
" Berhenti, jangan bersenang-senang dulu
" Mari kita lihat apakah Bangkai dari Iblis itu masih utuh atau sudah hancur?," Kata Sang Adipati penuh keyakinan.
Mereka semua langsung ketempat dimana ledakan tersebut.
Namun hanya puing-puing bangunan yang ada bekas daging, tulang bahkan pakaian dari Sangkala Sura tidak ada yang tertinggal.
" Tak ada apapun, hanya bekas puing-puing bangunan yang tertinggal," Ujar salah satu Dewa.
" Ya benar sekali," Ucap yang lain membenarkan.
" Sepertinya kita berhasil membunuhnya Gusti Adipati," Ujar salah satu pengawal Sang Adipati.
" Gusti Ratu pasti senang dengan kabar ini," Ucap Sang Adipati penuh dengan kebanggaan.
" Dengarkan aku, bersihkan puing-puing bangunan ini, rumah-rumah yang rusak akan segera diperbaiki, aku akan pergi melapor ke
Istana," Seru Sang Adipati kepada seluruh penduduk Kota Kasada.
Belum genap satu tarikan nafas Sang Adipati memberikan perintah, tiba-tiba hembusan
Angin begitu kuat menghempaskan semua puing-puing bangunan, bahkan ada beberapa Dewa-Dewi terjungkal.
" Ada apa ini? Angin ini mengandung kekuatan dahsyat apakah akan terjadi sesuatu?," Sang Adipati berbicara pada dirinya sendiri namun didengar oleh para Dewa-Dewi lainnya.
" Gusti Adipati, benar kata Gusti, ini Angin tidak biasanya," Salah satu Dewi menimpali pertanyaan gumaman dari Sang Adipati sambil kedua lengannya berada didepan wajahnya untuk mencoba menghadang lajunya Angin kearah wajahnya.
" Gusti Adipati, lihat disana sepertinya Sangkala Sura masih hidup dan sekarang menjadi raksasa," Salah satu Dewa berseru sambil menunjuk kearah Sangkala Sura berada.
" Kita harus waspada, sepertinya kali ini kita sulit menghadapinya karena kekuatannya lebih hebat, segera bentuk formasi badai Matahari!," Sang Adipati langsung memberi perintah.
Formasi matahari adalah sebuah formasi perang yang bentuknya melingkar mengelilingi musuh yang dipimpin oleh 8 pemimpin yang berada diseluruh Mata Angin, mereka yang berada dibelakang pemimpin menyuplai kekuatan kepada pemimpin masing-masing.
Karena diikuti dengan terbang maka formasi segera terbentuk, sekarang mereka semua mengelilingi Sangkala Sura.
Sangkala Sura kini berubah bentuk menjadi raksasa yang sangat besar, bahkan saking besarnya semua bangunan-bangunan terlihat kecil hanya sejajar dengan pinggangnya.
Setelah Sangkala Sura muncul dengan wujud raksasanya, Angin yang tadinya berhembus kencang kini lenyap namun menyisakan kerusakan dimana-mana.
Sangkala Sura lolos dari serangan panah dari gabungan kekuatan Ribuan para Dewa-Dewi berkat dari Dewa Iblis Bala Kroda.
Meskipun agak jengkel Bala Kroda dengan kesaktiannya membuat Sangkala Sura menghilang dan berpindah tempat dalam satu detik ketika panah tersebut tinggal seperempat jengkal.
Pertarungan pun dimulai dengan sangat sengit, sinar- sinar kekuatan yang berbentuk seperti bola menghantam tubuh Sangkala Sura namun tidak membuat Sangkala Sura kewalahan, malah dengan mudah dia menangkap sinar-sinar itu dan melemparkan kembali ke pemiliknya,
Alhasil banyak para Dewa-Dewi harus terluka dengan kekuatannya sendiri.
Berbagai upaya dilakukan oleh semua para Dewa-Dewi termasuk Sang Adipati, namun tidak memberikan hasil apapun bahkan hanya menambah korban semakin banyak.
Sang Adipati kini semakin panik, bahkan salah satu putri kesayangannya ikut menjadi korban kebrutalan Sangkala Sura.
Sangkala Sura membuka mulutnya maka keluarlah kobaran api yang membakar semua yang ada disekitar termasuk para Dewa-Dewi yang terlambat melarikan diri.
" Gusti Adipati bagaimana ini, Iblis ini seperti Dewa kematian, kita semua bisa mati disini," kata salah satu pengawal Adipati.
" Cepat perintahkan semuanya untuk mundur jangan ada yang berani melawan!," Titah Sang Adipati kepada pengawalnya.
Pengawal itu kemudian menyuruh mundur semua para Dewa-Dewi.
Para Dewa-Dewi mundur berhamburan bahkan ada yang saling tabrak mengenai teman sendiri, formasi Matahari yang dibentuk sudah sejak tadi hancur.
Saking asyik dengan aksinya bakar- membakar Sangkala Sura tidak menyadari ada Tigabelas selendang berwarna-warni menuju kearahnya dan membelit tubuh Raksasa Sangkala Sura, Api tiba-tiba padam dan hujan es pun turun memadamkan semua rumah dan bangunan yang terbakar.
Sangkala Sura dengan sekali hentakan dapat melepaskan Tigabelas Selendang tersebut dari tubuhnya, Selendang tersebut kembali ke pemiliknya masing-masing yang ternyata adalah Ratu Dewi Palmasari dan Keduabelas Putrinya.
" Sangkala Sura, berhentilah membuat kekacauan kami sudah ada didepanmu, maka hadapilah kami," Hardik Ratu Dewi Palmasari dengan nada yang keras.
" Huahahaha, kalian sudah terlambat namun niatku untuk menjadikan kalian istriku tidaklah surut," Kata Sangkala Sura sangat girang suaranya menggema kemana-mana.
" Sangkala Sura, bercerminlah terlebih dahulu sebelum kau menjadikan kami pendampingmu," Wajah Sangkala Sura menjadi panas mendengar kata-kata dari Dewi Nawaratri yang menurutnya sangat pedas.
" Lebih baik kami mati daripada melayanimu seumur hidup," Dewi Ginasti menimpali semakin tersulut lah emosi Sangkala Sura.
" Kau hanya beruntung, selebihnya kau tidak ada apa-apanya," Tambah Dewi Dambasari Sangkala Sura benar-benar tidak tahan.
Mendengar kata-kata hinaan dari para Dewi Sangkala Sura berteriak histeris.
" Aaarrrrggghhhh," Dari teriakan Sangkala Sura maka terciptalah gelombang kejut yang dahsyat para Dewi langsung terhempas dan jatuh ketanah.
" Bodoh kau Iblis jelek, lihat kelakuanmu membuat para bidadari yang cantik itu harus mengalami luka," Hardik Bala Kroda dari dalam pikiran Sangkala Sura.
Sangkala Sura menjadi terkejut mendengar Bala Kroda berkata seperti itu.
" Ternyata kau Dewa cabul," Ucap Sangkala Sura membuat Bala Kroda marah.
" Diam kau, aku menyukai keindahan, bagaimanapun juga kau harus bisa menjadikan mereka pendamping," Ucap Bala Kroda dengan nada emosi.
Sangkala Sura terperangah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Bala Kroda, Dia tidak menyangka sebagai Dewa yang setingkat dengan para Dewa Disurga bisa berkelakuan seperti itu.
"Jangan heran Iblis tolol, Kau harus tahu bahwa aku dihukum oleh Bhatari Durga karena menggangu salah satu Bidadari tercantik Disurga," Ucap Bala Kroda penuh dengan kebanggaan.
" Dasar cabul, bagaimana kau bangga dengan perbuatan kotor seperti itu," Sangkala Sura menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.
" sreettt,"
" Crasshh,"
" aakkhh," Sangkala Sura menjerit tertahan ketika sebilah pedang energi menggores lengannya.
Darah hitam menetes dari lengan tersebut namun hanya sekejap mata luka itu kembali menutup dan sembuh tanpa bekas.
" Kurang ajar, sekarang terima," Belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Dia dikejutkan dengan puluhan senjata energi berbagai jenis menyerang sudah sangat dekat.
Sangkala Sura terkejut bukan main Dia langsung membuka mulutnya lebar-lebar maka keluarlah Api memanjang menahan laju dari senjata itu.
Senjata itu langsung terbakar dan menghilang.
Melihat serangannya gagal para Dewa-Dewi yang membantu Ratu Palmasari kemudian berputar-putar di Udara, maka terciptalah hujan senjata khusus diatas Sangkala Sura berada.
Senjata-senjata itu menghujani Sangkala Sura hingga Dia membentuk sebuah perisai,
senjata-senjata itu mengenai perisai Sangkala Sura dan menimbulkan bunyi.
" ssettt, ssettt, jduaarr,"
Begitulah suara benturan itu dan terjadi berulang-ulang.
****** **Bersambung....
Author minta dukungannya ya**