Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.53 Pergi kerumah Nyi Ending



Ki Wongso geleng-geleng kepala, Dia memandangi lemper yang tergeletak diwadah piring dari tanah sambil berdecak heran.


" Ladalah...apa ada yang salah dari lemper ini hingga Istriku tak mau memakannya, cuman dipandangi begitu saja?,"


Ki Wongso beranjak mengikuti Istrinya kebelakang rumah sambil memegangi piring wadah lemper.


Disana Ki Wongso melihat Nyi Kerti sedang memberi makan ayam-ayamnya dari jagung.


" Nyi, kenapa lempernya tidak dimakan, makanlah sedikit saja biar tidak mubasir, kasihan lemper seenak ini tidak dimakan, Aki kan capek belinya jauh kepasar," Kiwongso mencoba membujuk Istrinya yang dikira ngambek.


" Nyai sudah kenyang Ki, kalau aku mau makan makanlah dihabisin Nyai gak apa-apa," Ki Wongso makin bingung mendengar perkataan Istrinya.


" lha...wong lemper belum dimakan kok sudah kenyang, Nyi jangan buat aki bingung,"


" Ki, kalau mau makan, makanlah atau kasih ayam-ayam ini,"


" Eeeeehhh," Ki Wongso tidak bisa berkata-kata lagi, akhirnya dia memutuskan untuk memakan lemper itu.


Malam harinya seperti biasa sebelum istirahat tidur Ki Wongso dan Nyi Kerti duduk diserambi rumah, mereka sambil berbincang-bincang ringan ditemani lampu publik dari minyak pohon jarak.


" Nyi, aki tidak menyangka Hyang Bhatara akhirnya mengabulkan permintaan kita," Ki Wongso melirik Nyi Kerti melihat reaksinya.


" Maksud Aki apa?,"


" Tadi di pasar Aki menceritakan tentang mual dan pusing-pusingnya Nyai, eeee malah dibilang Nyai hamil," Ki Wongso menceritakan tentang perbincangannya dengan Nyi Wanti dipasar sambil tak sadar Airmatanya menetes bahagia.


Nyi Kerti yang mendengar ucapan suaminya langsung kaget dan menoleh kearah suaminya.


" Benarkah Ki, aku hamil," Nyi Kerti bertanya datar tidak percaya.


" Lho, kok gak seneng," Ki Wongso malah heran reaksi Istrinya biasa-biasa saja.


" Bukannya tidak senang, tapi apa masih bisa usia setua kita bisa hamil," Nyi Kerti merasa pesimis.


" Besok kita kerumahnya Nyai Ending, Dia kan dukun bayi, kita tanyakan kebenarannya,"


" Iya Ki, kalau benar aku ngidam, aku akan mempersembahkan Rusa guling kepada Sanghyang Bhatara," Nyi Kerti masih terlihat datar karena tak percaya namun membayangkan dirinya sedang menggendong bayi.


Keesokan harinya Ki Wongso dan Nyi Kerti pergi kerumah Nyi Ending.


Belum sempat mengetuk pintu, pasangan itu mengurungkan niatnya sebab dari luar mereka mendengar Nyi Ending ngomel-ngomel.


" Katanya orang kaya, penjual kain laris dipasar, eeehh kok ngasih upah membantu ngelahirin cuman segini, moga-moga tuh dagangan gak ada yang beli, niat senang dari rumah membantu orang kaya malah baliknya jadi kecewa huhhh, Ndak lagi, Ndak lagi membantu seikhlasnya, cuihh," Nyi Ending terus ngomel-ngomel didalam rumah tak karuan, sampai banting-banting wadah untuk nginangnya.


" Bruakkk,"


Ki Wongso dan Nyi Kerti menjadi terkejut ketika mendengar suara benda yang dilempar, mereka melotot terperangah Sambil saling pandang.


" Ki, ini gimana aku takut Nyi Ending akan melampiaskan kemarahannya kepada kita,"


" Aki, juga takut, mending gak jadi kita periksa, ayo kita pulang! Ki Wongso langsung menggamit tangan Istrinya.


" Mau kemana kalian?


Ki Wongso dan Nyi Kerti melongo Sambil memandang, mereka tidak jadi meninggalkan rumah Nyi Ending.


" Ki Wongso, masuklah!


" Ada Angin apa kamu datang kegubuk reotku ini," Tanya Nyi Ending yang membuat Ki Wongso dan Istrinya menoleh kaget yang sedari tadi celingak-celinguk memandangi isi rumah Nyi Ending.


" Oh, Nyi Ending, kami kemari ingin meminta Nyai untuk memeriksa Istriku!


Ki Wongso menjelaskan keinginannya, dia juga menjelaskan kalau Istrinya mual-mual tiap pagi dan pusing sedangkan Nyi Ending memandangi Nyi Kerti dengan kedua bola matanya yang naik turun.


Tangannya melambai meminta Nyi Kerti mendekatinya.


Nyi Kerti mendekati Nyi Ending pelan-pelan, kemudian disuruh berbaring oleh Nyi Ending.


Nyi Ending menyentuh perut Nyi kerti, tangannya memencet-mencet pelan perut Nyi kerti, Nyi kerti agak meringis menahan sakit yang tak seberapa.


" Mulai, sekarang kau bisa bekerja dengan giat Ki Wongso jangan berdoa terus," Nyi Ending tersenyum lebar, kemudian seketika senyum itu menghilang, ketika sejumlah bahan-bahan kinangan seperti sirih, tembakau, kapur, gambir, dan secuil buah pinang masuk ke mulutnya, seketika itu juga gigi Nyi Ending yang merah delima langsung


kelihatan berjejer rapi.


" Berdoa boleh saja tapi jangan lupa bekerja," Nyi Ending mulai menasehati Ki Wongso.


Ki Wongso hanya mengangguk-angguk.


" Maksud Nyai apa?


" Weleleh, aku kira kamu ngangguk-ngangguk paham, rupanya kayak ayam dilemparin pasir, gini Ki Wongso dan Nyi Kerti, sebentar lagi kalian punya anak itupun kalau kalian bisa menjaganya kalau tidak bablas Kealam baka," Nyi Ending bicara nyeplos jengkel dengan kebodohan Ki Wongso dan Istrinya.


Ki Wongso dan Nyi Kerti begitu senang mendengarnya dia tidak sadar sampai bersujud dikaki Nyi Ending.


" Nyi Ending terimakasih, oh Gusti engkau maha kuasa terimakasih atas kemurahannya," Nyi Kerti sampai menitikkan Airmata rasa haru dan bahagia menjadi satu begitu juga Ki Wongso.


" Sudah kalian bangun jangan lama-lama bersujud, kaki ku belum kubersihkan dari menginjak kotoran kudanya Ki kentir tadi dijalan," mendengar perkataan Nyi Ending Nyi Kerti langsung mengeluarkan isi perutnya.


" Hoekkkk,"


Nyi Ending melihat Nyi Kerti mual-mual malah tertawa sedangkan Ki Wongso langsung menjauh sambil ngedumel pelan agar tidak didengar oleh Nyi Ending.


" Setan perkutut, ulat busuk, Nyi Ending tidak beradab," Ki Wongso meracau tak karuan.


" Hikhikhikhik," Nyi Ending kelihatan bahagia mengerjai mereka berdua.


" Sudah, sudah, kalian kesini bawa apa? cepat berikan, aku tidak punya waktu banyak untuk kalian, pekerjaanku masih numpuk," Nyi Ending memang tinggal sendiri di rumah itu, Ki lengkor suaminya sudah lama tiada, sedangkan anak perempuan satu-satunya ikut suaminya jadilah Nyi Ending jantuk alias janda tua kesepian.


Ki Wongso memberikan seratus sen uang logam dan lima buah kelapa serta satu tandan pisang tua.


" Ini Nyi, hanya ini yang bisa kubawa," Ki Wongso berharap Nyi Ending tidak marah karena bawaannya sedikit.


" Baiklah, ini kuterima tapi kalau kalian melahirkan bayarannya lebih banyak lagi, dan ini ramuan untuk penguat janin jadi harus rajin diminum ya Nyi Kerti," Nyi Ending masih duduk ditempat semula sambil mulutnya komat-kamit mengunyah kinangan.


Ki Wongso dan Istrinya langsung pamit pulang dengan hati yang bahagia.


Berita kehamilan Nyi Kerti cepat tersebar diseluruh Desa Kunir, apalagi Nyi Kerti langsung membagikan guling Rusa yang sebelumnya disajikan kepada Sanghyang Bhatara melalui sajen.


Namanya orang banyak pasti ada saja yang tidak suka, meskipun Ki Wongso dan Nyi Kerti tidak pernah buat masalah, ada yang mendoakan senang tapi ada juga yang mencibir.


****** Bersambung......