Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.19 Ketakutan para Dewi



Setelah kedua Prabu itu pergi, suasana seketika hening, pertempuran pasukan antara kedua Kerajaan pun berhenti sejak rombongan Prabu Padmamurti datang, mereka melepaskan senjata masing-masing dan saling merangkul meminta maaf karena sebenarnya pertempuran itu terjadi karena keegoisan pemimpin mereka, namun kesedihan tidak bisa dihilangkan karena pertempuran itu merenggut banyak korban yang merupakan teman seperjuangan didalam Kerajaan.


" Eyang Maharsi Walamakya, apa pendapat Eyang karena sekarang Kerajaan Tirta Yukti dan Kerajaan Batu Angin telah kehilangan pemimpinnya walau untuk sementara," Kata Prabu Padmamurti kepada Sang Maharsi.


" Sebenarnya aku sudah tidak ingin untuk mencampuri urusan Kerajaan Prabu Padmamurti, tapi melihat kehancuran ini aku jadi iba, aku hanya bisa memberikan saran dan terserah mau digunakan atau tidak," Kata Sang Maharsi.


" Eyang, Dinegeri Kahyangan Sloka ini Eyang adalah panutan, maafkan kami jika selama ini tidak membuat hati Eyang berkenan," Prabu Padmamurti setelah berkata langsung bersujud dihadapan Maharsi dan diikuti semua rombongan begitu juga Prajurit yang tadinya berperang.


" Prabu Padmamurti dan semuanya, bangunlah," perintah Sang Maharsi langsung dituruti oleh semua Dewa-Dewi.


" Dengarkan kata-kataku, cepat atau lambat Negeri Kahyangan Sloka akan terjadi kekacauan disebabkan oleh Raja Iblis karena dendam, aku ingin kerajaan Tirta Yukti dan Kerajaan Batu Angin kembali berdamai seperti sebelumnya, menurutku untuk sementara kedua Kerajaan itu dipimpin oleh masing-masing Ratunya yaitu Dewi Palmasari dan Dewi Kanawa, aku rasa mereka mampu untuk memimpin, untuk melindungi Negeri Kahyangan Sloka dari amukan Raja Iblis segera adakan Upacara Ritual pemanggilan Dewa tertinggi yaitu Sanghyang Siwa, itulah pendapatku namun jika tidak ada yang kurang berkenan silahkan diutarakan pendapatnya," Maharsi berbicara dengan nada yang halus dan berwibawa semua yang mendengarkan tanpa ada yang bersuara.


" Eyang Maharsi, terimakasih atas sarannya kami pasti akan melaksanakan saran Eyang," Prabu Padmamurti merasa lega karena saran Sang Maharsi Sangat tepat, Ucapan Sang Prabu Padmamurti dianggukkan juga oleh yang lainnya.


Setelah pembicaraan itu selesai Prabu Padmamurti mengajak semua rombongan untuk kembali kekediaman masing-masing.


" Eyang marilah ikut denganku ke Pusarloka, aku akan melayani Eyang melebihi diriku sendiri dan juga aku butuh pencerahan dari Eyang," Prabu Padmamurti sebelum beranjak Dia mengajak Maharsi untuk bertandang Keistananya.


" Padmamurti sebelumnya aku minta maaf karena kali ini saya tidak bisa memenuhi Undanganmu, mungkin lain kali karena ada hal lain yang aku urus," kata Maharsi Dewa Sujana.


Semua rombongan itu pergi termasuk para Prajurit yang tadinya ikut berperang hanya Duabelas Putri dan permaisuri Dewi Palmasari yang belum beranjak bersama Maharsi Walamakya.


" Eyang Maharsi, kenapa perasaanku mengatakan kalau kekacauan itu tidak lama lagi," Dewi Sulasih memulai percakapan memecahkan keheningan.


" Eyang Maharsi, kenapa Eyang memintaku untuk memimpin Kerajaan Batu Angin sementara kekacauan sebentar lagi," Permaisuri Dewi Palmasari menimpali sambil meneteskan airmata karena Dia teringat akan Suaminya yang menjalani hukuman.


" Eyang Maharsi, seberapa kuat Raja Iblis Sangkala Sura sehingga terasa sangat menakutkan bagi Negeri Kahyangan Sloka," Dewi Ambarwati pun mengeluarkan isi hatinya.


Setelah mendengar semua pertanyaan dari para Dewi, Maharsi Walamakya memandang keseluruh penjuru dengan mata sayu namun Beliau tersenyum ketika memandang kearah semua para Dewi.


" Kalian jangan berpikir buruk, semua yang terjadi sudah menjadi kehendak Ida Sanghyang Widhi Wasa segala sesuatu pasti ada timbal baliknya, Dewi Palmasari Tahta tidak boleh kosong, dan Sangkala Sura memang kuat, karena Dia mendapatkan Anugerah dari Mahadewa karena Tapanya selama Seratus Tahun yang hebat tapi dia tidak memiliki dasar Dharma maka kekuatannya akan dikalahkan oleh Dharma," Maharsi Walamakya menjelaskan dengan panjang lebar sehingga semua para Dewi manggut-manggut tanda mengerti.


" Sekarang aku paham Eyang, itu berarti Eyang Maharsi mampu mengalahkannya," Ucapan Dewi Sulasih membuat para Dewi tersenyum penuh harapan.


" Sulasih, hanya Sanghyang Tunggallah yang mampu menentukan semuanya, bahkan seekor Semut mampu membunuh seekor Gajah," Sang Maharsi Walamakya berbicara sambil mengelus kepala Dewi Sulasih sebagai bentuk rasa sayang antara Murid dan Guru.


Kata-kata terakhir Maharsi Walamakya kembali membuat para Dewi kebingungan karena tidak mengerti, melihat hal itu Maharsi Walamakya mengajak para Dewi kembali Ke Istana.