatara Siwa tersenyum.
" Apa yang sudah ditakdirkan, tidak ada yang bisa merubah kecuali takdir itu sendiri yang berkehendak," Sanghyang Bhatara Siwa menengadah keatas sepertinya ada sesuatu yang ditunggunya.
Setelah Dewi Sulasih masuk kedalam pusaran tersebut, pusaran reinkarnasi dengan sendirinya menghilang.
Tidak lama kemudian Sanghyang Bhatara Siwa menengadahkan tangannya kedepan tiba-tiba Sebelas Mustika jatuh ditangannya.
" Kalian akan kukirim kebumi untuk menemani Pangeran Jayarudra dan Dewi Sulasih yang akan menumpas angkaramurka dimuka bumi jadilah kalian tameng bagi mereka, kalian akan tetap berada di dalam Mustika selama Dewi Sulasih belum memberikan sedikit darahnya kepada kalian," Setelah berbicara Sanghyang Bhatara Siwa menyatukan kesebelas Mustika tersebut menjadi satu Mustika.
Sanghyang Bhatara Siwa menggunakan Tri netranya yaitu mata ketiganya yang berada tepat di dahinya.
Tidak lama kemudian Mustika itu bersatu menjadi satu Mustika.
Kini Mustika itu terlihat lebih indah dengan Sebelas warna.
Kekuatan pada Mustika itu pun bertambah lebih besar.
Sanghyang Bhatara Siwa memandang Mustika itu kemudian meniupnya, Mustika itu melayang.
" Ku berinama Mustika Dewi Kahyangan, pergilah....!," Setelah mendapat perintah dari Sanghyang Bhatara Siwa Mustika itu langsung melesat meninggalkan Sanghyang Bhatara Siwa.
Sanghyang Bhatara Siwa setelah melakukan ritual langsung menghilang meninggalkan tempat itu.
******
Sangkala Sura menggunakan sebelas rantai melawan Lima Mahapatih.
Sedangkan Bala Kroda dikeroyok oleh Ratu Dewi Kanawa, Ratu Dewi Palmasari dan kedua Raja besar.
Pertarungan sengit terjadi Lima Mahapatih mampu mengimbangi serangan rantai-rantai dari Sangkala Sura, sedangkan pihak Ratu Dewi Palmasari sudah merasa kewalahan karena wujud Asap hitam Bala Kroda yang sewaktu-waktu berubah bentuk sulit untuk diserang.
Pertarungan tiba-tiba berhenti ketika dari atas sebelah timur terdengar derap langkah kuda dan bunyi Genta, selang beberapa tarikan nafas muncul rombongan kereta berlapis emas ditarik oleh empat ekor kuda dalam satu kereta.
Kereta-kereta itu menuju ketempat pertarungan, setelah sampai kereta-kereta itu berhenti diudara.
Tidak berapa lama terlihatlah para Dewa-Dewi turun dengan melayang menghampiri rombongan Ratu Dewi Palmasari.
Ratu Dewi Palmasari dan yang lainnya segera bersujud menghaturkan sembah sedangkan Sangkala Sura tetap berdiri dengan angkuh, sementara Bala Kroda mulai memasang wajah ketakutan.
Aura kedewataan mulai memancar keluar menindas Sangkala Sura dan Bala Kroda.
Setiap Dewa-Dewi memancarkan sinar keemasan.
" Bangunlah kalian semua," Kata salah satu Dewa yang berada paling depan dengan aura kepemimpinan.
" Terimakasih Yang Mulia Raja, Raja dari segala Dewa," Ucap serempak dari para Dewa-Dewi Kahyangan Sloka sambil mulai berdiri.
" Dewa Indra, Sangkala Sura dan Bala Kroda sudah melewati batas, Dewa sebagai pemimpin Para Dewa-Dewi harus segera bertindak untuk menghukum mereka berdua," Kata Dewa Bayu selaku Dewa penguasa Angin.
" Dewa Bayu, Ucapanmu memang benar, mereka akan dihukum sesuai dengan perbuatan mereka," Ucap Dewa Indra selaku Raja Dewa-Dewi Disurga.
Ternyata rombongan kereta yang datang adalah Para Dewa-Dewi tertinggi Disurga, karena Surga merupakan Alam Kahyangan tertinggi yang berada dilangit ketujuh.
" Bala Kroda, dosa-dosa mu benar-benar tidak terampuni, maka sebagai hukuman yang pantas untukmu adalah kau harus kembali sekarang ketubuhmu sedangkan Tapa pengampunanmu harus ditambah sampai Seribu Tahun lagi dengan tubuh sebagai penyangga Gunung Nirmala,"
Bala Kroda begitu terkejut dengan hukuman yang menurutnya tidak adil dia mendengus kesal.
" Kau sudah melanggar perjanjian Ksatria, membunuh, menghancurkan segala yang tak berdosa demi ambisimu maka kau dikutuk,
Kau tidak pernah mendapatkan apa yang menjadi keinginanmu, hidupmu penuh dengan kegagalan, dan kau akan mengalami ketakutan dan jika tiba ajalmu rohmu akan menjadi penghuni Neraka ketujuh secara abadi," Setelah selesai Dewa Indra menyatakan hukuman langit menjadi gelap Petir menyambar menggelegar mengeluarkan suaranya dan Angin tiba-tiba berhembus kencang , Sangkala Sura yang tidak terima langsung mengeluarkan Trisulanya.
" Haha, aku Siraja Iblis Bhakti setia dari Mahadewa, kau Dewa Indra tidak pantas menghukumku sekehendak hatimu, aku Sangkala Sura tidak takut dan gentar kepada siapapun," Sangkala Sura melemparkan Trisulanya kearah Dewa Indra.
Dewa Indra segera mengangkat tangannya maka keluarlah sebuah busur lalu menarik tali busur Tiga buah panah bersinar langsung mengisi busur yang tadinya kosong, Dewa Indra melepaskan panahnya yang bernama Indra Astra.
Tiga buah panah melesat menyambut Trisula dari Sangkala Sura.
" Jduaarr," Suara benturan kedua senjata sakti itu membuat semua para Dewa-Dewi yang hadir tidak bisa mengeluarkan suara.
Tiga panah Indra Astra kembali melesat maju menyerang Sangkala Sura sedangkan Trisula milik Sangkala Sura hancur berkeping-keping.
Sangkala Sura yang melihat Trisulanya hancur menjadi gentar dan takut setelah merasakan tiga kekuatan panah Indra Astra, Sangkala Sura akhirnya mengambil langkah seribu melarikan diri sebelum panah itu menghancurkannya.
Tiga panah Indra Astra terus mengejar Sangkala Sura kemanapun dia pergi.
****** **Bersambung......
Semoga terhibur**