Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.55 Bajraloka dan Gending Ginanti



Sanghyang Bhatara Siwa dan para Dewa-Dewi dari Surga serta Kahyangan Sloka menyaksikan kelahiran Putra dari Nyi Kerti


mereka semua menaburkan bunga-bunga pertanda mereka merestui kelahiran Sang pembawa kedamaian.


" Sanghyang Bhatara Siwa bolehkah Hamba memberi berkah kepada Putra Hamba?," Dewi Kanawa bertanya kepada Sanghyang Bhatara Siwa dengan sikap panganjali.


Sanghyang Bhatara Siwa yang duduk diatas batu beralaskan kulit harimau dan dikelilingi para Dewa-Dewi tersenyum kemudian mengangguk.


Setelah mendapatkan izin dari Bhatara Siwa, Dewi Kanawa mencakupkan kedua tangannya keatas lalu didepan dadanya, setelah membaca mantra muncullah sinar putih dari tangan Dewi Kanawa kemudian sinar itu memanjang turun dimana Putranya dilahirkan oleh Nyi Kerti.


Aksi Dewi Kanawa diikuti oleh semua para Dewa-Dewi lainnya.


Sinar itu membungkus tubuh Putra Nyi Kerti yang baru lahir, Nyi Ending dan Ki Wongso melihat hal itu terkesiap sedangkan Nyi Kerti masih tidak sadarkan diri.


" Jagad Dewa Bhatara, anak ini ternyata salah satu titisan Dewa," Nyi Ending berbicara dengan mata melotot tak percaya begitu juga dengan Ki Wongso.


Setelah selesai memberikan berkah Dewa Narayan bertanya kepada Bhatara Siwa.


" Dewa Siwa yang Agung, apakah anak ini mengalami kehidupan seperti manusia lainnya," Tanya Dewa Narayan.


Bhatara Siwa tersenyum sejenak kemudian menjawab.


" Semua yang menitis kedunia fana akan mengalami kehidupan seperti manusia lainnya tanpa terkecuali, agar Sradha yang dimiliki semakin meningkat, sedih-senang, bahagia-menderita, kelahiran-kematian itu semua adalah proses pembentukan Sradha yang tinggi agar Dharma yang dimiliki semakin kuat," Bhatara Siwa menjelaskan dengan singkat namun tepat sehingga dimengerti oleh semua para Dewa-Dewi yang hadir.


" Sanghyang Bhatara Siwa yang Agung, apakah Hamba boleh sewaktu-waktu menemui Putra Hamba?," Tanya Dewi Kanawa.


" Tentu saja tidak di izinkan untuk saat ini terkecuali melalui mimpi atau hanya sekedar memberikan petunjuk rahasia," jawab Bhatara Siwa.


Semua para Dewa-Dewi memberikan pertanyaan kepada Sanghyang Bhatara Siwa, setelah semua mendapatkan jawaban mereka akhirnya meninggalkan tempat tersebut.


******


Dirumah Ki Wongso, tangisan bayi baru lahir itu sangat keras, bagi Nyi Ending itu sangat mengganggu namun bagi Ki Wongso itu sangatlah merdu.


Setelah Nyi Ending memandikan bayi itu, Ki Wongso langsung menggendongnya dan sambil bersenandung.


Sibayi masih menangis.


" Ki Wongso nyanyianmu tidak mempan, cepat kau berikan pada biyungnya!," Ki Wongso menuruti perkataan Nyi Ending.


Setelah mendengar tangisan bayi yang diletakkan disampingnya, Nyi Kerti langsung tersadar kemudian dia memberikan ASI kepada anaknya tersebut.


" Ki Wongso kau persiapkan nama yang bagus pada anakmu," Ujar Nyi Ending


Ki Wongso berpikir sejenak dia memejamkan matanya, dalam pikirannya terdengar suara menggema.


" Bajraloka, Bajraloka, Bajraloka," Terdengar Tiga kali penyebutan suara itu langsung menghilang.


Ki Wongso membuka matanya kemudian dengan senyum diwajahnya mengucapkan nama anaknya.


" Kuberinama anakku ini Bajraloka," Suara Genta yang berada didalam kantong celana Ki Wongso langsung berbunyi.


" Krencing, krencing, krencing," suara Genta berbunyi tigakali membuat Ki Wongso, Nyi Ending dan Nyi Kerti terkejut.


Ki Wongso mengucapkan terimakasih kepada Nyi Ending.


" Nyi, saya sangat berterimakasih kepada Nyai, karena sudah membantu kelancaran kelahiran anak saya, dan terimalah rasa terimakasihku ini," Ki Wongso memberikan limapuluh uang perak kepada Nyi Ending, Nyi Ending yang sempat kecewa tapi melihat sang bayi hatinya jadi luluh.


" Nyi Ending, maaf cuman ini yang bisa kuberikan, kambing ini adalah hasil kerja kerasku selama Istriku hamil, kambing ini namanya sibelang, terimalah Nyi," Ki Wongso begitu sedih ketika menyerahkan sibelang.


Nyi Ending sepertinya tidak tega melihat Ki Wongso yang sedih ketika harus berpisah dengan Binatang peliharaannya.


" Ki, aku terima kambingnya, tapi aku tidak bisa merawatnya, Ki Wongso jangan gundah, kambing ini kuberikan kepada Bajraloka biar dia menjadi teman bermainnya kalau sudah besar," Ki Wongso mendengar perkataan Nyi Ending, wajahnya kembali berubah menjadi senang.


Setelah pagi tiba para penduduk Desa Kunir dihebohkan oleh banyaknya bunga-bunga harum, berwarna-warni bertebaran dimana-mana.


Banyak yang menyimpulkan kalau fenomena alam yang terjadi dari kemarin berhubungan dengan kelahiran anak Ki Wongso.


Mereka berbondong-bondong pergi kerumah Ki Wongso yang berada dipinggir Hutan.


******


Ditempat yang jauh dari Desa Kunir yaitu Diistana Kerajaan Mrajapati, Permaisuri Raja Dyah Dewi Lamangsari juga melahirkan seorang anak perempuan dihari yang sama.


kelahiran bayi perempuan itu bukannya mendapatkan sambutan yang baik dari pihak Istana maupun Sang Raja itu sendiri, karena sejak dilahirkan kedunia Sudah seminggu bayi itu belum sadarkan diri namun kata tabib bayi itu masih hidup karena aura kehidupan dari Sang bayi begitu kuat.


Berbagai upaya dilakukan oleh para tabib namun hasilnya nihil.


Bayi perempuan itu merupakan anak kelima dari Raja dan Permaisuri, sebelumnya mereka sudah memiliki Tiga putra dan Satu putri, meskipun bersaudara rasa iri dengki menguasai mereka sehingga tidak pernah akur.


Raja Mrajapati bernama Sulaksana bergelar Sri bangkitan Agung.


Dari para selir yang berjumlah empat juga memiliki delapan putra dan putri.


Semua Putra dan Putri Raja Sulaksana baik dari Permaisuri maupun dari selir merasa bahagia melihat keadaan Putri bungsu kecuali Dewi kencana Wangi yang merupakan Putri dari Sang Permaisuri, Dia sangat sedih dan selalu berdoa agar adik kandungnya itu dapat diselamatkan.


Permaisuri sejak mengetahui keadaan Putri bungsunya yang belum sadarkan diri terus saja menangis berbagai cara dilakukan untuk menghibur Sang Permaisuri.


Musik, Tarian dan nyanyian tidak membuat Sang Permaisuri tersenyum kecuali Putrinya sadar seperti bayi-bayi yang lainnya.


Seorang , Penyanyi perempuan paruhbaya tiba-tiba melantunkan tembang yang berjudul Ginanti dengan suara merdunya.


Tembang dilantunkan dengan apik disamping Sang Permaisuri sambil memijit kaki Sang Permaisuri, Begitu ajaib setelah tembang dilantunkan Sibayi tiba-tiba menggeliat dan menangis keras.


Seluruh penghuni Istana yang mendengar menjadi senang begitu juga Raja dan Permaisuri, mereka semua bersukacita, Permaisuri akhirnya bisa tersenyum bahagia.


" Putriku, akhirnya bisa diselamatkan berkat kidung Ginanti, maka akan kuberi dia nama Gending Ginanti," Semua bersorak gembira setelah Sang Raja mengumumkan nama anaknya.


" Ayahanda Prabu terlalu berlebihan, kenapa tidak mati sekalian saja," Ucap Pangeran Sujiwa Putra pertama dari Sang Raja dan Permaisuri.


" Lihat saja nanti jika Ayahanda dan Ibunda berlaku tidak adil maka akan kubuat adik kita Gending Ginanti bakalan hidupnya sengsara," Pangeran Rangkul Aji Putra Kedua menambahkan Sambil tersenyum sinis yang mengandung arti yang mengerikan.


******Bersambung......