
Tiga Peri suci memaklumi keadaan Bajraloka merekapun hanya tersenyum.
" Hai manusia siapakah namamu," Sekali lagi manik mengulangi pertanyaannya.
Bajraloka gelagapan ketika mendengar suara agak keras dari salah satu peri bersayap.
" A...a...da a...apa?," Bajraloka berbicara dengan terbata-bata saking kagetnya.
" Aku bertanya kepadamu siapa namamu?," tanya manik meskipun kesal tapi masih menunjukkan senyum.
" ooh namaku Bajraloka anak dari Kiwongso dan Nyi Kerti," Bajraloka masih tergugup apalagi melihat kecantikan para Peri suci yang belum pernah dilihatnya ditambah sayap transparan seperti sayap capung yang selalu berkibar-kibar menambah kesempurnaan penampilan dari tiga Peri suci.
" Kalau boleh saya tahu siapakah kalian bertiga kenapa memiliki sayap?,"
" Kami adalah Tiga Peri suci kami ditugaskan oleh Raja dan Ratu peri untuk menjaga wilayah hutan ini ," Kata peri manik yang mewakili teman-temannya.
" Jadi kalian mahluk peri yang sering saya dengar dari penduduk Desa,"
Bajraloka sangat senang bisa melihat peri meski awalnya tidak percaya.
" Bajraloka sebaiknya kamu pulang sekarang juga, suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi," kata peri sekar.
" Terimakasih atas pertolongan para Peri," sambil berucap Bajraloka melangkah meninggalkan tempat itu setelah menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
Bajraloka melangkah meninggalkan hutan bersama Gading dan Cutcit, bayangan mereka lenyap ditelan kegelapan malam.
Tiga Peri suci saling berpandangan kemudian mengarahkan tongkat yang tadinya panjang pada saat bertarung melawan Siluman Kelelawar kini memendek seukuran lengan dan mengeluarkan tiga warna sinar ungu, biru dan kuning mengarah kearah tempat Bajraloka menghilang.
Setelah ketiga sinar itu lenyap ketiga Peri suci saling berpandangan kemudian tersenyum.
Peri Manik kemudian berkata
" Sepertinya tidak akan lama lagi," Mendengar perkataan Peri Manik, Peri Sekar dan Peri Sari menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataan Peri Manik, mereka bertiga mengibaskan tangan.
******
Cling
Terdengar suara cling maka muncul seorang pemuda tampan dengan piaraannya seekor anjing dan seekor burung dia adalah Bajraloka, Gading dan Cutcit dengan bantuan tiga Peri suci yang tanpa disadari oleh Bajraloka dan piaraannya.
" Gading apa yang terjadi kenapa tiba-tiba kita sudah berada disini secepat ini?,"
Gading yang mendengar pertanyaan tuannya langsung menggonggong begitu juga Cutcit yang memang tidak bisa diam langsung berceloteh.
Bajraloka menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal juga kebingungan, namun dia sangat terkejut ketika melihat kobaran api besar dirumahnya.
Bajraloka melihat kearah Gading dan Cutcit namun ternyata kedua binatang itu sudah tidak ada rupanya mereka sudah berlari kearah kobaran api terlebih dahulu.
Bajraloka yang memang memiliki kemampuan berlari yang tidak biasa dalam sekejap sudah berada ditempat kobaran api dia langsung berteriak panik memanggil kedua orangtuanya.
" Bapak, Ibu kalian dimana?,"
Bajraloka mengitari kobaran api yang melalap seluruh rumahnya yang terbakar sambil memanggil kedua orangtuanya.
" Tidaaaakkkk ,"
Bajraloka semakin panik ketika panggilannya tidak ada yang menyahut dia sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap kedua orangtuanya, suara tangisannya mulai pecah' dan air matanya mulai mengalir.
" Bajra anakku ,"
Bajraloka mulai sadar ketika terdengar suara perempuan paruhbaya memanggil namanya dia pun menoleh kearah suara tersebut.
" Ibu ,"
Bajraloka melompat kearah tempat ibunya terbaring direrumputan disampingnya Ki Wongso juga terbaring keadaan mereka sangat mengenaskan seluruh tubuh bersimbah darah dan banyak luka sayatan.
" Bajra ,"
Dengan suara yang berat dan tertahan Nyi Kerti berusaha berbicara kepada Bajraloka.
" Ibu, apa yang terjadi kenapa bisa begini?,"
Bajraloka duduk bersimpuh sambil memeluk ibunya.
Nyi Kerti mengusap kepala Bajraloka dengan tangan yang berlumuran darah.
" Bajra anakku, kamu harus kuat Dewa Siwa pasti akan menghukum mereka, Bapakmu sudah pergi mendahului Ibu sedangkan ibu juga akan menyusul Bapakmu, ingat nak ajaran dari Sang Dewa Siwa yang selalu Ibu dan Bapakmu ajarkan," Setelah berbicara dengan agak berat Nyi Kerti menarik nafas dan terputus.
Nyi Kerti akhirnya meninggal menyusui Ki Wongso yang sudah lebih dahulu pergi.
Bajraloka berteriak memanggil ibunya dia mengguncang-guncang tubuh ibunya.
" iiiibuuuuuu,"
*******Bersambung*****
Ayo dukung author dengan meninggalkan jejak like dan komentar biar author gak malas update**