Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.54 Nyi Kerti melahirkan



Pagi hari di Desa Kunir para penduduknya dikagetkan oleh segerombolan kupu-kupu cantik dan Burung-burung dengan suara yang indah tiba-tiba muncul meramaikan Desa Kunir yang penduduknya hanya berjumlah Sembilan puluh Sembilan kepala keluarga.


Hewan-hewan cantik dengan berbagai warna itu entah datang darimana tiba-tiba ramai, beterbangan kesana-kemari, penduduk Desa Kunir merasa senang melihat fenomena itu, saking senangnya semua penduduk ingin menangkap burung, dengan berbagai cara dilakukan meskipun terlihat jinak tapi tidak berhasil untuk ditangkap, burung-burung itu seolah mengerti maksud dari para penduduk.


Nyi Ending berjalan tergopoh-gopoh melewati beberapa rumah penduduk, melihat Nyi Ending seperti itu semua penduduk hanya bertanya-tanya sendiri karena takut mendapatkan dampratan Nyi Ending yang kasar.


Salah satu penduduk memberanikan diri bertanya saking penasarannya.


" Nyi mau kemana buru-buru," penduduk itu bertanya selembut mungkin.


" Puiihh," Nyi Ending berhenti sejenak kemudian mengeluarkan kinangan dan membuangnya untuk menjawab pertanyaan.


" Apa kamu tidak tahu? Nyi Kerti sekarang sudah waktunya melahirkan," Nyi Ending langsung melongos pergi tanpa basa-basi.


" oooohh," Ucap penduduk itu memonyongkan bibirnya bulat.


" Eh Ki Jurag, apa aku tidak salah dengar omongan Nyi Ending," Rupanya percakapan pendek Nyi Ending dan Ki jurag dikupingi oleh Salah satu wanita di Desa Kunir.


Ki Jurag hanya mengangguk.


" Kasihan juga, wanita setua itu harus melahirkan apa dia kuat? wanita itu sepertinya mencibir terbukti bibirnya dicibirin.


" Kamu itu bukannya mendoakan malah ngomong yang tidak mengenakkan begitu," Kijurag sangat jengkel dengan perkataan wanita itu. Kijurag langsung meninggalkan wanita itu yang sepertinya ingin mencibir lagi tapi tidak jadi.


Berita Nyi Kerti melahirkan tersiar cepat keseluruh desa.


Ada yang menyimpulkan adanya kupu-kupu cantik dan Burung-burung dengan suara yang merdu karena menyambut kelahiran bayi Nyi Kerti, namun ada yang menganggap biasa saja.


" Kalau memang Kupu-kupu dan burung-burung ini menyambut kelahiran bayi Nyi Kerti, berarti anak itu akan menjadi anak yang ajaib," Kata salah seorang laki-laki yang berkumpul disebuah tempat ronda.


" Mana mungkin Ki Wongso punya anak ajaib, lha wong anak ajaib itu perlu makanan yang enak agar tulangnya kuat, apa Ki Wongso yang miskin itu punya makanan enak untuk kasih anaknya,ya nggak to? jawab yang lainnya yang tidak merasa senang dengan Ki Wongso.


Ada yang manggut-manggut ada yang diam mencari jawaban.


******


Dirumah Ki Wongso, Nyi Kerti merasakan mules pada perutnya bukan ingin buang hajat tapi ingin mengeluarkan isi yang bersemayam selama sembilan bulan sepuluh hari yang selalu mengganggu ketenangan Nyi Kerti namun Nyi Kerti senang.


" Aduuuhh, Ki perutku sakit," Nyi Kerti memanggil suaminya yang sedang berada dibelakang rumah memberi sarapan hewan-hewan piaraannya.


Ki Wongso yang mendengar panggilan Nyi Kerti langsung mengabaikan hewan-hewan itu, terutama Si kambing yang belum dapat jatah langsung mengembik protes.


" Kiiiiiik, cepat sakit sekali rasanya," Nyi Kerti sudah tidak sabar.


Ki Wongso kaget melihat Istrinya sudah selonjoran dilantai bersandar disalah satu tiang rumahnya sambil memegang perutnya.


" Aduuuhh biyung, kau kenapa Nyi? Ki Wongso yang memang tidak berpengalaman langsung membopong Istrinya membawa ketempat tidur.


" Ki, cepat kau panggil Nyi Ending, sepertinya ini sudah waktunya," Nyi Kerti memaksakan untuk bicara Sambil menahan rasa sakitnya.


Ki Wongso yang mendengar perkataan Istrinya langsung pergi dia sangat panik karena tidak tahu apa yang mesti dilakukan.


" Kau mau kemana Ki?


Tiba-tiba Ki Wongso mendengar suara yang dikenalnya ketika masih mengunci pintunya, Ki Wongso langsung berbalik, kaget bercampur senang dirasakannya dia langsung menyambut Nyi Ending yang datang tepat waktu.


" Nyi Ending, Istriku perutnya sakit, cepat Nyi kata Istriku sudah waktunya," Ki Wongso berkata dengan polosnya kemudian membukakan pintu yang baru saja dikuncinya.


" Kau Ndak usah banyak omong, aku sudah tahu," Ki Wongso malah garuk-garuk kepala yang memang gatal.


" Waduuuh salah lagi," Gumam Ki Wongso


Nyi Ending mendekati Nyi Kerti yang sudah tidak merasakan sakit.


" Nyi kau sudah datang," Ucap Nyi Kerti lirih


" Ya, hitunganku bahwa hari ini kamu melahirkan," Kata Nyi Ending iba melihat keadaan rumah Ki Wongso yang banyak lubang anginnya.


" Tadi itu sangat sakit, tapi sekarang hilang," Nyi Kerti memasang raut wajah memelas.


" Itu sudah biasa, itu gejala-gejala akan melahirkan," Nyi Ending berbicara menenangkan Nyi Kerti sambil memeriksa perut Nyi Kerti.


" Gimana nyi, apakah sekarang waktunya," tanya Nyi Kerti yang melihat Nyi Ending memeriksa perutnya.


" Mungkin sore atau malam nanti," Jawab Nyi Ending.


Nyi Ending setelah selesai memeriksa keadaan Nyi Kerti Sekarang mulai meracik ramuan pelancar jalannya bayi.


Malam itu , Hujan turun dengan derasnya, petir menyambar menggelegar, penduduk Desa Kunir semua mendekam kedinginan didalam rumah, orang-orang yang ingin melihat Nyi Kerti melahirkan pun tidak jadi karena takut dengan petir.


Suara kesakitan Nyi Kerti, terdengar memilukan oleh Ki Wongso, Dia menuggu harap-harap cemas, kelahiran anak pertamanya.


Mulutnya komat-kamit membaca doa agar Istri dan anaknya selamat.


Dibawah guyuran hujan yang deras dan petir yang menyambar, Ki Wongso tidak perduli dengan hal itu, dia mondar-mandir di bilik rumahnya, hatinya tidak tega mendengar pekikan Istrinya.


" Atur nafas, pelan-pelan, ya begitu, bagus, terus begitu," Nyi Ending memberikan arahan kepada Nyi Kerti, keringatnya bercucuran cemas karena sudah dari sore Nyi Kerti kontraksi masih saja belum lahir.


" Aduuuhh Ki," Nyi Kerti menahan sakit yang teramat sangat dia rasanya sudah tidak kuat.


Lewat tengah malam di bawah guyuran hujan dan petir, terdengar sayup-sayup suara Genta, Ki Wongso menjadi heran disaat seperti ini ada suara Genta.


" Malam-malam begini siapa yang membunyikan Genta," Ki Wongso celingak-celinguk mencari arah suara.


" Jduaarr," Satu kilatan petir menyambar didepan kaki Ki Wongso, cahaya berkelebat menerangi tempat itu beberapa detik, Ki Wongso terjungkal mundur menghantam dinding rumahnya.


" Aduuuhh Gusti, pertanda apa ini? Ki Wongso mengelus dadanya setelah bisa berdiri.


Ki Wongso lagi-lagi dikagetkan oleh sebuah benda yang tiba-tiba ada didepannya, sebuah Genta yang sebesar kelingking berwarna keemasan Ki Wongso kemudian memungutnya.


Hujan telah reda begitu terdengar suara tangisan seorang bayi laki-laki ditelinga Ki Wongso yang terperangah bahagia.