
Istana Batu Angin terlihat porak-poranda, para Prajurit banyak yang kehilangan nyawanya, Sangkala Sura tidak dapat dihentikan, para Senopati dan petinggi Kerajaan lainnya kini terluka tak dapat melakukan perlawanan.
Sangkala Sura mendengus geram ketika melihat para Dewi pujaannya tidak ada, Dia merubah dirinya menjadi sebuah bayangan siluet berwarna hitam lalu terbang mencari keberadaan para Dewi.
Ditempat pemujaan para Dewi melakukan semedi memusatkan pikiran terhadap Sanghyang Siwa.
Tak berselang lama tiba-tiba ada ledakan didepan Arca Sanghyang Siwa membuat para Dewi terkejut, mereka akhirnya membatalkan semedinya.
Setelah ledakan terjadi muncul Sangkala Sura tepat pada ledakan tersebut dengan wajah penuh senyum menyeringai.
Para Dewi yang melihat hal itu menjadi bergidik ngeri, dan mundur beberapa langkah.
" Sangkala Sura, apa yang kau inginkan dari kami, kenapa kau melakukan kekacauan yang akan membuatmu dihukum oleh Sanghyang Bhatara, aku akan memohon kepada Sanghyang Bhatara untuk mengampuni dosa-dosamu," Gusti Ratu Dewi Palmasari berkata mencoba membuat Sangkala Sura menyadari kesalahannya.
" Aku tidak perlu nasehatmu Ratu Palmasari, kemarahanku atas perbuatan kalian yang telah menghancurkan Kerajaanku dan membatalkan Tapa Brataku sudah tidak bisa aku hentikan," Sangkala Sura berkata-kata sambil meloncat kehadapan para Dewi untuk meringkusnya.
Mendapat serangan seperti itu para Dewi berhamburan keberbagai arah, hingga Sangkala Sura gagal meringkus mereka.
" Kalian tidak bisa menghindar dariku, kali ini tidak akan ada yang menolong," Ucap Sangkala Sura dengan tertawa kecil.
" Sangkala Sura, bagaimana kau merasa pantas dengan kami, mahluk yang derajatnya lebih mulia, kau akan kena kutuk," kata Dewi Ambarwati.
" Kurang ajar, aku paling tidak suka direndahkan," Sangkala Sura berkata-kata sambil kembali menerjang kali ini yang menjadi sasarannya adalah Dewi Sulasih, yang sebenarnya sejak pertama bertemu Dewi Sulasihlah yang membuat dia jatuh cinta.
Mendapat serangan Dewi Sulasih mengeluarkan selendangnya dan mengeluarkan ilmu ilusinya, Sangkala Sura masuk kedalam ilusi tersebut Dia melihat banyak sekali Selendang berwarna-warni bertebaran ada yang berdiri seperti pilar, ada yang beterbangan, memalang membuat Sangkala Sura tidak dapat menemukan Dewi Sulasih.
" Sial, keparat, para Dewi yang tidak tahu diuntung, rupanya aku terjebak dalam ilusi, aku harus bisa keluar dari jerat ilusi ini sebelum Dewi-Dewi itu kabur lagi," umpat Sangkala Sura yang tiada henti.
Sangkala Sura tidak kehilangan akal, Dia memusatkan Tenaga dalamnya kemata dan terlihatlah kelemahan dari ilusi tersebut, kemudian Sangkala Sura membakar salah satu selendang yang menjadi kekuatan ilusi tersebut, ilusi tersebut kemudian lenyap.
Namun sialnya Sangkala Sura tidak menemukan siapapun ditempat itu.
" Kurang ajar, jika aku tidak bisa menangkap kalian lebih baik aku tidak menikmati keindahan tubuh wanita," teriakan Sangkala Sura diiringi dengan langit yang bergemuruh menandakan sumpah dari Sangkala Sura diterima oleh Sang pemegang takdir.
Setelah mengucapkan sumpah Sangkala Sura beranjak meninggalkan tempat itu meneruskan pencariannya.
" Bunda, kemana kita akan bersembunyi, aku takut kalau Iblis itu menemukan kita," tanya Dewi Ginasti kepada Ibundanya.
" Sebenarnya Ibunda juga tidak tahu," jawab Gusti Ratu Dewi Palmasari namun Dia tersenyum setelah menengok kebawah.
" Lihatlah dibawah itu sepertinya ada tempat persembunyian yang bagus untuk kita," kata Gusti Ratu Dewi Palmasari sambil menunjuk kearah yang dituju.
" Benar itu tempat yang bagus, ayo kita kesana," seru Dewi Sulasih dibarengi anggukkan oleh saudari-saudarinya.
Para Dewi sampai ditempat yang dituju Sebuah air terjun yang cukup tinggi dikelilingi bebatuan besar dan semak-semak belukar serta pohon-pohon yang besar dan menjulang tinggi.
Para Dewi lalu terbang rendah menuju air terjun agar lebih dekat.
" Putri-putriku sepertinya dibalik air terjun itu ada sebuah Goa dan cocok untuk kita bersembunyi, ayo kita kesana," Ajak Gusti Ratu Dewi Palmasari sambil melangkah dan diikuti oleh Keduabelas Putrinya.
Mereka melangkah menerobos air terjun tersebut.
" Duuuaaarrrr,"
" aakkhh," Jerit Dewi Dambasari ketika sesuatu meledak disampingnya dan mengenai lengan kanannya.
Semuanya menoleh kearah Dewi Dambasari kemudian mereka terkejut ketika melihat Sosok yang paling ditakuti telah muncul tidak jauh dari mereka.
" Hahahaha, jangan pernah mencoba berlari dariku, kemanapun kalian pergi aku Sangkala Sura tetap akan menemukan kalian," Ternyata Sangkala Suralah yang memberikan ledakan.
Semua wajah para Dewi menjadi tegang, apalagi melihat Sepuluh jari Sangkala Sura mengeluarkan Benang merah yang diarahkan kepada mereka.
Benang-benang itu terus melesat kearah para Dewi hingga hanya tinggal satu jengkal, para Dewi tidak sudah terlambat untuk menghindar karena tertegun dari tadi, mereka terlihat pasrah.
" crasshh," Sebuah suara yang terdengar memotong Benang-benang tersebut.
Sangkala Sura tidak terima Benang-benangnya dipotong dengan mudah, Dia memandang kearah sosok yang berada dipinggir air terjun dengan mengendarai Awan tebal.
****** Bersambung...