Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.26 Sangkala Sura vs Mahapatih Dewa Sri Tungku Geni



Istana Batu Angin kini sedang dalam keadaan waspada, Sang Ratu bersama Keduabelas Putri kini dalam keadaan gelisah.


Diprasanggahan yang ada disebuah Taman Sang Ratu bersama putri-putrinya sedang duduk termenung tak ada satupun yang berbicara.


Setelah sekian lama diam akhirnya Gusti Ratu memanggil Prajuritnya untuk memanggil penasehatnya.


Tak lama kemudian datanglah Sang penasehat Dang Acarya Dewa Sri Sudarsana


" Paman Dang Acarya, apakah Paman mempunyai solusi dari masalah ini, aku yakin setelah Sangkala Sura menghancurkan Dunia Kahyangan maka tidak ada lagi pembatas antara Kahyangan dan Dunia para Iblis," Gusti Ratu Dewi Palmasari berkata dengan kesedihan yang mendalam.


" Ampun Gusti Ratu, sebaiknya Gusti Ratu jangan berpikir seperti itu hanya akan menambah kesedihan Gusti Ratu," Dang Acarya mencakupkan kedua tangan menimpali perkataan Gusti Ratu Dewi Palmasari.


" Bunda, masalah ini berawal dari kami, Kami bersedia menjadi istri dari Sangkala Sura demi Dunia Kahyangan yang damai," Dewi Sulasih menyatakan solusinya namun Gusti Ratu malah menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak setuju.


" Ampun Gusti Putri, jika memang bisa mungkin sudah disetujui namun perlu Hamba ingatkan lagi, bahwa keturunan yang Gusti Putri hasilkan malah akan mendatangkan bencana lebih besar," ucap Dang Acarya.


Kini suasana makin hening semua terbawa oleh lamunan masing-masing.


namun tak lama kemudian Gusti Ratu Dewi Palmasari berkata


" Paman tolong perintahkan para utusan Kerajaan untuk memberitahukan tentang keadaan ini pada semua Kerajaan," Titah Gusti Ratu Dewi Palmasari.


******


Sangkala Sura tidak dapat dihentikan oleh siapapun, para Prajurit tidak henti-hentinya memberikan perlawanan, ribuan panah, dan Ribuan Ajian pun tak dapat menghentikan aksi Sangkala Sura seakan-akan seekor semut menggigit batu.


Mahapatih sebagai Dewa tersakti Dikerajaan Batu Angin pun tidak berdaya, Ajian Rangkah Gledek yang dikeluarkan hanya mampu membuat Sangkala Sura mengaduh tapi tidak sampai membuat luka.


Sangkala Sura tidak sempat menghindar karena sibuk menghindari serangan dari Prajurit yang menyerang.


" aaaaaaarrrrrggghhhh," Sangkala Sura menjerit kesakitan.


Tiba-tiba dari depan sebuah bayangan menghantam tubuh Sangkala Sura hingga Sangkala Sura tumbang.


Bayangan Mahapatih kembali ketubuhnya, semua para Dewa-Dewi bersorak kegirangan namun tiba-tiba Sangkala Sura bangkit kembali membuat rasa gentar para Dewa-Dewi, biasanya jika terkena Ajian Rangkah Gledeknya Sang Mahapatih maka tidak ada yang selamat.


Setelah bangkit tubuh Sangkala Sura yang tadinya gosong kembali seperti semula, Kemarahannya semakin memuncak dia memandang Mahapatih dengan pandangan yang membunuh, seluruh tubuhnya berwarna merah begitu juga matanya.


Tiba-tiba tubuh Sangkala Sura menjadi Tujuh dengan Tujuh tubuh sebesar Gunung, kini Sangkala Sura semakin mudah untuk membantai, banyak sekali tubuh para Dewa-Dewi yang bergelimpangan tak bernyawa.


Satu tubuh Sangkala Sura menuju Sang Mahapatih, namun Sang Mahapatih sudah siap.


Dengan Tinju Matahari Mahapatih menyerang bayangan Sangkala Sura, Sangkala Sura menerima serangan itu dengan mencengkeram Tinju Matahari Sang Mahapatih.


Terjadilah saling adu kesaktian tubuh Sangkala Sura bergeser beberapa langkah akibat perpaduan kedua Ajian tersebut sedangkan Sang Mahapatih terjungkal sampai Lima tombak.


" Uhukkk, uhukkk, uhukkk, kurang ajar semua kesaktianku tidak ada yang berhasil mengalahkan Sangkala Sura, aku harus mencari cara," Bathin Sang Mahapatih yang memegangi dadanya terasa berat.


Tiba-tiba dari atas Sang Mahapatih Sangkala Sura meluncur kebawah dan ingin mencengkeram kepala Sang Mahapatih.


Mendapatkan hal itu Sang Mahapatih terkejut karena jaraknya cuman Lima meter dengan agak terkejut Sang Mahapatih yang belum memulihkan lukanya mendelik.


****** Bersambung