Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.52 Nyi Kerti Ngidam



Di Belahan Bumi Persada Ribuan tahun silam, Peradaban Manusia masih sangat sederhana belum terjamah oleh Tekhnologi-tekhnolgi canggih, pandangan manusia pada masa depan pun terlalu kuno, energi yang menyelimuti bumi masih sangat padat belum terkikis oleh tekhnologi, Kekayaan Alam yang berlimpah ruah belum terolah dengan baik, Hutan, Sungai, Gunung dan Lautan belum tersentuh oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab.


Konon katanya Bumi memiliki kepadatan Energi paling rendah diantara ketiga Alam, yang tertinggi adalah Alam Kahyangan dan yang kedua alam bawah yaitu Alam para Iblis, hingga mahluk yang terdapat didalamnya harus menggunakan akal dan pikiran untuk bisa meraih suatu keinginan.


Di sebuah desa terpencil letak dikaki sebuah bukit, penduduknya masih berjumlah sedikit jauh dari keramaian, Desa itu bernama Desa Kunir, Bukitnya bernama Bukit Asam, mata pencaharian mereka sebagian besar bercocok tanam, ada yang berburu sambil mengumpulkan hasil Hutan seperti mengumpulkan kayu bakar, akar-akaran, umbi-umbian, buah-buahan, serta dedaunan sebagai tanaman obat untuk dijual kepasar, hasilnya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.


Hukum Rimba masih berlaku disini.


Dipinggir Desa Kunir dekat dengan Hutan Rimba, hiduplah sepasang suami-istri paruh baya, diantara penduduk Desa Kunir Dialah yang paling miskin kehidupannya, itulah sebabnya mereka selalu di nyinyir sama penduduk yang lainnya.


Sudah Duapuluh tahun menikah mereka belum dikaruniai seorang anak, sepasang suami-istri tersebut bernama Ki Wongso dan Nyi Kerti.


Mereka bukanlah pemalas sehari-hari pekerjaannya hanyalah berdoa kepada Dewa agar dikaruniai seorang anak.


Mereka sama sekali tidak perduli apa kata para tetangganya. Bekerja kadang-kadang dilakukan hanya untuk menyambung hidup sederhananya, mencari akar-akaran, daun-daunan, umbi-umbian serta kayu bakar dihutan kemudian dijual kepasar untuk membeli bahan makanan untuk bekal melakukan pemujaan kepada para Dewa, jika bekal makanan sudah habis mereka kembali mengumpulkan hasil hutan.


Sanghyang Bhatara Siwa yang melihat ketekunan mereka menjadi tersentuh kemudian beliau mengabulkan permintaan mereka.


" Ki, ki," panggil Nyi Kerti, maka segera ki Wongso menyongsong istrinya.


" Ada apa Nyi,"


" Ki, perutku rasanya mual-mual mau muntah tapi tidak keluar apapun, kepalaku juga sakit, tolong Ki ambilkan obat!,"


" Ya, Nyi ,"


" Hoekkkk,"


Mendengar Istrinya muntah-muntah Ki Wongso merasa kasihan, dia tergesa-gesa mengambilkan obat yang terletak disamping dapur, kata orang zaman dulu meletakkan sesuatu apapun di dapur akan menjadi awet karena terkena panasnya api dapur.


" Ini Nyi, semoga cepat sembuh," Ki Wongso mengoles-oleskan obat sejenis salep yang agak kasar karena bekas tumbukan bukan buatan pabrik, keperut Nyi Kerti, kemudian berpindah ke dahi dan kepala sambil memijit-mijit sedikit agar sakit kepala sembuh.


Beberapa saat kemudian


" Ki, kenapa mual-mual ku belum juga hilang dan sakit kepalaku juga? lihatlah Ki! perutku kok merah-merah bagini, obat apa yang Aki berikan?," Nyi Kerti agak kesal kepada Ki Wongso karena salah memberikan obat.


" Nyi, aku mengambilnya di dekat penggantungan daging Rusa," Ki Wongso melongo namun masih berpikir pasalnya Dia merasa benar mengambil obat.


" Aduuuhh Ki, Aki ini gimana to, itukan obat untuk pengawet daging Ki," Nyi Kerti dengan suara tertahan namun kesal melihat kesalahan suaminya.


" Ki, obat untuk perut mual kugantung dibelakang pintu dapur Ki," Nyi Kerti sepertinya masih kesal dia berbicara sambil menggerutkkan giginya.


" Leh welehh, ternyata salah, sabar Nyi biar kuambilkan yang benar ," Ki Wongso bergegas meninggalkan Istrinya.


" Ki, gak usah repot-repot, mual dan sakit kepalaku sudah sembuh," Nyi Kerti selesai bicara langsung bangun dari tempat tidurnya dan mengambil sarana untuk pemujaan.


Ki Wongso yang melihat Istrinya yang mengaku sembuh menjadi heran sambil menggedeg-gedegkan kepalanya.


Sudah satu Minggu Nyi Kerti mengalami mual-mual dan sakit kepala setiap paginya, siangnya malah pergi kehutan mencari bahan makanan, sudah diberi obat yang benar tetapi tidak sembuh-sembuh, malah permintaannya aneh-aneh, Ki Wongso malah semakin kebingungan.


Suatu hari Nyi Kerti mau makan lemper isi daging, juga benang, jarum dan kain katanya mau bikin celana, Ki Wongso pergi kepasar membeli semua keinginan Istrinya.


Sampai dipasar Dia mulai berkeliling mencari yang diinginkan Istrinya.


Seorang ibu-ibu menyapa Ki Wongso.


" Ki Wongso, biasanya kalau kepasar bersama Nyi Kerti tumben sendirian," Sapa ibu tersebut sambil menggendong anaknya yang masih kecil.


" Nyi Wanti, sudah Tujuh hari ini, Istriku Sekarang aneh, paginya mual dan sakit kepala, siangnya pergi kehutan, begitu setiap harinya," Ki Wongso menceritakan tentang keanehan Istrinya.


" Hahahaha, Ki Wongso, aki ini lucu, itu namanya Nyi Kerti sedang ngidam, Ki Wongso mau punya anak rupanya," Nyi Wanti terus tertawa merasa lucu dengan sikap Ki Wongso.


Ki Wongso yang mendengar menjadi kaget tidak percaya.


Alangkah senangnya Ki Wongso mendengar Istrinya hamil, saking senangnya dia jadi pusat perhatian orang-orang dipasar dia berjalan agak melompat-lompat kecil sambil bernyanyi, kemudian dia segera membeli lemper isi daging yang banyak.


Tapi sayang kesenangan Ki Wongso ada saja yang merasa risih.


" Nyi gendir, lihatlah Ki Wongso tingkahnya sudah tua malah tidak tau malu,"


" Benar Nyi Sukri, saya yang malu lihatnya,"


" Dikira gampang punya anak, gubuknya saja reot apalagi untuk merawat anak,"


Begitulah penduduk Desa Kunir selalu nyinyirin Ki Wongso dan Istrinya karena mereka miskin namun Ki Wongso tidak mau perduli.


Ki Wongso habis belanja langsung pulang sudah tidak sabar ingin memberitahukan kepada Istrinya kabar baik tersebut.


Sampai dirumahnya Ki Wongso langsung menemui Istrinya, Dia tidak mau langsung memberitahukan kepada Istrinya karena bikin kejutan, sampai di rumah langsung disambut Istrinya.


" Aki sudah pulang, mana lemper yang kuminta," Sambut Nyi Kerti sumringah.


" Sabar Nyi, ini dia lempernya," Ki Wongso menyerahkan lemper yang dibelinya dipasar.


Setelah lemper diterima Nyi Kerti, Nyi Kerti hanya memandangnya kemudian kembali menyerahkan lemper itu kepada suaminya.


" Ini Ki lempernya, terimakasih sudah susah-susah beli dipasar," Nyi Kerti kemudian beranjak kebelakang rumah.


Ki Wongso melongo tak percaya.


******Bersambung......