Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch.37 Kehancuran Kerajaan Pusarloka



Semua Prajurit yang ada disana mulai menyerang melihat Panglimanya di perlakukan seperti itu, tanpa adanya komando.


Suara teriakan Ribuan Prajurit memenuhi seluruh bagian Istana Pusarloka, berbagai macam senjata, pedang, keris dan tombak dihunuskan hanya untuk membunuh satu sosok mahluk yang digadang-gadangkan akan menghancurkan Dunia Kahyangan Sloka.


" Heeeaaattt," Suara lantang dari para Prajurit, dalam sekejap para Prajurit menyerang dari berbagai sisi, ada yang menyerang dari Udara dengan cara terbang, ada yang mengendarai Awan dan ada juga mengendarai Burung Rajawali Kahyangan, penyerangan didarat juga Ribuan para Prajurit membentuk formasi penyerangan.


Melihat hal itu Sangkala Sura hanya tersenyum, Dia mulai membaca mantra dengan kedua tangannya disatukan kedepan.


Maka seketika muncullah sebuah lingkaran asap hitam tebal sebesar kepalan tangan yang lama-kelamaan membesar menyerupai Goa berputar-putar.


Para Prajurit dengan gagah berani secara bersamaan mendekati Sangkala Sura, namun sangat disayangkan para Prajurit itu harus tersedot masuk kedalam lingkaran hitam tanpa bisa melawan.


Tak ada yang mampu memberikan pertolongan semua tersedot bahkan banyak para petinggi Kerajaan yang menjadi korban.


Prabu Padmamurti dan Dang Acarya yang sudah berada sejak tadi melihat hal itu menjadi geram, Beliau pun tidak tega melihat Prajuritnya yang mati sia-sia, Beliau pun beranjak dari tempatnya ingin melawan Sangkala Sura namun dicegah oleh Dang Acarya.


" Ampun Gusti Prabu, Hamba bukannya melarang Gusti Prabu untuk menolong para Prajurit itu, tapi lihatlah sepertinya kita hanya melakukan hal sia-sia melihat kesaktian yang dimiliki oleh Sangkala Sura," Dang Acarya mencoba memberikan saran kepada Sang Prabu yang sudah dikuasai emosi.


" Tapi lihatlah Paman, apakah aku harus berdiam diri melihat para Prajuritku yang selama ini mengabdi dengan tulus kepadaku harus mati dengan cara seperti itu," Kata Sang Prabu Padmamurti dengan wajah yang sedih.


" Gusti Prabu, Hamba berharap Gusti mampu mengendalikan emosi jangan sampai Gusti Prabu salah bertindak, karena Pusarloka masih sangat membutuhkan Gusti Prabu," Kata Dang Acarya dengan suara tuanya berharap mampu menyadarkan Gusti Prabu Padmamurti.


Melihat Sang Prabu Padmamurti bertekad kuat Dang Acarya merasa kehilangan akal, namun Dia terus berusaha membujuk Sang Prabu.


" Gusti Prabu Hamba mohon jangan lakukan itu, tidak akan ada yang mencemooh Gusti Prabu, namun jika Gusti Prabu tetap bersikeras biarlah hamba saja yang maju, jika Hamba mati maka tidak akan ada yang menghalangi Gusti Prabu," Dang Acarya usai berkata langsung melesat terbang menuju kebarisan pasukan.


Gusti Prabu akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa setelah penasehatnya mengambil keputusan.


Sangkala Sura dengan senyum liciknya terus menambahkan kekuatannya sehingga jarak sedotnya makin melebar, Prajurit yang tidak terkena efek tersebut lari tunggang langgang menyelamatkan diri.


Para Panglima, Senopati, Adipati, menteri bahkan Hulubalang menyatukan kekuatannya namun hasilnya nihil, semua tersedot seakan-akan lingkaran asap tersebut memiliki ruang tanpa batas.


Sangkala Sura tidak dapat dihentikan, akhirnya semua pasukan Pusarloka habis tersedot bahkan puing-puing bangunan Istana yang rusak ikut tersedot.


Kini Istana Pusarloka terlihat seperti Kerajaan mati, sunyi, sepi dan hening.


Bahkan Prabu Padmamurti dan keluarganya tidak diketahui rimbanya.


Sangkala Sura setelah melakukan kehancuran, tertawa senang.


" Hahahaha, menyenangkan sekali melakukan hal ini, sudah lama hal ini tidak aku lakukan, rasanya seperti aku lahir kembali," Sangkala Sura setelah berkata langsung menghilang.