
Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya Terbang meninggalkan reruntuhan bangunan Istana Batu Angin, mereka kearah Barat menuju Istana Tirta Yukti.
Sementara itu Sangkala Sura yang tadinya dikuasai oleh Dewa Iblis Bala Kroda kini sembuh dari lukanya sehabis menghisap energi kehidupan Dewi Kutukan, namun Bala Kroda tidak langsung pergi Dia malah bersemayam di pikiran Sangkala Sura namun Sangkala Sura belum menyadari hal itu, tidak menunggu lama Sangkala Sura langsung melesat pergi meninggalkan tempat itu, Dia melewati berbagai macam Bukit dan Gunung-gunung yang melayang, anehnya Bukit dan Gunung-gunung itu meski melayang namun tidak berpindah tempat hanya diam ditempat semula.
Sudah sangat jauh Sangkala Sura meninggalkan tempat dimana dia membunuh Dewi Kutukan, tak satupun Sangkala Sura menemukan satupun sosok Dewa-Dewi, bahkan Desa-desa yang ramai dengan rumah dan bangunan tidak ada satupun sosok Dewa-Dewi ditemukan, hanya suasana hening dan mencekam.
Sangkala Sura pun bertanya-tanya heran
" Dari tadi aku tidak menemukan siapapun, apa yang terjadi? apakah mereka semua sudah mendengar tentang diriku lalu mereka bersembunyi? kalau begitu aku harus menemukan mereka, siapa tahu salah satu dari mereka mengetahui dimana Permata Airmata itu," Sangkala Sura tak henti-henti bertanya-tanya sambil matanya selalu awas, kalau-kalau ada yang lewat.
Namun tetap saja Sangkala Sura harus kecewa.
" kalau begini sepertinya aku harus menggunakan mata Dewa ku," Setelah bergumam Sangkala Sura mulai berkonsentrasi Dia memfokuskan tenaga dalam kesatu titik yaitu kedaerah mata. Setelah tenaga dalam berkumpul Sangkala Sura membuka matanya maka semua bisa terlihat dengan jelas sampai jarak yang terjauh pun, bangunan-bangunan, pohon-pohon tidak menghalangi pandangan Sangkala Sura.
Sangkala Sura mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan siapapun, Dia terus terbang hingga sampai di Istana Kerajaan Gunung Terbang, Sangkala Sura mencoba turun berharap ada penghuni namun kosong juga, Sangkala Sura sangat kecewa kemudian Dia pergi kearah barat.
Di Istana Kerajaan Tirta Yukti tepatnya disebuah ruangan yang tertutup, tempat itu di penuhi dengan alat-alat bekas sesajen persembahan kepada para Dewa-Dewi Disurga. Gusti Ratu Dewi Kanawa melakukan semedi dengan sangat khusyuk meskipun ada seekor ular yang menggigit Gusti Ratu, Beliau tidak akan bergeming, tidak lama kemudian datanglah sebuah sinar biru redup menghampiri Sang Ratu, perlahan-lahan Sinar itu mendekati Sang Ratu, setelah berjarak satu meter sinar itu berubah menjadi sesosok Dewa yang Tua dan Dewa tersebut adalah Maharsi Walamakya Beliau pun membangunkan Gusti Ratu Dewi Kanawa.
" Wahai anakku Dewi Kanawa aku Maharsi Walamakya datang menemuimu, ada hal penting yang harus disampaikan, bangunlah dari semedimu sekarang juga," Maharsi Walamakya membangunkan Dewi Kanawa yang sekarang sudah mulai membuka matanya perlahan-lahan, Maharsi Walamakya yang dianggap sesepuh oleh seluruh penghuni Kahyangan Sloka menganggap semua Dewa-dewi adalah anaknya.
" Sang Maharsi Agung terimalah hormat Hambamu ini," Dewi Kanawa langsung memberikan penghormatan kepada Sang Maharsi.
" Bangunlah anakku, ada sesuatu yang yang ingin aku sampaikan kepadamu," Kata Sang Maharsi.
" Hamba siap mendengarkannya Sang Maharsi," Ucap Sang Ratu.
Sebelum berbicara Maharsi Walamakya mengeluarkan sebuah bungkusan dari tangannya, Sang Ratu berdebar-debar ketika melihat bungkusan tersebut, namun hanya sebentar setelah Maharsi membuka bungkusan tersebut Sang Ratu tidak dapat membendung Airmatanya tangisannya langsung pecah.
" Anakku tenangkan hatimu, aku datang kesini ingin menyerahkan Permata milikmu ini, jaga Dia dengan baik-baik," Kata Maharsi Walamakya.
" Tapi, dalam keadaan seperti ini bukankah Permata ini lebih aman berada bersama Sang Maharsi," Ucap Dewi Kanawa yang ingin penjelasan lebih lanjut dari sang Maharsi.
Sang Maharsi tersenyum mendengar ucapan dari Sang Ratu.
" Anakku, jalannya takdir memang tidak bisa ditebak semua penuh teka-teki yang tidak memiliki jawaban, maka tugas kita adalah menjalani dengan keikhlasan mengikuti alur kehidupan," Kata Sang Maharsi.
" Maharsi yang Agung, Hamba mengucapkan Beribu- ribu terimakasih, karena penjelasan Sang Maharsi beban Hamba jadi berkurang, Hamba sudah merasa lebih tenang," Ucap Dewi Kanawa sambil menghaturkan sembah.
" Tugasku sudah selesai, maka aku harus pamit, terimalah ini," Sang Maharsi memberikan Permata Airmata itu kepada Sang Ratu, setelah Sang Ratu menerima Sang Maharsi langsung menghilang.
Gusti Ratu Dewi Kanawa melepas kepergian Sang Maharsi, setelah Sang Maharsi menghilang Gusti Ratu kemudian memandangi Permata Airmata yang didalamnya terdapat Putranya sedang melakukan semedi, tak terasa Airmata Gusti Ratu menetes beberapa kali mengenai Permata itu.
Seketika Permata itu langsung bersinar terang berwarna merah muda, setelah beberapa lama sinar Permata itu kembali menghilang.
" Ibunda, aku merasakan kesedihan Ibunda teramat dalam, itu membuatku ikut bersedih, disini aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan berinkarnasi menjalani takdirku, untuk bisa menciptakan perdamaian Dinegeri Kahyangan Sloka ini, aku mohon Ibunda merestui bukan bersedih," Kata-kata Pangeran Jayarudra membuat Ratu Dewi Kanawa tersentak, Dia tidak menyangka bahwa itu suara dari Putranya.
" Putraku, Ibunda merestuimu nak, Ibunda tidak bersedih lagi, Ibunda akan sabar menanti kedatangamu nak," Kata Sang Ratu sambil tersenyum memandangi Putranya.
Setelah selesai bercakap-cakap dengan Putranya Sang Ratu kemudian mengibaskan tangannya dan dalam sekejap Permata itu menghilang kemudian Dia keluar dari ruangan tersebut.
Diluar Istana tepatnya disebuah Kota Kerajaan Tirta Yukti yang bernama Kota Kasada Dwipa terlihat begitu ramai dan padat karena ditambah Ribuan pengungsi dari Kerajaan lain.
Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya baru
tiba diperbatasan kota, dengan memperlihatkan lencana Keratuannya dengan mudah mereka memasuki pintu kota.
Sekarang mereka tidak menggunakan jalan terbang lagi, mereka sengaja melakukan itu agar lebih lama menikmati keindahan kota, lagipula mereka juga tahu, kalau jalan udara sudah ada Prajurit Kerajaan yang mengatur lalulintas udara itu disebabkan jalan udara lebih ramai daripada jalan darat.
Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya menjadi pusat perhatian karena kecantikan mereka yang tidak biasa, ternyata mereka semua tidak tahu, kalau yang selalu mereka bicarakan karena kecantikan Keduabelas Putri dari Kerajaan Batu Angin selama ini ada didepan mereka, rasa kagum dan terpesona menjadi satu.
Banyak Suara kasak-kusuk dimana-mana, meski Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya mendengar tapi mereka tidak perduli, hanya senyum yang mereka umbar, selama mereka bersikap wajar-wajar saja.
Ratu Palmasari dan Keduabelas Putrinya menjadi heran karena melihat keramaian yang tak biasa.
" Ibunda, ternyata benar kalau semua penduduk Kerajaan Gunung Terbang dan Lawang Praja sedang mengungsi kesini," Ucap Dewi Ambarwati.
" Ya kau benar, kalau begitu kita harus segera sampai Keistana Tirta Yukti secepatnya," setelah berbicara Ratu Palmasari menjentikkan jarinya maka keluarlah sebuah Awan cukup besar didepan mereka, kemudian mereka semua naik dan Awan tersebut melesat terbang membawa mereka Keistana.
****** Bersambung......