Mustika Dewi Kahyangan

Mustika Dewi Kahyangan
Ch. 31 Kesedihan Maharsi Walamakya



Dewi Sulasih menarik kembali selendangnya, kemudian dia menyerang lagi, selendang itu yang semula lentur tiba-tiba menjadi kaku dan tajam, selendang itu mengarah ke leher Sangkala Sura.


" Sreettt,"


Terdengar bunyi ketika Selendang itu hampir mengenai leher Sangkala Sura, dengan sedikit memiringkan wajahnya Sangkala Sura lolos dari tamparan Selendang tersebut.


Namun sial bagi Sangkala Sura meski lolos dari serangan Dewi Sulasih ternyata serangan-serangan dari Dewi lainnya tidak dapat dihindarkan, kini Sangkala Sura harus menahan sakit dibeberapa bagian tubuhnya.


Melihat Sangkala Sura meringis menahan sakit para Dewi semakin gencar memberikan serangan, selendang- selendang itu meliuk-liuk mencari sasaran sesuai keinginan pemiliknya.


Sangkala Sura mendapatkan serangan susul-menyusul bagai air bah merasa kerepotan dia harus menghindar, melompat kesamping, meloncat keatas bahkan salto agar tidak terkena Sambaran selendang yang berbahaya.


" Kurang ajar, mereka benar-benar memaksaku untuk melakukan tindakan yang tidak kuinginkan," Bathin Sangkala Sura.


" Hupp, hiat,"


Suara-suara pertarungan dari Keduabelas Dewi membuat kebisingan hingga banyak Prajurit Istana yang berdatangan termasuk Gusti Ratu Dewi Palmasari.


" Gusti Putri, sebaiknya serahkan dia pada kami, biarkan kami yang menghadapinya," seru salah satu Senopati yang bernama Dewa Sri Karnapati.


Mendengar hal itu para Dewi semua menyingkir.


" Paman, baiklah tapi Paman harus berhati-hati karena dia sangat kuat, dari tadi kami belum bisa melukainya secara serius," Dewi Sulasih memperingati Senopatinya.


" Jangan khawatir Gusti Putri, kami akan berusaha," jawab Senopati Karnapati.


Setelah memberikan Sembah Senopati Karnapati dan Senopati lainnya serta dibantu para prajurit menyerbu Sangkala Sura.


" Hahahaha memang merepotkan melawan kalian tapi aku bukan lawan yang bisa kalian kalahkan, dan lihatlah bagaimana aku akan menghancurkan semua isi Istana ini, hahahaha," Sambil tertawa Sangkala Sura membaca mantra memanggil senjata andalannya yaitu Trisula Dasasukma yang artinya senjata trisula tersebut memiliki sepuluh jiwa.


Para Senopati masing-masing memimpin Prajurit yang dibawahinya. melihat Ribuan para Prajurit menyerang Sangkala Sura menancapkan Trisula didepannya.


Api tiba-tiba menjalari Trisula tersebut semakin lama semakin besar, kemudian Sangkala Sura merapalkan mantra Ajian Bayu Samudera.


Angin berhembus kencang dari tangan Sangkala Sura dan terus menuju Trisula kemudian mendorong Api-api yang ada pada Trisula.


Api-api yang terdorong seketika terlepas dari Trisula tersebut lalu menyebar mencari sasaran, semakin kencang angin semakin banyak Api-api yang terlepas mencari sasaran.


Api-api itu tiada henti membuat keonaran hingga banyak Prajurit yang harus kehilangan nyawanya.


Banyaknya Api-api itu bagai letusan Gunung berapi yang mengeluarkan lahar membuat para Senopati dan Prajurit belum ada yang mampu menyerang Sangkala Sura secara langsung karena disibukkan dengan serangan Api-api panas itu.


Para Dewi dan Gusti Ratu sudah pergi meninggalkan tempat itu mereka pergi ketempat Pemujaan untuk memohon perlindungan dari Sanghyang Bhatara.


******


Sementara itu Digoa Batu Ireng, Maharsi Walamakya masih bergelut dengan kegiatannya yaitu memberi asupan kekuatan kepada Pangeran Jayarudra yang berada didalam Permata Airmata.


Sudah Tujuh hari berlalu semenjak penyerangan Sangkala Sura Kekahyangan, Maharsi Walamakya belum bisa menyembuhkan luka Sang Pangeran, hanya saja kini tubuh dan wajah Sang Pangeran terlihat lebih bugar menandakan luka yang dideritanya sudah tidak parah lagi.


Sang Maharsi dengan keringat bercucuran tanpa menyerah terus melakukan penyembuhan terhadap Sang Pangeran.


Tiba-tiba konsentrasinya buyar sinar hijau dari tangannya yang menghubungkan kepermata Airmata lenyap, Sang Maharsi menghentikan kegiatannya.


" Rupanya kekacauan sudah dimulai, Sangkala Sura sudah melakukan kerusakan dimana-mana, aku tidak bisa berbuat apa-apa," Maharsi bergumam dengan kesedihan yang mendalam.


" Semoga Sanghyang Siwa berwelas asih," Maharsi terus bergumam.


" Aku harus bisa menyembuhkan Pangeran Jayarudra secepatnya sebelum Sangkala Sura membuat kekacauan lebih besar," kali ini Airmata Maharsi tidak dapat dibendung lagi setetes Airmatanya jatuh.


Melihat Airmatanya jatuh Maharsi menemukan ide untuk melakukan penyembuhan Pangeran Jayarudra, Dia membekukan Airmatanya yang jatuh kemudian dipungutnya.