Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch 40 Rencana Dewi Sulasih



Perbuatan Sangkala Sura yang kejam kini menjadi terror yang menakutkan bagi seluruh penghuni Kahyangan Sloka, semua para Dewa-Dewi mengutuk dan mengucapkan sumpah serapah kepada Sangkala Sura disetiap pembicaraan yang dilakukan oleh semua penghuni Kahyangan Sloka.


Sejatinya Dinegeri Kahyangan Sloka kata-kata kutukan dan sumpah serapah sangat ditabukan dalam kehidupan sehari-hari, karena para Dewa-Dewi sangat percaya akan akibatnya, namun kali ini Kutukan dan sumpah serapah itu lumrah diucapkan tetapi hanya untuk Si Iblis penghancur yaitu sebutan para penghuni Kahyangan kepada Sangkala Sura.


Dikerajaan Tirta Yukti kini menjadi sangat padat dan ramai, ini diakibatkan oleh para pengungsi dari Dua Kerajaan besar, bahkan Dua Kerajaan tersebut kosong tanpa penghuni.


Semua para Raja memang bersepakat untuk melawan Sangkala Sura secara bersamaan, ketika Sangkala Sura menghancurkan Kerajaan Batu Angin dan Pusarloka, Ratu Dewi Kanawa mengundang Prabu Dewa Sri Purna Dharma dari Kerajaan Gunung Terbang dan Prabu Dewa Sri Binasaka dari Kerajaan Lawang Praja, Kedua Kerajaan besar itu pun datang memenuhi undangan Ratu Dewi Kanawa dan menghasilkan kesepakatan bahwa Sangkala Sura kemungkinan bisa dikalahkan dengan cara bersatu, maka Kedua Kerajaan tersebut memerintahkan rakyatnya untuk berkumpul Dikerajaan Tirta Yukti dan bersama-sama melawan Sangkala Sura, segala taktik, strategi dan jebakan sudah disiapkan.


******


Dikerajaan Batu Angin, Ditengah-tengah puing-puing bangunan Istana yang hancur, terdengar suara tangisan-tangisan yang menyayat hati dari para Dewa-Dewi yang kehilangan keluarga dan sahabat mereka.


Keduabelas Putri pun tak luput dari kesedihan, mereka semua mengutuk Sangkala Sura yang kejam.


" Yunda Dewi, apakah kita harus diam saja melihat semua ini, terus terang aku tidak akan kuat menyaksikan kehancuran ini, ini bukan kekacauan seperti yang ada di ramalan tapi ini kehancuran," Dewi Sulasih berkata kepada semua kakak-kakaknya sambil terisak-isak menahan tangis.


Mendengar ucapan Dewi Sulasih para Putri langsung menghampiri dan memeluk Dewi Sulasih agar lebih tenang.


" Dinda Dewi Sulasih, terus terang aku juga memikirkan hal ini, namun sampai sekarang Yunda belum menemukan cara," Ucap Dewi Ambarwati yang dianggukkan para Putri yang lainnya.


" Kenapa kita tidak meminta bantuan dari Surga, aku yakin para Dewa dan Dewi disana bakal sanggup mengalahkan Sangkala Sura?,"


" Ya benar kata Dinda Dewi Maksyasari, aku punya usul bagaimana kalau kita mengundang Yang Mulia Dewa Agung yaitu Dewa Bayu," Kata Dewi Nawaratri.Semua Putri yang mendengar usulan kedua saudaranya menjadi diam dan berpikir.


" Dinda-dindaku, dengarkan aku, apakah kalian lupa dengan pesan Sanghyang Bhatara Siwa yang Agung, jika kalian lupa, maka sekarang aku wajib mengingatkan," Ujar Dewi Ambarwati kepada saudara-saudaranya namun belum selesai berkata-kata para Putri yang lainnya langsung memotong perkataan Dewi Ambarwati.


" Yunda Dewi kami ingat dan paham," Seru Kesebelas para Putri secara bersamaan meskipun sambil terisak.


" Yunda, Aku ingin pergi Kekerajaan Tirta Yukti tapi setelah menenangkan mereka semua agar beban mereka bisa berkurang," Kata Dewi Sulasih sambil menunjuk kearah para Dewa-Dewi yang bersedih meratapi kematian keluarga dan sahabatnya.


" Dinda apa tujuanmu datang ke sana?," Tanya Dewi Ambarwati.


" Aku dengar semua penghuni Kerajaan Gunung Terbang dan Lawang Praja berkumpu disana, Aku ingin bertanggungjawab dan meminta maaf kepada mereka, karena bagaimanapun semua kehancuran ini berawal dari kita," Kata Dewi Sulasih seakan tanpa beban agar semua saudaranya menyetujui keinginannya.


Mendengar perkataan Dewi Sulasih semua saudaranya langsung terdiam sambil merenungi pernyataan Dewi Sulasih.


" Sulasih Adikku, Aku tidak mungkin membiarkanmu memikul beban ini sendiri, kita akan bersama-sama kesana, mungkin dengan ini kehancuran dapat dihentikan," Kata Dewi Ambarwati, semua Putri menyetujui keputusan Dewi Sulasih.


Setelah perbincangan itu berakhir, Keduabelas Putri mendekati para Dewa-Dewi yang bersedih, mereka dengan sabar memberikan semangat melalui wejangan-wejangan Dharma, Usaha mereka sepertinya berhasil meski tidak bisa menghapuskan kesedihan mereka secara sempurna, namun setidaknya meski cuman sedikit beban mereka berkurang itu sudah cukup untuk bangkit dari keterpurukan.


****** Bersambung......