
" Hentikan perbuatanmu Sangkala Sura, mungkin Sanghyang Bhatara mengampuni dosa-dosamu," Kata sosok tersebut yang tak lain adalah Maharsi Walamakya.
" Hahahaha, Maharsi Walamakya yang Agung kuharap kau bersikap dengan bijak, jangan sampai kau dipengaruhi sikap Rajas dan Tamas yang bisa mengurangi kesucianmu," kata Sangkala Sura yang mencoba mempengaruhi Maharsi Walamakya agar tidak ikut campur.
" Sangkala Sura, kau memang benar tapi apakah tidak lebih hina bersikap diam melihat kebiadapan yang terjadi," Maharsi Walamakya menyangkal perkataan Sangkala Sura hingga membuat Sangkala Sura tersinggung.
Percakapan akhirnya terjadi saling hujat-menghujat, namun Sangkala Sura yang dangkal tentang pemahaman akan Dharma akhirnya tidak terima dan memulai menyerang Maharsi Walamakya.
Dengan Trisulanya Sangkala Sura mengeluarkan Api dan menghantam kearah Maharsi Walamakya, Maharsi Walamakya menghindar dengan terbang keatas alhasil serangan Sangkala Sura mengenai tempat kosong.
" Duaarr," suara ledakan yang dihasilkan sangat besar menandakan tenaga yang dikandung juga sangat besar.
Maharsi kini berada diatas dengan awan tebal yang dipijaknya, Beliau pun gak ingin kalah dari Sangkala Sura dengan Dua jari dia mengeluarkan dua sinar kuning yang memanjang dengan cepat langsung menghantam kearah Sangkala Sura.
Sangkala Sura tidak menyangka bahwa ia mendapatkan serangan yang begitu cepat.
" Jdaarrr," Sangkala Sura terlambat menghindar kaki kirinya terkena imbas dari ledakan itu meski tidak luka tapi terasa sakit hanya memar.
Sangkala Sura mengumpat kemudian dia membaca mantra maka hilanglah luka memar pada kaki kirinya.
" Sial, setan alas, Tua Bangka besi karatan jangan senang dulu rasakan pembalasanku," Umpat Sangkala Sura yang melihat Maharsi Walamakya tertawa lirih.
Sangkala Sura dengan cepat menerjang Maharsi Walamakya, mendapatkan serangan berbahaya menuju lehernya, Dia membekukan segenggam Awan yang dipijaknya dan dijadikan sebuah piringan untuk menangkis serangan Trisula Sangkala Sura.
Pertukaran serangan pun terjadi dengan sengit, Sangkala Sura menyabetkan Trisulanya kearah punggung namun ditangkis dengan piringan es Maharsi, benturan senjata menimbulkan keretakan pada piringan es Sang Maharsi.
Kemudian disusul tendangan Sangkala Sura, Sang Maharsi menundukkan kepalanya lalu Sang Maharsi menjulurkan kakinya kedepan bermaksud mengenai telapak kaki Sang Maharsi, dengan sigap Sangkala Sura melakukan salto keatas sehingga dia selamat dari serangan tersebut.
Sangkala Sura dari atas meluncur kebawah dengan Trisulanya tepat pada kepala Sang Maharsi, Sang Maharsi menyambut Trisula tersebut dengan kedua piringan es.
kembali kedua senjata beradu dengan saling menyalurkan kekuatan pada senjata masing-masing.
Cukup lama senjata saling beradu dan akhirnya piringan es Maharsi hancur sedangkan Trisula Sangkala Sura harus patah bagian ujungnya.
Sangkala Sura dan Maharsi sama-sama terpental Lima tombak kebelakang dengan mulut berdarah.
Tak membutuhkan waktu yang lama Sang Maharsi kembali bangkit, disusul Sangkala Sura.
" Maharsi aku akui kau pantas disucikan Dikahyangan ini kesaktianmu benar-benar luar biasa," Ucap Sangkala Sura.
" Sangkala Sura sekuat apapun kita masih ada yang lebih kuat, maka jangan takabur semua itu memiliki batas kecuali Sanghyang tunggal," Balas Sang Maharsi.
Maharsi menyadari bahwa Sangkala Sura akan bersiap-siap mengadu jiwa dengannya, langsung membentuk Mudra Swastika sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra.
Saat keduanya sama-sama merapalkan Ajian terkuat mereka suasana disekitar menjadi mencekam, keadaan tiba-tiba menjadi gelap, suara gemuruh dilangit disertai angin kencang dan petir mulai menyambar.
Merasakan hal berbahaya seperti itu para Dewi semuanya merasa ketakutan.
" Anak-anakku, mari kita tinggalkan tempat ini, pertarungan mereka tidak baik untuk keselamatan kita," kata Gusti Ratu Dewi Palmasari.
Mendengar hal itu para Dewi tanpa memberikan jawaban dari Ibundanya langsung terbang meninggalkan tempat itu.
Sangkala Sura nampaknya sudah siap dengan Ajian pamungkasnya begitu juga Maharsi Walamakya.
Dari tangan Sangkala Sura nampak sebuah sinar merah pekat dengan petir-petir kecil mengelilingi itulah Ajian pamungkas dari Sangkala Sura yang bernama Petir Kematian sedangkan dari tangan Maharsi Walamakya sebuah Teratai es yang dikelilingi asap dingin itulah Ajian Teratai kehidupan.
Hawa dingin dan hawa panas langsung menyelimuti tempat itu.
Sangkala Sura dengan petir-petir kecil ditangan langsung terbang kearah Maharsi, Maharsi yang sudah siap langsung menyambut serangan Sangkala Sura dengan melepaskan Teratai kehidupan.
Adu kesaktian pada Ajian terhebat pun tidak dapat dielakkan, Sangkala Sura dengan tekad yang kuat terus berusaha menjebol pertahanan dari Teratai kehidupan.
Suara angin dan petir semakin keras, Maharsi Walamakya duduk bersila dengan tenang bersemedi beralaskan Awan tebal sambil tak henti membaca mantra.
Sangkala Sura terus berusaha dengan Petir Kematiannya menjebol pertahanan Maharsi Walamakya, Kuatnya Ajian Petir Kematian Sangkala Sura membuat Maharsi Walamakya harus bercucuran keringat pada seluruh tubuhnya.
" Jduaarr,"
" Jduaarr,"
" Jduaarr,"
Suara tiga kali ledakan menandakan akhir dari Adu kesaktian tersebut.
Kerusakan yang ditimbulkannya benar-benar parah bahkan Dinding karang dari air terjun harus jebol sehingga tidak ada lagi air terjun.
Air yang mengalir dari atas kini merembes turun mengikuti dinding karang yang rata tanpa memiliki ceruk.
Akhir dari pertarungan itu belum bisa ditentukan siapa yang menang karena tempat itu masih diselimuti asap tebal dan air yang mencuat keatas menutupi keduanya.
****** Bersambung......