Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.62 Berteman dengan Putri Maitri



Putri Maitri berjalan menuju kelapak penjual obat-obatan, dimana Bajraloka masih memilih-milih obat yang mau dibeli sesuai catatan dari Nyi Ending.


Burung cutcit tiba-tiba terus berkicau.


" Cutcit diam, aku jadi tidak bisa konsentrasi gara-gara suaramu yang cempreng," Bajraloka menepuk paruh cutcit dan akhirnya cutcit diam.


Aksi Bajraloka menepuk paruh burung piaraannya dilihat oleh putri Maitri, tanpa sadar tawa putri Maitri didengar oleh semua orang termasuk Bajraloka.


Bajraloka menoleh kearah Putri Maitri dan Putri Maitri juga menoleh kearah Bajraloka, pandangan mereka akhirnya bertemu.


Putri Maitri jadi salah tingkah sedangkan Bajraloka terlihat biasa-biasa saja, dia sibuk mencari obat-obatan yang mau dibeli.


Ketika mereka berdekatan Putri Maitri makin salah tingkah hingga tanpa sadar tangan Putri Maitri menyenggol dagangan dan akhirnya dagangan itupun terjatuh ketanah.


" Aduuuhh, maaf tidak sengaja," Putri Maitri sangat gugup dan malu.


Bajraloka yang ada disampingnya melihat hal itu tidak tinggal diam, tanpa disuruh dia memunguti barang-barang itu.


" Kisanak maaf merepotkan dirimu," Putri Maitri menjadi tidak enak hati karena dibantu.


" Tidak apa-apa," jawab Bajraloka.


" Kisanak, aku tidak pernah sekalipun melihatmu, boleh aku tahu namamu dan darimana asalmu," Tanya Putri Maitri semakin gugup.


" Namaku Bajraloka dari Desa Kunir, aku anak Ki Wongso dan Nyi Kerti," Bajraloka menjawab dengan sopan.


Banyak para gadis yang merasa iri melihat kedekatan mereka.


" Emak, jodohkan aku dengan dia, aku mau suami seperti dia," Rengek salah satu gadis kepada ibunya.


" Jangan macam-macam, emak ndak mau kamu sama dia meski dia tampan tapi dia miskin, kau dengar tadi dia bilang anaknya Ki Wongso orang paling miskin di tiga desa," Kata emaknya sang gadis.


" Emak, aku ndak mau sama yang lain harus sama dia," gadis itu kembali merengek tidak memperdulikan kata emaknya.


" Ayo kita pergi," sang ibu menarik tangan anaknya.


" Sepertinya Putri Maitri juga menyukai pemuda itu," kata gadis yang lain.


" Iya, itu artinya kita tidak punya kesempatan untuk mendekati pemuda itu," Timpal yang lainnya.


" Kalian benar-benar memalukan, pemuda seperti itu kalian rebutkan mending sama aku," tiba-tiba seorang pemuda nyeletuk dari belakang.


" Huhhh," para gadis meledeki pemuda tersebut dengan menjulurkan lidahnya.


Pemuda hanya menggaruk-garuk kepalanya yang pas kebetulan gatal.


Bajraloka meninggalkan tempat lapak obat-obatan setelah mendapatkan apa yang dicari, sedangkan Putri Maitri masih disana bersama dayang dan pengawalnya, Putri Maitri begitu kecewa dia ingin berlama-lama bersama Bajraloka.


" Gusti Putri, pemuda itu ada disana, apakah Gusti Putri mau pergi kesana," Dayang itu mencoba memberikan saran namun hatinya tidak senang.


" Bibi, apakah benar jika seorang wanita yang memulai dahulu,"


" Tapi Gusti, lihatlah betapa para gadis-gadis ingin dekat dengannya,"


" Kau benar Bibi, aku belum memberitahukan namaku, itu akan kujadikan alasan supaya dekat dengannya,"


Putri Maitri bergegas menuju ke Bajraloka, namun Bajraloka pun pergi dari sana, nampaknya Bajraloka sudah selesai berbelanja dan dia akan pulang, Putri Maitri begitu kecewa, dia sangat kesal karena pemuda yang disukainya sama sekali tidak memberi respon.


Bajraloka meninggalkan keramaian pasar, tiba-tiba dia mendengar suara yang memanggilnya.


" Kakang Bajra tunggu,"


Bajraloka menoleh ternyata yang memanggilnya adalah seorang Bibi dayangnya Putri Maitri.


Bajraloka berhenti.


Bajraloka mengernyitkan dahi, dia agak bingung, namun dia hanya mengangguk saja.


Tidak lama Putri Maitri langsung menyusul.


" Kakang Bajra, maafkan aku yang menghentikan perjalananmu," Putri Maitri mendadak sopan, hingga dayang dan pengawalnya heran karena biasanya Putri Maitri bersifat angkuh kepada siapapun terkecuali dengan orangtuanya.


" Gusti Putri ada apa hingga Gusti Putri harus repot-repot seperti ini?," Tanya Bajraloka.


" Kakang Bajra, aku belum memberitahukan tentang diriku kepadamu,"


" Gusti, tidakkah ini berlebihan," Bajraloka yang sebenarnya masih anak-anak tidak mengerti maksud dari putri Maitri.


" Namaku Maitri, orang-orang biasanya memanggilku Putri Maitri, aku adalah anak kepala Desa Semanggi ini," Putri Maitri memandang Bajraloka tanpa berkedip.


" Terimakasih Gusti Putri Maitri, sudah memberitahukan tentang diri Gusti Putri," Bajraloka pun menjawab dengan sopan.


" Kakang Bajra, maukah kakang Bajra berteman denganku?," tanya putri Maitri berharap-harap cemas.


Bajraloka ditawari seperti itu, hanya bisa diam, namun dihatinya merasa senang karena sey ini didesa kunir tidak ada yang mau berteman dengannya.


" Gusti, jangan panggil aku kakang, aku masih sepuluh tahun,"


" Deg," Semua merasa terkejut mereka tidak menyangka dengan kejujuran Bajraloka.


" Apa?," Putri Maitri tidak bisa menyembunyikan rasa kekagetannya.


" Tidak mungkin kau masih anak-anak, dengan bentuk tubuh seperti ini, bagaimana aku bisa percaya," kata Putri Maitri.


" Aku tidak bohong, tanya burung cutcit ku ini dia bisa menjawab dengan menganggukkan kepalanya,"


Burung cutcit tanpa ditanya langsung ngoceh dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali, tingkahnya membuat Putri Maitri tertawa.


" Kalau kau tidak mau aku panggil kakang, lalu aku harus memanggilmu apa?,"


" Panggil saja aku Bajra,"


" Baiklah, sekali lagi aku tanyakan, maukah kau berteman denganku Bajra,"


" Tentu saja aku mau Gusti Putri," Bajraloka yang masih kecil dengan pengalaman hidup yang sangat minim apalagi dia tidak pernah bergaul dengan siapapun menjawab dengan polosnya.


Putri Maitri sangat senang mendengar jawaban Bajraloka, dalam hati dia berkata.


" Bajra meskipun kau masih kecil, tapi kau sudah membuat jantungku berdetak kencang, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku dan kita akan menjadi sepasang kekasih,"


" Gusti Putri, saya harus segera pulang, saya takut kedua orangtuaku cemas,"


Putri Maitri yang melamun akhirnya terhenyak dengan ucapan Bajraloka.


" Kenapa harus buru-buru, apakah kau tidak senang berbicara dengan Gusti kami yang cantik, kau sangat beruntung Putri kami menyukaimu," Bibi dayang bermaksud menahan Bajraloka.


" Aku senang sekali, tapi Desa Kunir masih jauh, aku takut kemalaman,"


" Baiklah Bajra, pulanglah," kata Putri Maitri dengan kecewa.


" Saya mohon diri Gusti," setelah berpamitan Bajraloka bersama Gading dan cutcit berjalan pulang.


Putri Maitri memandangi Bajraloka dengan berangan-angan, tapi mereka tidak menyadari sejak tadi ada sepasang mata yang mengintip pembicaraan mereka.


Sorot matanya merah mengandung kebencian.


******Bersambung......