Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.24 Amukan Sangkala Sura



Sangkala Sura terus mencari namun tidak menemukan apa-apa, biasanya dia akan menggunakan Ajian Kental Wangi untuk mendeteksi keberadaan suatu benda atau mahluk yang dicari seperti yang dilakukan saat pengejaran Permata Airmata selama ini, namun kali ini Ajian itu tidak menemukan apa-apa.


Sangkala Sura menjadi geram dan marah.


" aaaaaaaahhhhhhh, sialan apa penyebabnya hingga aku sulit menemukan Permata itu," Sangkala Sura berteriak sambil mengepalkan tangannya hingga muncul sinar merah gelap pada tangannya.


Sangkala Sura meluapkan kemarahannya dengan menyerang secara membabi buta, apapun yang ada disekitar menjadi sasaran kemarahannya.


Sangkala Sura terus mengamuk, berteriak, mengumpat, hingga Bukit Mahayoni kini terlihat hancur berantakan pepohonan, bebatuan semua hancur.


Kini Sangkala Sura tiba dipemukiman para Dewa-Dewi Kahyangan, Sangkala Sura bertanya pada salah satu dewa tapi tidak menemukan jawaban, Sangkala Sura semakin marah Dia memukul dewa tersebut tapi Dewa itu melawan, pertarungan pun tidak bisa dihindari, para Dewa-Dewi yang melihat kejadian tersebut langsung membantu menyerang Sangkala Sura.


Sekedar informasi Didunia Kahyangan semua para Dewa-Dewi memiliki kemampuan bertarung yang cukup tinggi, kekuatan yang dimiliki sudah sejak lahir namun tidak semua memiliki kesaktian yang sama tergantung bakat dan pelatihan, Ilmu terbang merupakan Ilmu bawaan dari lahir bahkan semua Binatang juga memiliki Ilmu tersebut.


Ratusan para Dewa-Dewi menyerang Sangkala Sura, namun Sangkala Sura adalah Raja Iblis yang memiliki kesaktian setara dengan para Dewa Disurga, Kesaktian yang dimiliki atas Anugerah Dewa Mahadewa berkat Tapanya yang hebat selama Seratus Tahun.


Namun Sangkala Sura tidak puas Dia ingin bertapa lagi selama Seribu Tahun untuk mendapatkan Kesaktian Dewa Brahma Sang pencipta agar bisa menguasai Surga dan Neraka.


Sangkala Sura sangat marah ketika Tapanya digagalkan oleh Pangeran Jayarudra yang sudah mencapai Duaratus Tahun itu artinya Dia akan mengulang lagi dari awal.


Meskipun melawan Ratusan Dewa-Dewi Sangkala Sura sedikitpun tidak merasa kewalahan malahan para Dewa-Dewi itu yang kewalahan semua Ajian yang dikeluarkan oleh para Dewa-Dewi tidak mempan samasekali.


Sangkala Sura hanya dibuat kesal karena pertarungan ini pencariannya jadi tertunda, Diapun merubah wujudnya menjadi Raksasa, tubuh Sangkala Sura yang tadinya normal saja kini sangat besar sebesar Gunung.


Dengan tubuh yang besar Sangkala Sura dengan mudah mengalahkan para Dewa-Dewi itu dan membuat kerusakan dimana-mana.


Merasa tidak menemukan apa yang dicari, Sangkala Sura meninggalkan tempat itu tanpa merasa bersalah sedikitpun, dengan tubuh yang besar Sangkala Sura terus melangkahkan kakinya hingga membuat Alam Kahyangan sekitarnya bergetar.


Semua penghuni Kahyangan yang dekat dengan Sangkala Sura merasa takut, namun tekad untuk menghentikan Mahluk Raksasa Sangkala Sura membuat mereka harus bertarung untuk melindungi diri.


" Raksasa itu benar-benar kuat, kita semua tidak mampu melawannya," kata salah satu Dewa yang terluka.


" Iya benar, semua ilmuku tidak ada yang melukainya, Dia seperti Dewa penghancur," kata salah satu Dewa yang lain.


" Kalau dibiarkan Negeri Kahyangan akan benar-benar hancur," kata salah satu Dewi yang juga terluka akibat pertarungan.


" jadi apa yang harus kita lakukan," tanya Dewa yang lain lagi.


" Kita harus melapor kepada pihak Kerajaan, agar Sang Ratu Palmasari mengirimkan bantuan secepatnya," kata Dewa yang lain.


" Bagaimana kalau aku yang melapor," kata salah satu Dewi.


" Tidak bisa, kita punya Penatua, maka Dia yang harus melapor agar lebih dipercaya," kata salah satu Dewa yang disetujui oleh para Dewa-Dewi yang lain.


" Tapi apa kalian tidak lihat, Penatua sedang sibuk bertarung," kata dewa yang lain yang baru saja selesai mengobati lukanya.


" Baiklah, aku mempunyai seseorang yang bisa dipercaya," kata Dewa yang memegang tongkat.


" Siapa?," jawaban serempak dari para Dewa-Dewi


" Dia adalah Nyai Dewi Raksi, bukankah dia pernah bekerja di Istana sebagai Dayang- dayang," kata Dewa tersebut.


"Wah, kau benar ayo kita minta bantuan pada Nyi Dewi Raksi," seru salah satu dari Dewa itu.


Dari persetujuan para Dewa-Dewi, maka dua Dewa mencari Nyi Dewi Raksi, sedangkan yang lain kembali menyerang Raksasa Sangkala Sura.


****** Bersambung...