Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch. 63 Kesedihan Putri Maitri



Dikediaman Lurah Semanggi, seorang pemuda berjalan dengan tergesa-gesa memasuki rumah Pak Lurah yang besar dan paling mewah diantara rumah yang lainnya, nampak raut wajahnya mengandung kemarahan, tangannya dikepal erat-erat, nafasnya ngos-ngosan, dari mulutnya terdengar Geraman dan giginya berbunyi gemeretak.


Sampai didepan rumah pak lurah, pemuda itu disambut oleh dua penjaga.


" Aku ingin bertemu dengan pak lurah,"


" Pak lurah sedang berada di beranda samping bersama keluarga,"


" Baiklah aku langsung menuju kesana,"


Kedua penjaga itu sepertinya sudah mengenal pemuda itu, tanpa basa-basi yang menyulitkan penjaga itu membiarkan pemuda itu berlalu menuju beranda samping.


Diberanda samping nampak pak lurah dan kedua istrinya serta kelima putra-putrinya sedang menikmati keindahan taman yang berada di depan beranda sambil bersenda gurau dilayani oleh pelayan masing-masing.


Seorang pemuda dengan penuh kemarahan langsung menghampiri kumpulan keluarga itu.


" Paman, saya tidak terima kalau Dinda Maitri jatuh kepelukan orang lain,"


Perkataan pemuda itu mengejutkan semua yang hadir disana.


Pak lurah menoleh kearah pemuda tersebut dengan rasa yang tidak senang, matanya melotot mendelik.


" Benar-benar tidak punya adab kamu Jayanta, apakah kedua orangtuamu tidak pernah mengajarkan tatacara yang baik sehingga kau datang seperti musuh, bukan sebagai ponakan,"


Pemuda yang bernama Jayanta itu ternyata tidak lain adalah keponakan pak lurah itu sendiri, mendapat perkataan seperti itu, Jayanta bukan menyurutkan kemarahannya dia malah menatap Pak Lurah dengan sorot mata yang tajam.


" Dinda Maitri sepertinya menyukai pemuda biasa, aku tidak rela jika harus melihat Dinda Maitri bersama pemuda itu,"


Pernyataan yang dilontarkan oleh Jayanta membuat semua terkejut.


" Benarkah apa yang kau katakan?," pak bertanya mempertegas pernyataan dari Jayanta.


" aku mana berani berbohong,'


" Apa buktinya,"


" Aku melihat dengan mata kepala sendiri Maitri bersama pemuda itu dipasar,"


"Kurang ajar, berani sekali orang itu, pemuda itu harus mengetahui siapa lurah Semanggi sebenarnya,"


Pak lurah benar-benar naik pitam mendengar laporan dari Jayanta.


Jayanta adalah anak dari adik perempuan pak lurah yang telah dijodohkan dengan Maitri.


Mendengar omongan dari Pak Lurah, Jayanta menyeringai puas, dia ingin memberikan pelajaran kepada pemuda yang bersama Maitri, pemuda itu tak lain adalah Bajraloka.


" Rasih, cepat kau panggil Yundamu Maitri,"


" Baik Ayahanda,"


Setelah membungkukkan badan Rasih adik dari Maitri segera beranjak dari tempatnya, namun baru beberapa langkah, terdengar suara yang mengejutkan.


" Aku mendengar Ayahanda ingin mencariku, ada apa Ayahanda?.


Semua orang disana menoleh kearah sumber suara yang ternyata adalah putri Maitri.


" Maitri, siapa pemuda yang bersamamu dipasar?.


Pak Lurah sengaja berkata dengan nada yang tinggi dengan mimik yang diserahkan agar putri Maitri tidak berani melawan.


"Ayahanda apakah tidak boleh, Maitri berteman dengan seseorang?.


Putri Maitri menunduk agak gemetar.


" Kau sudah dijodohkan dengan Jayanta, Ayahanda berharap kau jangan mempermalukan keluarga kita, semua tahu dengan siapa kau akan menikah, Ayahanda minta kau jangan dekat dengannya, tinggalkan dia!.


Kata-kata Pak Lurah membuat Maitri kecewa dia hanya diam menangis tidak berani memberikan jawaban.


Putri Maitri menghampiri Jayanta, Jayanta yang melihat Putri Maitri menyeringai puas.


" Kanda Jayanta maafkan Dinda,"


Tak banyak yang diucapkan oleh Putri Maitri, setelah selesai berkata putri Maitri langsung berhamburan pergi tingkahnya membuat semua orang hanya bisa melongo heran, mereka tidak menyangka putri Maitri yang diketahui selalu bertatakrama baik kali ini bisa berlaku tidak sopan.


Jayanta yang diperlakukan seperti itu oleh putri Maitri langsung merapatkan tinjunya.


"Paman aku ingin pemuda itu lenyap dari dunia ini, agar tidak ada penghalang antara aku dan Dinda Maitri,"


" ponakanku jangan khawatir sekarang juga Paman akan membuat pemuda itu menyesali perbuatannya,"


Pak Lurah segera meninggalkan beranda samping setelah selesai berkata diikuti oleh yang lainnya dan hanya tinggal Jayanta sendirian.


******


" Gusti Putri janganlah kau bersedih, bibi takut masalahnya semakin rumit,"


salah seorang dayang mencoba menghibur Putri Maitri.


" Bibi, aku tidak memiliki perasaan apapun kepada kanda Jayanta lain dengan kakang Bajraloka hatiku seperti terpaut dengannya,"


Putri Maitri semakin terisak dengan tangisannya hingga membuat bibi dayang makin bingung.


Ditengah kesedihannya tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar.


"tok,tok,tok,"


" Gusti Putri, Pak Lurah menunggu Gusti diruang keluarga,"


" Baiklah segera aku akan menyusul kesana,"


Putri Maitri segera merapikan dirinya agar tidak terlihat habis menangis kemudian keluar dari kamarnya.


Putri Maitri sampai diruang keluarga disana sudah ada Pak Lurah dan satu orang wanita dan satu orang laki-laki paruh baya sedang duduk disamping Pak Lurah, sepertinya dua orang itu adalah pendekar bayaran.


Putri Maitri kemudian menyapa ayahnya


" Hamba menghadap ayahanda, ada apa gerangan hingga ayahanda memanggilku kemari?.


" Maitri setelah kau mengenal pemuda itu, sikapmu tidak lagi seperti Maitri yang kukenal sangat berubah drastis, maka terpaksa pemuda itu harus lenyap dari dunia ini,"


Mendengar omongan ayahandanya putri Maitri bagai disambar petir.


"Ayahanda, maafkan Maitri, kakang Bajra tidak salah, kami bahkan baru saling mengenal begitu kejam Ayahanda melakukan itu,"


" Sudah terlambat, mereka yang akan melaksanakan tugas ini,"


Pak lurah menunjuk kedua pendekar bayaran itu.


" Sulastri dan Rangke, segera laksanakan tugasmu sekarang juga cari informasi tentangnya dipasar, bawa kepalanya kehadapan ku,"


" Baik Pak Lurah, kami pasti bisa memenuhi permintaanmu dengan mudah,"


Sulastri yang bersenjatakan pedang dengan percaya diri tinggi meyakinkan Pak Lurah hingga Pak Lurah tersenyum senang.


kemudian Sulastri mengajak Rangke yang bersenjatakan rantai besar meninggalkan tempat itu.


Putri Maitri benar-benar sangat terpukul melihat ayahnya yang sangat kejam air matanya sudah tidak dapat ditahan lagi.


******


**Bersambung


Maaf author baru bisa update soalnya masalah kesibukan yang tidak bisa author hindari**.....