Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch 48 Ajian Linuwih Pertiwi



Sangkala Sura sangat jengkel dengan senjata-senjata energi yang datang bertubi-tubi menghantam perisainya, maka dengan sekali kibas semua senjata-senjata meledak sebelum menyentuh perisai Sangkala Sura, tidak berhenti disitu Sangkala Sura menggunakan Ajian linuwih Pertiwi maka terciptalah getaran besar menggoyang seluruh tanah Kota Kasada.


Semua para Dewa-Dewi menjadi panik dengan getaran tersebut dan tidak ada bisa berkonsentrasi untuk menyerang mereka sibuk menyelamatkan diri, bahkan yang ada diudara juga mengalami goncangan.


Udara terasa bergelombang membuat mereka yang terbang harus jatuh ketanah.


Setelah jatuh pun keadaan tidak membaik malah semakin menjadi karena getaran dari tanah.


" Sangkala Sura benar-benar Iblis yang tidak bisa diremehkan paman Patih, kita harus segera menghentikannya," Gusti Ratu Dewi Kanawa sangat khawatir dengan keadaan Rakyatnya.


" Dia memang hebat Gusti Ratu, sebenarnya kelemahan Sangkala Sura adalah es tapi harus dengan kekuatan es yang hebat bahkan Lima Mahapatih tidak sanggup melawannya," Mahapatih memberi penjelasan kepada Gusti Ratu Dewi Kanawa.


Dewi Kanawa terlihat resah mendengar penjelasan dari Mahapatihnya.


" Gusti Ratu, Hamba mempunyai usul, sebelum Gusti Ratu dan rombongan datang kami sempat membuat Iblis itu kewalahan dengan menyatukan seluruh kekuatan, namun sepertinya kekuatannya makin hebat secara tiba-tiba,aku meyakini kalau Sangkala Sura ada yang membantu, bagaimana kalau kita kembali menyatukan kekuatan kita," Sang Adipati menuturkan kejadian sesudahnya sambil menjura hormat.


" Paman Patih aku setuju dengan usulan dari Paman Adipati, segera perintahkan untuk menggabungkan kekuatan," Perintah Sang Ratu langsung dilaksanakan oleh Mahapatih.


" Dengarkan semuanya atas perintah Gusti Ratu, segera kita gabungkan kekuatan kita bentuk formasi Naga sungai," Sang Mahapatih berseru dengan menggunakan tenaga dalam sehingga semua mendengar dengan jelas.


Setelah Mahapatih selesai memberikan perintah semua langsung membentuk formasi Naga sungai meski harus bersusah-payah karena sambil menghindari gempa bumi yang membuat keseimbangan jadi tidak sempurna.


Formasi Naga sungai adalah formasi yang menyerupai seekor Naga, yaitu memanjang kebelakang dengan garis yang tidak lurus seperti bentuk sungai yang berkelok-kelok namun rapi pada bagian depan atau kepala jumlah pasukan ditempatkan lebih banyak mereka secara estafet mentransfer kekuatan dari ujung belakang hingga kedepan, formasi pada bagian kepala ditempati oleh Gusti Ratu Dewi Kanawa, Kedua Raja besar, Lima Mahapatih serta pembesar Kerajaan.


Ratu Palmasari dan Putrinya tidak termasuk dalam formasi, Ia dan putrinya mencoba untuk melakukan penyerangan, dengan Selendang sakti mereka mencoba menembus pertahanan Sangkala Sura, namun hasilnya nihil.


Dewi Ambarwati melesat menuju Sangkala Sura yang masih konsentrasi dengan Ajian linuwih Pertiwi, namun setelah jarak dua jengkal Dewi Ambarwati didorong oleh Gelombang udara, Dewi Ambarwati meski tidak rela harus tetap terhempas dengan suara batuk kemudian disusul tetesan darah dari sudut bibirnya.


Dewi Sulasih juga tak kalah dari kakaknya dengan Selendang ditangan kanan dan tangan kiri membentuk tapak melesat maju menyerang kaki Sangkala Sura, Selendang meliuk-liuk menuju kearah Sangkala Sura, sedangkan Dewi Sulasih mengarahkan tapak tangannya kearah dada.


Sangkala Sura melihat Dewi Sulasih mendekat kearahnya terkesiap dengan kecantikan Dewi Sulasih.


Dewi Sulasih berhasil menembus Gelombang Energi Sangkala Sura dan mengenai dada Sangkala Sura serta kakinya terhantam Selendang, Sangkala Sura mundur beberapa langkah rasa terkesiap berubah menjadi terkejut namun tangan kanan Sangkala Sura yang besar dengan refleks menangkap tubuh Dewi Sulasih.


Dewi Sulasih mencoba melepaskan diri namun tidak bisa.


Sangkala Sura tertawa terbahak-bahak senang, apalagi melihat kecantikan Dewi Sulasih.


Ratu Palmasari dan Putrinya langsung panik mereka langsung menyerang secara bersamaan, karena begitu senang Gelombang Energi yang mengelilingi Sangkala Sura semakin melemah sehingga Ratu Palmasari dan Putrinya dengan mudah menembus dan melakukan hantaman beberapa kali ketubuh Sangkala Sura.


Sangkala Sura setelah merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhnya mulai sadar dari rasa senangnya, dan mulai melakukan perlawanan namun tangannya semakin kuat mencengkram tubuh Dewi Sulasih.


" Cuih, jangan bermimpi kamu Iblis rendahan," maki Dewi Ambarwati


" Bunda, Yunda, pergilah dari sini kalian tidak akan mampu mengalahkannya, seperti rencana sebelumnya aku sudah siap mengorbankan diriku," teriak Dewi Sulasih pasrah.


" Tidak Dinda, kami tidak mungkin membiarkanmu tersiksa seperti ini, kami akan berusaha," Para Dewi membalas teriakan Dewi Sulasih secara serempak.


Ratu Palmasari tiba-tiba tersenyum dan mendekati para Putrinya.


" Anak-anakku ayo kita menjauh sebentar lagi ada kejutan,"


" Tapi bunda," Ratu Palmasari menggeleng Dia tidak membiarkan Putrinya berbicara lebih lanjut.


" Anakku Dewi Sulasih tenanglah kami pasti akan melepaskanmu," Ratu Palmasari berteriak memberi semangat kepada Putrinya.


Mereka akhirnya terbang menjauh meninggalkan Dewi Sulasih yang berada dicengkeraman Sangkala Sura.


Sangkala Sura mencoba menghentikan mereka namun mereka dengan lincah menghindari serangan Sangkala Sura.


Setelah tidak berhasil menangkap putri-putri yang lainnya Sangkala Sura mendengus kesal, namun matanya tiba-tiba mendelik Dia menoleh kebelakang dan.....


" Jduaarr,"


" Jduaarr,"


" Jduaarr,"


Suara ledakan berkali-kali menghantam tubuh Sangkala Sura, Sangkala Sura terpental begitu jauh, tubuhnya yang besar menghantam Hutan yang ada dipinggir kota, Hutan yang semula sudah rusak akibat gempa kini semakin tak berbentuk hutan akibat tertimpa tubuh Sangkala Sura yang sebesar Gunung.


Dewi Sulasih akhirnya dapat melepaskan dirinya, Dia juga terkena imbas akibat ledakan itu, Dia terbang dengan tubuh terluka namun tidak berapa lama akhirnya jatuh ketanah, saudara-saudaranya pun dengan sigap menangkap Dewi Sulasih hingga tak sampai jatuh ketanah.


Tubuh Sangkala Sura tergeletak membeku menimpa Hutan, kini tubuhnya berubah normal seperti biasanya.


" Akhirnya kita berhasil, mari kita lihat keadaannya apakah sudah mati atau belum," Ratu Dewi Kanawa mengajak mereka semua untuk melihat keadaan Sangkala Sura yangnn terkapar, ternyata Sangkala Sura terkena dari kekuatan gabungan dari formasi Naga sungai.


" Bodoh, bodoh, bodoh, aku menyesal memilih tubuh sepertimu, bodoh, tolol dan gegabah," maki Bala Kroda dengan sangat marah.


" Hai, bangun, bangun bodoh mereka sudah mendekat kesini jangan sampai tubuhmu tercincang-cincang dan tidak bisa meregenerasi lagi dan kau hanya tinggal nama," Bala Kroda terus mengomel namun Sangkala Sura masih diam tak bergerak.