Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch. 36 Sangkala Sura sampai di Istana Pusarloka.



Keheningan melanda pada seluruh yang hadir di Pendopo Agung setelah mendengar cerita dari Dang Acarya Rsi Duraweksa, tak ada yang berkomentar.


Tak lama kemudian suasana yang hening itu di pecahkan oleh Satu Prajurit yang datang dengan tergopoh-gopoh.


Prajurit itu dengan nafas terengah-engah menghaturkan sembah kepada Sang Prabu.


Seluruh hadirin di Pendopo Agung terkejut dan marah melihat Prajurit yang datang tanpa laporan terlebih dahulu.


" Lancang, Prajurit apakah kau tidak tahu Tata Krama di Istana ini hingga kau seenaknya nyelonong masuk begitu saja," kata Salah satu Hulubalang yang menjadi komando setiap pertemuan yang diadakan di Istana Pusarloka.


" Ampun Beribu Ampun Yang Mulia Gusti Prabu, Hamba siap menerima hukuman, Hamba kesini mau melapor", Kata Prajurit tersebut dengan keringat yang bercucuran.


" Cepat katakan, apa yang akan kau laporkan? apakah ada sesuatu yang penting?," Kata Sang Prabu Padmamurti.


" Sangkala Sura, Sangkala Sura, Sangkala Sura,".


" Prajurit katakan dengan benar, atau kau akan dihukum," Kata Hulubalang yang sangat kesal sama Prajurit tersebut yang melapor dengan tergagap-gagap.


Prajurit itu semakin ketakutan dengan pelan-pelan dia pun berkata.


" Ampun Gusti, Sangkala Sura sedang mengamuk di Gerbang Istana," Dengan susah payah Prajurit itu akhirnya bisa menyelesaikan laporannya.


Semua hadirin yang ada Dipendopo merasa terkejut mereka tidak menyangka bahwa Sangkala Sura yang barusan diperundingkan akan datang secepat ini.


" Paman Panglima, perintahkan seluruh pasukan untuk melindungi Istana dari serangan Sangkala Sura, mari kita hentikan Raja Iblis itu, biar Dia tahu bahwa Kahyangan Sloka tidak bisa diremehkan," Titah Sang Prabu Padmamurti sambil berdiri tanpa menunggu jawaban dari para Punggawanya langsung beranjak bersama Permaisurinya meninggalkan Pendopo tersebut.


Di Gerbang Istana Sangkala Sura yang dirasuki oleh Bala Kroda dengan sangat mudah memporak-porandakan tempat itu.


Seluruh Prajurit jaga semuanya dibunuh.


Sangkala Sura terus terbang melewati beberapa bangunan hingga sampai di tanah lapang tapi dipenuhi banyak para Prajurit dengan senjata yang sudah siap untuk berperang.


Serbuan panah-panah itu menimbulkan bunyi petir yang menggelegar, itulah salah satu kelebihan Prajurit dari Kerajaan Pusarloka sehingga Kerajaan ini disegani oleh Keempat Kerajaan lainnya.


Sangkala Sura yang masih dirasuki Dewa Iblis Bala Kroda membentuk sebuah portal hitam didepannya maka panah-panah itu terhisap masuk kedalam portal tersebut.


Panglima perang dan semua Prajurit yang melihat hal itu menjadi sangat terkejut karena baru kali ini ada mahluk yang memiliki Ilmu aneh seperti itu.


" Cukup, hentikan, jangan ada yang melepaskan panah lagi," Seru Panglima perang tersebut dengan menggunakan tenaga dalam hingga semua bisa mendengar meski dari jarak yang jauh.


Mendengar hal itu semua Prajurit panah menghentikan aksinya, Panglima perang tersebut langsung mendekati Sangkala Sura tanpa rasa gentar.


" Sangkala Sura selamat datang di Istana Kerajaan Pusarloka, maaf sambutan kami kurang bersahabat," Kata Panglima perang tersebut dengan senyum yang manis agar Sangkala Sura dapat menerima maafnya.


" Hai kau, Panglima perang, Kau membuatku benar-benar tersanjung dengan kerendahan hatimu, tapi itu tidak berpengaruh pada tujuanku," Kata Sangkala Sura dengan kesombongannya.


" Kalau boleh ku tahu apa tujuanmu datang kemari sehingga harus membuat kerusakan yang bagi kami sangat besar," kata Panglima dengan senyum yang masih merayu.


" Tujuanku hanya satu, aku ingin kalian memberitahukan ku, Dimana Pangeran Jayarudra yang bersembunyi didalam sebuah permata yang berwarna bening," Pinta Sangkala Sura berharap tidak kecewa.


" Permata yang membungkus Pangeran Jayarudra? Percayalah kepada kami semua, bahwa kami belum pernah menemukan Permata yang engkau inginkan, Sangkala Sura," jelas Panglima tersebut.


" Kalian semua jangan membuatku marah, aku tidak segan-segan melenyapkan kalian semua dengan mudah," Sangkala Sura menjadi marah karena Panglima tidak mengakui.


Tanpa memberikan kesempatan Sangkala Sura langsung mendorong Panglima dengan sedikit tenaga dalam, hingga Panglima terdorong jatuh menimpa para Prajurit yang berada didepan barisan.


" Kurang ajar," maki Panglima perang tersebut.


****** Bersambung......