Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.64 Pergi kehutan dimalam hari.



Disebuah rumah kecil pinggir hutan, terdengar suara batuk orang tua berkali-kali hingga mengeluarkan darah.


Bajraloka menghampiri Bapaknya sambil membawa sebuah mangkok berisi obat.


" Pak minum obat ini,"


Bajraloka duduk disamping Bapaknya kemudian memasukkan tangan kanannya ke leher Bapaknya agar bisa dibangunkan dalam posisi duduk, setelah duduk Bajraloka meminumkan obat yang sudah diseduhnya.


" Nak terimakasih sudah susah-susah merawat Bapak selama ini, Bapak minta jaga ibumu mungkin tidak lama lagi Bapak akan pergi,"


Bajraloka terkejut Bapaknya bicara begitu ada rasa sedih dihatinya namun tidak diperlihatkan agar Bapaknya memiliki semangat untuk sembuh.


Nyi kerti yang mendengar ucapan suaminya dari luar kamar hanya bisa menitikkan air mata, karena selama berpuluh-puluh tahun Ki Wongso lah yang menjadi teman hidupnya dalam suka maupun duka.


Setelah minum obat kiwongso segera tertidur, Bajraloka keluar dari kamar Bapaknya, kemudian dia mengambil peralatan berburunya berupa panah dan pedang.


"Mau kemana malam-malam begini nak?.


Bajraloka terkejut mendengar teguran dari ibunya.


"Aku mau kehutan Bu,"


"Tidak ada yang melarangmu kalau kau berangkat besok pagi,"


"Aku ingin menenangkan diri Bu,"


"Ya sudah jangan jauh-jauh," Dengan menarik nafas yang dalam Nyi Kerti akhirnya memberikan izin juga.


" Aku pamit Bu, jaga Bapak dan kesehatan Ibu juga,"


Bajraloka menciumi tangan ibunya kemudian pergi bersama cutcit dan gading.


Nyi Kerti memandangi kepergian anaknya sampai menghilang dari pandangan.


Bajraloka berlari dengan menggunakan lampu minyak sebagai penerangan, gading berada didepan memasuki hutan sedangkan cutcit terbang sambil bersuara.


Bajraloka tiba disebuah gua, kemudian dia berdiri didepan goa, dimalam hari keadaan goa itu sangat gelap dan menyeramkan.


Tiba-tiba Gading terus menggonggong dan cutcit berkicau tiada henti sepertinya naluri binatangnya telah menangkap suatu bahaya.


" Gading apa kau merasakan sesuatu yang aneh sehingga kau dan cutcit tidak bisa diam,"


Ditanyai seperti itu Gading dan cutcit menjawab dengan suaranya masing-masing namun Bajraloka yang sudah sejak mereka lahir mengerti apa yang dimaksud kedua binatang tersebut.


Bajraloka mulai waspada dia menghunuskan pedang pemberian dari Nyi Ending.


" cit,cit,cit,cit,cit,cit,cit,cit,"


Tiba-tiba segerombolan kelelawar beterbangan keluar dari goa dengan jumlah yang banyak, Gading dan cutcit sempat kaget, cutcit sebagai bangsa burung dengan posisi terbang harus tersungkur jatuh ketanah akibat ditabrak oleh salah satu kelelawar tersebut.


Kelelawar-kelelawar itu bentuknya tidak seperti Kelelawar biasanya, dimulutnya terdapat moncong sepanjang jari telunjuk berukuran sebesar jarum, tubuhnya sebesar piring, sayapnya selebar dua telapak tangan, Kelelawar-kelelawar itu terbang tanpa menghiraukan kehadiran Bajraloka, Gading dan cutcit.


Bajraloka segera menolong cutcit yang jatuh dia memeriksa seluruh tubuh cutcit takut ada yang terluka, karena tubuh Kelelawar-kelelawar itu jauh lebih besar.


Bajraloka agak lega karena cutcit tidak mengalami cidera apapun namun cutcit terus berkicau meski agak tersendat-sendat sepertinya dia lagi dalam keadaan tidak terima sehingga kicauannya terdengar seperti lagi menyumpahi Kelelawar-kelelawar itu.


Setelah gerombolan Kelelawar-kelelawar itu habis terdengar dari dalam goa Geraman-geraman kemarahan yang menyeramkan.


Bajraloka, Gading dan cutcit kaget mendengar suara itu, namun Bajraloka nampak tenang-tenang saja tidak terpengaruh dengan suara tersebut berbeda dengan Gading dan cutcit mereka agak gemetar.


Gading menggigit celana yang dipakai Bajraloka kemudian menggeretnya, Bajraloka mengerti dengan maksud binatang piaraannya.


" Gading, cutcit kalian jangan takut aku akan melindungi kalian,"


Mendengar perkataan Bajraloka Gading tidak perduli dia terus menarik celana Bajraloka.


Bajraloka tidak tega dengan kelakuan Gading akhirnya dia memutuskan untuk bersembunyi.


" Baiklah Gading, cutcit kita bersembunyi saja, aku penasaran dengan mahluk yang ada didalam,"


Bajraloka mengajak Gading dan cutcit bersembunyi disebelah goa yang ditumbuhi rumput alang-alang yang tinggi.


" herrrr,"


"hehhhh,"


Suara geraman itu makin mendekati kepintu goa.


Bajraloka terus memandangi kearah pintu goa dengan berjongkok sambil membawa pedang yang terhunus.


Mahluk aneh itu kini sudah keluar dari goa dengan cara terbang, Gading dan cutcit langsung pingsan melihat mahluk itu.


Kelelawar raksasa dengan ukuran badan sebesar tubuh manusia memiliki kaki dan tangan kurus nyaris tanpa daging sehingga lekukan tulangnya terlihat menonjol, moncong dimulutnya pun juga besar dan panjang sekitar dua jengkal, matanya merah sorot yang tajam, gigi menyeringai tajam,


sayapnya lebar jika dibentangkan.


Kelelawar raksasa itu berhenti tepat didepan mulut goa, dia celingak-celinguk kiri- kanan, kelelawar raksasa itu mencurigai sesuatu, suara geraman ya makin diperkeras.


******Bersambung******